Perang Melawan Radikalisme

0
28
views

Oleh: Asrul Tsani Al-Kautsar
Aktivitas Dakwah Kampus
Mahasiswa Teknik Sipil UMI

 

Radikal menurut KBBI yaitu:
1) Secara mendasar (smpai kepada prinsip); 2) Amat keras menuntut perubahan;
3) Maju dalam berpikir dan bertindak.

Secara istilah, radikal adalah sebuah istilah yang netral, dapat berubah konotasinya menjadi negatif jika istilah tersebut sering dikaitkan dengan hal-hal yang negatif. Dapat kita lihat sebenarnya radikal merupakan istilah yang positif dan menunjukkan sesuatu yang sifatnya berpegang teguh pada prinsip. Seperti istilah muslim radikal, kebanyakan kita akan mengartikan istilah ini sebagai orang Islam yang senang dengan kekerasan dan perang. Padahal arti sebenarnya adalah orang Islam yang melaksanakan ajaran agama seusai prinsip ajaran Islam yang penuh kedamaian.

Akan tetapi, kita sering menjumpai kata tersebut (radikal) yang dimana kata ini selalu menjadi bahan propoganda oleh pemerintah sebagai faham yang dapat mengancam, merongrong dan memecah belahkan NKRI.

Beberapa hari yang lalu, BIN (Bada Intelijen Nasional) sebelumnya menyebutkan ada 7 PTN di Indonesia terpapar paham radikalisme, dan 39% mahasiswa di 15 provinsi tertarik ajaran tersebut. (Kamis, 22 november 2018, sumber: metro tv).

Dan pada hari yang sama, kamis 22 november 2018 pukul: 17:13 WIB, Menristekdikti meminta seluruh rektor profilling dosen dan mahasiswa.

“Sebenarnya hal tersebut sudah dilakukan sejak 2017 lalu, tapi memang ditemukan ada beberapa mahasiswa dan dosen. Kita juga melakukan pembimbingan untuk dosen, tapi kalau mereka memilih merongrong NKRI, kita persilahkan keluar dari PNS-nya.” Kata Nasir di kantor Gubernur Jatim. (sumber: Metro TV).

Di sisi lain anggota komisi I DPR fraksi PDIP Charles Honoris mengatakan pernyataan BIN harus jadi alarm semua pihak soal radikalisme. BIN merilis data 41 masjid dilingkungan pemerintah yang terpapar radikalisme. Charles juga berharap pemerintah memerhatikan apa yang disampaikan BIN.

“Pengawasan harus diperketat pada seluruh unsur di dalam masyarakat yang terdata menjadi tempat penyebaran radikalisme, baik di rumah ibadah pemerintah, rumah ibadah lain yang ada di masyarakat, swasta, maupun lingkungan tempat tinggal masyarakat secara umum.” Kata Charles Honoris.

Wakil ketua komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily meminta BIN mengumumkan 50 daftar penceramah yang terpapar radikalisme. Pengumuman penting guna mengantisipasi penyebaran paham radikalisme dilingkungan masyarakat.

Sebelumnya jga pada selasa 20 november 2018. BIN mengklarifikasi pernyataan bahwa 41 dari 100 masjid kementerian dan lembaga terpapar dadikal. Namun, BIN mengatakan yang terpapar paham radikal bukanlah sarana ibadah seperti masjid, melainkan penceramah.

“Kalau masjidnya si nggak ada yang radikal, jadi penceramahnya.” kata jubir kepala BIN Wawan Hari purwanto di Restoran State, Pancoran.

Isu radikalisme akhir-akhir ini marak diperbincangkan di tengah konstelasi politik saat ini, kelompok yang diidentikkan radikal yaitu kelompok Islam yang memperjuangkan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah dan menentang ideologi barat sperti kapitalisme, leberilsme, sekularisme dan lain-lain. Dan juga para penceramah yang dengan lantang mendakwahkan salah satu ajaran Islam seperti kewajiban menegakkan Khilafah.

Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam sebagaimana shalat, puasa, zakat, haji, dan lainnya. Apatah lagi menegakkan Khilafah adalah wajib menurut syariah Islam. Bahkan Khilafah merupakan Tâj al-furûd (mahkota kewajiban). Pasalnya, tanpa Khilafah—sebagaimana saat ini—sebagian besar syariah Islam di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, pemerintahan, politik, politik luar negeri, hukum/peradilan, dan sebagainya, terabaikan.

Di bidang pendidikan, misalnya, negara menerapkan sistem pendidikan sekular. Di bidang ekonomi, negara menerapkan sistem ekonomi kapitalisme-neoliberal. Di bidang sosial, negara mengadopsi HAM Barat sehingga zina dan LGBT dibiarkan dan tidak dianggap kriminal.

Maka dari itu, sungguh aneh jika kemudian paham yang agung dalam Islam itu kemudian dianggap paham yang radikal dan paham yang dapat mengancam dan merongrong NKRI.

Apatah lagi isu radikalisme itu di propagandakan oleh pemerintah untuk menciptkan ketakutan terhadap kelompok Islam yang dituduh radikal. Dan juga dapat memunculkan umat Islam yang phobia terhadapa ajaran dalam agamanya sendiri.

Hal tersebut tak terlepas dari intervensi dari negara adidaya yaitu AS yang dimana pada masa kepimimpinan Donald Trump, proyek besar AS Global Wat on Terorism (GWOT) diperkirakan akan smakin besar. Sejak masa kampanyenya, Trump memang menjanjikan di antara program utamanya adalah meningkatkan upaya dalan memerangi terorisme. Trump juga lebih memperjelas target GWOT adalah gerakan Islam. Seperti yang di lansir oleh Washingtonshop.com, 22/05/2017.

Trump secara tegas melalui twitter menyatakan tentang adanya ancamam nyata dari ‘Radical Islamic Terorism‘. Karena itu, merut dia, perlu cepat untuk menghadapinya.

Istilah ‘Radical Islamic Terorism‘ ini merupakan frase yang sering d pakai Trump ketika menyinggung masalah terorisme. Misalnya pada saat pidato pelantikannya, Trump mengatakan bahwa ia akan memperkuat aliansi lama dan membentuk aliansi baru serta menyatukan dunia beradab melawan terorisme Islam radikal.

Secara arogan dia juga menyatakan akan membasmi terorisme Islam radikal secara menyeluruh dari muka bumi.

Sudah saatnya umat Islam menyadari propaganda busuk tersebut, dan segera bangkit dan bersatu berjuang dalam menegakkan syariat ALLAH dalam bingkai Khilafah ‘Ala Manhaj An-Nubuwwah sebagaimana yang telah ALLAH janjikan melaluli lisan Rasulullah SAW. yaitu “Akan terulang kembali periode Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).

 

Editor:
Ma’arif Amiruddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here