Gawai Tanpa Batasan Konten, Gawat!!!

0
63
views

Apakabarkampus.com – OPINI MAHASISWA – Gawai tanpa batasan konten, Gawat !

Saat ini berkali-kali kita dihenyakkan dengan berbagai fakta dan data miris terkait dampak sebuah media.

Setelah ditemukannya grup Facebook Gay yang diikuti oleh siswa SMP dan SMA, kini ditambah dengan pemberitaan tentang grup WhatsApp berisikan pembahasaan tidak senonoh, berbagi video porno, hingga ajakan berbuat asusila, siapa anggota grupnya? Adalah para siswa dan siswi kelas IX dari salah satu SMP di Cikarang Selatan (Pikiranrakyat.com,03/10/2018).

Belum berhenti sampai di situ, kejadian lebih parah terdengar dari pelajar Lampung. Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung Dwi Hafsah Handayani mengungkap temuan mengejutkan di mana satu SMP di Lampung, ada 12 siswi yang hamil. Terdiri dari kelas VII, VIII, IX. (Tribunnews.com 2/10/2018).

Rupanya hal itu akibat setelah melihat tontonan tak senonoh di Internet.

Fenomena gunung es di depan mata. Apa yang terlihat rupanya belum sebanding dengan yang tersimpan jauh di dasar sana. kecuali ketika data telah berbicara dan fakta telah terbuka.

Tentu kita masih ingat dengan kasus-kasus serupa sebelumnya, begitu banyak generasi yang terpapar pornografi, sebab mudahnya situs ini untuk dijelajahi. Buka handphone, sambung internet. Pornography is on the way.

Lihat pula berbagai game yang beredar, semakin menyandera generasi untuk lupa waktu, terus didesign sedemikian rupa, membuat candu. Dengan konten tak mendidik, yang penuh dengan gambar bahkan tontonan tak senonoh.

Kini film-film diproduksi seolah tanpa kendali. Menampilkan adegan dewasa, siapa saja dapat menikmati, alhasil generasi mulai latah mengikuti. Pembahasan dan pikiran mulai terkotori, sehingga ketika hasrat tak terbendung lagi, dan tanpa ajaran agama yang memadai, generasi sering kebablasan dalam kasus-kasus mengerikan.

Media, merupakan pisau bermata dua. Sejatinya, media memang tak seutuhnya berwujud wadah yang menjijikkan. Bahkan ia sangat mempermudah aktivitas di era globalisasi saat ini.

Namun di sisi lain, dapat meluluhlantakkan segala bangunan yang ada pada diri manusia. Utamanya menghancurkan kepribadian yang bermoral menjadi amoral.

Kita pun mesti jeli melihat masalah. Ini bukanlah sebab hadirnya sebuah media. Melainkan konten wara-wiri tak mendidik, itulah pangkal persoalannya.

Telah kita lihat bersama seperti apa dan bagaimana isinya, dan ini sudah cukup memberi gambaran akan kentalnya nuansa sekulerisme serta paham kebebasan yang berbahaya di tengah-tengah masyarakat saat ini.

Maka semua menjadi serba bebas. Dengan dalih kebebasan tuk berekspresi, aturan agama pun tak diindahkan lagi. Tak peduli dampak dari konten yang dijajakan membangun atau tidak, asal profit dapat diraup dengan matang.

Tak lagi mempertimbangkan mana halal dan haram, mana membangun dan mana yang merusak generasi, semuanya tetap hantam rata.

Film-film menjijikkan itu terus diproduksi, apalagi jika peminatnya makin banyak.

Maka dari sini kita perlu belajar dan menyadari, bahwa memutuskan barisan penjajahan amoral serta meretas jeratan malapetaka sudah jelas keharusannya.

Lebih dari itu, kita pun harus mengerti, bahwa sesuatu yang melampaui batas, tak akan pernah berakhir dengan baik.

Demikian pula kehidupan ini. manusia, sejatinya akan hidup tenteram jika ada batas-batas yang ditaati dengan ikhlas. Dan yang tahu mana batas baik dan buruk untuk manusia hanyalah sang pencipta. Bukan diri kita sendiri.

Apalah daya akal manusia yang terbatas. Sebagai muslim, kita wajib percaya bahwa ada batasan yang telah digariskan Allah, agar manusia selamat dari naluri-naluri yang membelenggu jika diikuti dengan liarnya.

Maka Aturan-Nya diturunkan, bukan untuk mengekang atau membebaskan, melainkan mengarahkan agar hidup selayaknya manusia. Termasuk dalam hal-hal kecil seperti media.

Tetapi ketika manusia benar-benar angkuh tak memperdulikan arahan agama, malapetaka di depan mata. Sebab tujan hanyalah dunia, mendulang materi, dan kesenangan semu.

Sementara Islam memprioritaskan media sebagai sarana penanaman akidah yang benar serta ladang untuk beramar makruf nahi mungkar. Pun media juga harus menjadi wadah informasi yang mencerdaskan.

Sehingga kehati-hatiannya sangat terjaga. Batasan-batasan agar tidak melanggar syariat agama pun akan diindahkan.

Tentu kita semua mendambakan sebuah regulasi yang baik, sistem yang menjaga kehormatan setiap manusia yang hidup di muka bumi ini dengan hak.

Jika melihat masalah generasi rusak saat ini sebagai problem yang serius, maka mari peduli pada perbaikan sistem yang akan menjadi cahaya di tengah gelapnya pandangan umat saat ini.

Sistem yang benar hanya akan didapatkan dari keridhaan pencipta alam semesta. Sebagaimana kita telah dianjurkan untuk berpedoman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan hanya dengan kitab itulah kebenaran dapat ditegakkan dan kebatilan dapat ditumpas di segala lini kehidupan.

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus (Qs. Al-Maidah : 16).(*)

Penulis : Arinda Nurul Widyaningrum (Sekretaris FLP Ranting UIN Alauddin Makassar)

Editor : Adji

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here