Buku ‘Waste Not’ Mengupas Cara Hemat Mengolah Makanan

0
20
views

Apakabarkampus.com – Sampah makanan menjadi salah satu penyumbang gas rumah kaca yang memperparah pemanasan global. Organisasi kulinerpun sudah mulai mengkampanyekan penghematan bahan makanan agar lebih efisien.

Kemarau panjang yang melanda dunia disinyalir disebabkan oleh pemanasan global. Isu ini semakin hangat diperbincangakan yang disinyalir menyebabkan perubahan iklim yang drastis. Natural Resource Defence Council mendefinisikan pemanasan global (global warming) sebagai peningkatan suhu rata – rata permukaan bumi akibat konsentrasi gas rumah kaca yang berlebih.

Pemanasan global tidak lepas dari pencemaran udara yang identik dengan asap kendaraan , rokok dan limbah gas pabrik.  Namun ternyata kebiasaan makan yang buruk dan efek sisa makan yang dibuang juga ikut menyumbangkan miliaran metric ton gas rumah kaca dan membuang sumber daya air tawar bumi.

James Beard Foundation, sebuah organisasi seni kuiner yang berbasis di New York, Amerika memberikan solusi cara pengolahan makan yang dapat meminimalisir sampah sisa makanan.

Dilansir dari The Washinton Post, di bawah pimpinan Clare Reinchenbach , ingin menggunakan platform nasionalnya untuk meningkatkan kesadaran dan membantu koki professional dan koki rumahan memerangi masalah produksi, pasokan dan konsumen yang kompleks yang setiap tahun menghasilkan  limbah sekitar  sepertiga dari manakan yang ada di dunia.

Yayasan  tersebut telah merilis buku masak baru “Waste Not”  yang menampilkan kiat  dan resep yang digunakan koki menggunakan sayuran utuh atau sisa. Selain itu mereka juga telah meluncurkan  promosi “Waste Not Wednesday”  atau tanpa sampah di hari rabu untuk mendorong  konsumen mengelolah makanan rumah tangga mereka dengan baik.

Secara teori, menurut catatan organisasi terebut, jika warga amerika menghilangkan sampah makanan sehari dalam seminggu. Dalam setahun penuh bisa menghemat  7,8 ton makanan, cukup untuk menyediakan 13 miliar makanan untuk orang kelaparan.

Bagaimana  cara makanan rumahan dapat membantu mengurangi pemborosan?

Colicchio, Reichenbach dan chef yang berkontribusi dalam buku “Waste Not” memberikan beberapa tips:

  • Manfaatkan Kulkas

Chicchio menyarankan jika anda memanggang ayam, tulangnya simpan di dalam kulkas. Jika sudah terkumpul cukup, anda bisa membuat kaldu ayam yang baik untuk sup , risotto, rebus dan lainnya. Hal ini juga bisa mengurangi penggunaan kaldu buatan sehingga dapat menghemat pegeluaran.

  • Simpan buah – buahan dalam kulkas sebelum berubah.

Meletakan buah – buahan dalam loyang atau piring tanpa ditutup dan membekukannya dalam semalam. Jika sudah beku pindakan ke dalam kantong yang memiliki tutup.

  • Lebih dekat dengan sumber makanan

Cilicchio mengenang kehidupan kakek dan neneknya. Mereka adalah generasi yang menghagai makanan. Kedekatan mereka dengan beberapa penjual membuat mereka mendatangi langsung penjual daging atau penjual sayur. Hal ini menjadikan mereka menghargai makan yang mereka beli.

“Manusia berpotensi membuang makan karena merek tidak mengenal orang tersebut, jadi tidak menghargai pekerjaan orang. Inilah yang ingin saya dorong kepada masyarakat. Datanglah ke sana dan kenali orang yang memproduksi makanan tersebut,” ujar Cilicchio pada The Washintong Post.

Jika amerika sangat memperhatikan penggunaan makanan yang efisien, harusnya sebagai Indonesia juga menjadikan ini refersensi untuk lebih memperhatikan penggunaan makanan. Apalagi dengan bencana yang terus melanda negeri ini, sepantasnya jika denga mengurangi pembuangan sebagai sampah makan sehingga dapat disalurkan kepada orang yang lebih  membutuhkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here