Beginilah Sang Penghapal

0
24
views

Oleh: Khaeriyah Nasruddin
– Anggota Forum Lingkar Pena Cabang Pinrang
– Mahasiswi UIN Alauddin Makassar, Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam

Judul: Jodohku Hapal Qur’an
Penulis: Rizki Ayu Amaliah
Penerbit: Quanta Cetakan: Pertama, 2018 Tebal: 144 halaman ISBN: 978-602-04-5391-0

Akhlakmu sopan, tuturmu santun. Shalat dan puasamu rutin. Hafalanmu mendapat keberkahan. Wahai penghafal Qur’an, engkau adalah orang yang layak mendapat iri secara benar. (hal. 68).

Al-Qur’an merupakan buku petunjuk umat Islam. Membaca, mempelajari dan menghapalkannya jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang muslim. Sebagai mukjizat yang tak pernah terubah oleh zaman, Al-Qur’an menyimpan keistimewaan sehingga banyak berlomba-lomba ingin menghapalkannya. Salah satu motivasi terbesar menghapalkannya adalah mereka bisa dekat dengan ALLAH swt. dan berikut satu sabda Rasulullah.

“Bacalah Al-Qur’an sebab di hari kiamat nanti bisa memberi syafaat kepada pembacanya.” (hal 10).

Tidak hanya orang dewasa, anak-anak dengan umur masih belia turut berbaris untuk menjadi penghapalnya. Sebut saja Musa, Alana dan Ahmad, anak-anak hebat yang berhasil menyentuh dan membuat orang berdecak kagum kepadanya.

Ahmad seorang yatim di usia belia, kehilangan figur seorang ayah tak mengerdilkan mimpinya menjadi hafidz. Lain lagi Alana, anak usia 7 tahun dengan keterbatasan fisik tampil berani di layar kaca, membuktikan bahwa kekurangan fisik bukan mengurangi nilainya dalam meraih mimpinya menjadi hafidzah. (hal 38).

Tak boleh dilupakan pula sosok satu sahabat yang namanya harum karena bacaan dan pemahamannya tentang Al-Qur’an, Abdullah bin Mas’ud. Ketika orang-orang tertawa karena melihat betisnya yang kecil, Rasulullah bersabda, “Wallahi (Demi ALLAH) Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya kedua betisnya lebih berat dari gunung uhud dalam timbangan amal di akhirat kelak.” (hal 39).

Menjadi penghapal Qur’an adalah sebuah keistimewaan, karena dia mendapat kemuliaan di sisi ALLAH dan juga mendapat tempat baik dalam masyarakat.

Betapa banyak orang-orang membutuhkan kehadirannya. ALLAH pun tanpa tanggung-tanggung memberi pahala kepada mereka yang mengajarkan Al-Qur’an. Sebab, kebaikan Al-Qur’an tidak hanya memancari para penghapalnya tetapi juga bagi orang yang membaca, mendengarkan dan mengajarkannya.

Al-Qur’an tidak sebatas dihafalkan agar menjadi kebanggaan tersendiri, tetapi juga untuk diamalkan dan diajarkan kepada orang-orang sekitar, inilah tugas bagi para penghapal Qur’an.

“Al-Qur’an menjadikanmu manusia mulia, masjid menjadi tempat sujudmu, malam saksi tahajjudmu dan puasa sebagai perisaimu, tapi bagaimana dengan sekelilingmu, apa mereka hanya menjadi penonton kesalehanmu? Jadilah seperti pohon kelapa yang orang-orang bisa menuai manfaat darinya.” (hal 73).

Buku ini makin dipermanis dengan kehadiran beberapa cerita di dalamnya, seperti pertemuan mendebarkan, bagaimana seorang pemuda penghapal Qur’an bertandang ke rumah perempuan yang memikat hatinya untuk melamar dan memintanya langsung ke ayahnya.

Senada dengan cerita tadi, keluargamu, setelah itu, istrimu, kali ini tentang pemuda yang membicarakan mahar pernikahannya kepada calon mertua lelakinya. Apakah dia perlu menyetorkan hafalan Qur’annya sebagai maharnya nanti.

“Tugas engkau adalah menjadikan calon istrimu sebagai seorang penghafal sepertimu, agar ia juga bisa menghadiahkan hafalan itu untuk dirinya, untuk kedua orangtuanya dan juga untuk keluarga besarnya.” (hal 127).

Membaca buku ini kita sedang menikmati kisah-kisah para penghafal di sekeliling penulis. Di samping dengan penyampaian yang sedeharna, buku ini sangat enak untuk dinikmati. Membacanya membuka mata kita bahwa seperti inilah sosok sang penghafal Qur’an yang kesehariannya disibukkan dengan menghapal Al-Qur’an, berjodoh dengan mereka berarti siap untuk diduakan dengan Al-Qur’an dan dakwah.

Karena Al-Qur’an dan dakwah telah menjadi tujuan hidupnya yang pertama. “Kau tak perlu cemas, menggantungkan hidupmu di tangan lelaki yang bermodalkan Al-Qur’an. Ia tak mungkin menyakitimu apalagi menduakanmu. Ia tak mungkin acuh terhadapmu apalagi menelantarkanmu. Tak perlu ada yang kau cemaskan. Tipe-tipe pejuang sukses telah melekat dalam dirinya. Disiplin, istiqomah, tawaduk, berusaha, berdoa, ikhlas, jujur kesemuanya mereka punya. Sebab mereka tak mungkin bisa menghafal Qur’an jika tak memiliki semua sifat pejuang ini.” (hal 119).(*)

 

Editor:
Ma’arif Amiruddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here