Kembalikan Perisai Umat Islam.

0
139
views

Apakabarkampus.com – OPINI MAHASISWA – Derita kaum muslimin hari ini terus membuat hati umat Islam diguyur kesakitan.

Bagaimana tidak, sudah ratusan ribu korban meninggal, pembakaran yang tidak hanya membakar rumah ataupun mesjid tetapi juga manusia, setelah sebelumnya mereka disiksa, hak-haknya dirampas, perempuan-perempuan diperkosa dan anak-anak tak bersalah dibunuh secara sadis.

Maka tak salah bila dunia akhirnya membuat tangisannya menjadi hujan. Kondisi kaum muslim yang kita saksikan hari ini melalui media sosial, bukan lagi sebuah film yang biasa ditonton, penyiksaan mereka nyata dialami dan bukan rekaan.

Bom dan rudal berjatuhan dari langit, darah jangan ditanyakan lagi berapa banyak yang tertumpah setiap detiknya. Wilayah seperti Palestina, Yaman, Suriah, Uighur di china, kemudian Rohingya dan Burma, sudah tak asing lagi di telinga kita.

Konflik terus terjadi tak ada habisnya, musuh-musuh Islam sangat beringas menghabisinya, seolah muslim di sana tidak boleh memiliki tempat untuk tinggal di tanah itu.

“Mereka menyeret Abu Bakr ketika dia berusaha naik truk, kemudian mulai memukulinya dan dia masih hidup saat mereka melemparkannya ke api. Ia kembali berdiri, kemudian mereka menusuk perutnya dengan pedang, mereka memutar pedangnya padahal pedang itu masih tertancap di tubuhnya.” Ujar Noor Bi. (VoaIslam, 21/07/13).

Menurut David Beasley, direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP), mengeluarkan peringatan bahwa negara itu (baca: Yaman) terancam bencana kemanusiaan terburuk di dunia selama tempo 100 tahun terakhir.

Peringatan pimpinan WFP itu dilandasi data yang menunjukkan jumlah warga yang berada di ambang kelaparan diperkirakan mencapai 12-14 juta jiwa atau hampir 50% dari total penduduk Yaman. (BBC Indonesia, 16/11/18)

Demikianlah beberapa deretan dari kian banyaknya permasalahan yang dialami kaum muslim saat ini, tak terbayangkan betapa besar kesakitan yang mereka alami, bukan hanya fisik tapi batin, bukan hanya orang dewasa tapi juga bayi yang belum mengerti apa-apa.

Lantas, ke mana orang-orang yang seringkali meneriakkan perdamaian? Ke mana negara yang gencar menggaungkan kebebasan individu agar memenuhi hak-hak kemanusian? Semuanya bungkam, tindakan barbar zaman modern ini mendadak mengubah mereka jadi patung.

Bantuan berupa obat-obatan, makanan-minuman dan pakaian mengalir deras sementara rumah sakit-rumah sakit subur bertumbuh dengan harapan rumah sakit tersebut mampu menjadi jembatan untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai.

Pun deretan orang yang masih peduli menjamur mengutuk aksi biadab itu, kaum muslim di belahan dunia lain turun tangan dengan melahirkan aksi positif demi membantu saudaranya.

Sudah banyak pintu dilalui demi menyelesaikan konflik ini, mendudukkan pihak bertikai dalam ruangan, bahkan membawanya ke meja pengadilan internasional. Namun sayangnya jalan-jalan itu tak menemui ujungnya, bahkan Dewan Keamanan PBB yang bertugas menciptakan keamanan dan perdamaian dunia tidak mampu menghentikan.

Pertanyaan besar muncul dalam benak penulis, harus berapa lama lagi kaum muslim hidup dalam penindasan? Apakah harus menghabiskan waktu selama sepuluh tahun, belasan bahkan ribuan tahun? Berapa banyak lagi setoran daran dan korban dibutuhkan agar kereta perdamaian untuk mereka benar-benar tiba? Kaum muslim merindukan kebebasan, merindukan cepat-cepat keluar dari penderitaan, mereka tidak hanya sekadar butuh penyelesaian kesehatan, sandang-pangan, melainkan melalui segala bidang, terutama keamanan tempat tinggal di tanah sendiri.

Kaum muslim butuh dikembalikan perisainya, Khilafah Islamiyah. Hilangnya perisai kaum muslim ini, menyebabkan mereka terus tertindas dan bebas diperlakukan apa saja oleh kaum barbar zaman modern.

Lihatlah, ketika perisai Islam masih ada tak ada seorang pun berani melecehkannya, sangat masyhur dalam sejarah saat kegemilangan Islam.

Sosok Al’Mu’tashim Billah sebagai khalifah mengerahkan tentarannya demi menyelamatkan seorang wanita. Padahal wanita tersebut hanya diganggu oleh sekelompok orang Romawi, gamisnya dikaitkan pada paku sehingga ketika berdiri betisnya terlihat. Wanita itu lalu berteriak dan didengar oleh Al-Mu’tashim Billah. Lantas, apa yang terjadi dengan menolong perempuan tersebut? Kota Ammuriah berhasil ditaklukkan pada 13 Agustus 833 M.

Kini tangis dan teriakan pertolongan kaum muslim kepada penguasa-penguasa di seluruh dunia terus menggema, tetapi sampai detik ini, pertolongan itu belum juga datang.

Jangan tanyakan ada berapa jumlah anak-anak dan wanita meminta pertolongan, sudah tentu tak terhitung, bukan? Dan fakta banyaknya jumlah umat Islam, tidak mampu melepaskan penderitaan saudaranya di bagian bumi lain.

Karena itu bersatunya kaum muslim dan dikembalikannya perisai umat yang hilang, akan menjadi kekuatan besar bagi tubuh Islam. Dengan begitu tak ada lagi pengusiran, pertumpahan darah, pemerkosaan ataupun pembunuhan terhadap anak-anak. Dan tidak ada jalan lain selain mengembalikan perisai umat Islam yakni, Khilafah Islamiyah!(*)

Penulis : Khaeriyah Nasruddin (Salah satu anggota FLP Ranting UIN Alauddin Makassar. Dan mahasiswi UIN Alauddin Makassar)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here