Hari Guru Nasional dan Air Mata.

0
66
views

Apakabarkampus.com – OPINI MAHASISWA – Perayaan Hari Guru Nasional 25 November telah usai digelar. Antusiasme masyarakat  pun berbeda-beda, ada yang memilih jalan bersama gurunya, makan-makan, berfoto riah dan aktivitas lainnya.

Guru ibarat makanan, bisa menyehatkan juga bisa menyengsarakan (baca: bikin sakit). Tergantung dari jenis makanan yang dikonsumsinya sehari-hari. Jika makanan yang dikonsumsi kurang sehat, maka si anak tersebut tidak tumbuh dengan baik (baca: menimbulkan kelainan). Begitupun sebaliknya.

Maka, memperhatikan makanan si anak, juga sangat diperlukan demi perkembangan sang buah hati. Sama halnya dengan pendidikan. Jika si guru mengajarkan sesuatu yang salah ke muridnya, si murid (anak) tentu akan menjadi sosok yang lebih salah lagi dibanding gurunya.

Sebagai contoh ilustrasi ketika salah seorang anak diinstruksikan oleh orang tuanya untuk beribadah.

“Nak, pergiki’ sholat dan ngaji. Itu sudah adzan mi di masjid,” perintah orang tua ke anak.

“Kenapaki’ suruh-suruhka sholat dan ngaji mak, pak, sedangkan kita’ saja, na tidak pergiki’ sholat. Asik jaki’ dengan drama sinetronta’ dan caritata. Tidak adil  kalo begini,” jawaban sang anak terhadap perintah orang tuanya.

Sekalipun hanya ilustrasi, namun percakapan di atas  tentu sering kita dengar dan saksikan di pentas realitas kehidupan sehari-hari.

Menjadi sosok pendidik (baca: guru atau orang tua) memang tidak semudah pekerjaan lainnya. Profesi yang membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan ketulusan lebih. Sebagian sepakat jawabannya adalah guru.

Kita sering mendengar peribahasa “Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari.” Faktanya, seorang murid biasanya meniru apa yang dilakukan si guru. Dikatakan guru lah kelompok paling awal yang tahu potret masa depan bangsa Indonesia. Maka pembahasan tentang guru, takkan pernah ada habisnya menjadi buah bibir di masyarakat.

Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar ungkapan ini, “cara sebuah bangsa memperlakukan gurunya, adalah cerminan cara bangsa memperlakukan masa depannya.”

Persoalan yang dialami guru ternyata begitu memilukan, membuat kita merintih, teriris dan mencabik-cabik perasaan. Bagaimana tidak!  Misal, persoalan kesejahteraan, salah satunya gaji. Menjadi hal sensitif yang sejak dulu urung menemui titik terang.

Lebih khususnya dialami oleh guru honorer. Mereka mesti antre bertahun-tahun agar bisa diangkat menjadi PNS.

Berdasarkan laporan Education Efficiency Index. Indonesia termasuk negara yang kurang mengapresiasi guru. Dari 30 negara yang masuk survei tersebut, gaji guru di Swiss merupakan yang paling tinggi dengan nilai Rp 950 juta per tahun. Kemudian diikuti Belanda, Jerman, dan Belgia.

Lalu, di mana posisi Indonesia? Ternyata negara kita berada di urutan paling memprihatinkan dengan gaji Rp 39 juta per tahun.

Itulah nasib guru kita di Indonesia. Maka pantas saja, di setiap peringatan Hari Guru Nasional, senantiasa diwarnai dengan unjuk rasa guru dan air mata, perihal tuntutan kesejahteraan.

Mari merenung sejenak. Bagaimana mungkin seorang guru bisa mencerdaskan putra-putri orang lain. Sedangkan ia begitu kesulitan menyekolahkan anaknya sendiri ke jenjang pendidikan yang lebih layak.

Siapa yang tidak prihatin ketika ada guru honorer bertahun-tahun hanya digaji Rp. 200-300 per bulan? Apa ini masuk akal, tentu tidak? Sampai-sampai, muncul kelakar seperti ini: guru dibayar murah untuk mencerdaskan anak bangsa, sedangkan artis dibayar mahal untuk menodai anak bangsa. (Serasa ingin ketawa kecut, amat lucu dan kasihan pada Negeri ini).

Dari setumpuk kasus yang menimpa dunia pendidikan, ujung-ujungnya guru bisa dijadikan kambing hitam. Mereka harus menghadapi peserta didik yang berkubang dengan krisis moral, problem kurikulum yang belum selesai dan masalah ekonomi yang terus menghimpit.

Penulis tidak membela perilaku keji sang guru yah, karena bagaimana pun, tidak semua guru itu moralnya baik, ada juga yang kadang-kadang berlaku bejat. Walaupun begitu, masih banyak di luar sana pendidik tanpa pamri, yang luar biasa tapi belum diekspose dan butuh perhatian serius dari departemen terkait.

Carut-marut dunia pendidikan tidak lain disebabkan karena sistemnya berlandaskan pada sistem kapitalis sekuler. Pendidikan ala kapitalisme menghasilkan paradigma berpikir sekuler materialistis. Agama tidak menjadi acuan dalam kehidupan. Namun segalanya diukur dengan materi di antara untung-rugi.

Maka wajar pendidikan ala kapitalisme gagal mencetak generasi manusia dengan kepribadian yang baik dan berkarakter pemimpin, Justru yang terbentuk adalah manusia intelek tapi kosong nilai ruhiyahnya (baca: spirit kesadaran atas keterikatan kepada Tuhannya).

Akibatnya, guru hanya sekadar sebagai pekerja, dan menjadi tumbal demi melipat gandakan keuntungan negara. Inilah kenyataan pahit, karena kita hidup dalam sistem rusak yang menimbulkan banyak korban termasuk para guru.

Maka lain halnya dengan Islam. Ia memiliki cara pandang hidup khas yang datang dari sang Maha Pencipta.

Di dalam Islam, sitem pendidikan yang diterapkan adalah sistem yang berasal dari akidah Islam. Tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi yang selalu bertakwa kepada-Nya, dan dapat mencapai kehidupan bahagia dunia-akhirat.

“sesungguhnya aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyaat: 56).

Pendidikan Islam membentuk kepribadian dan tsaqafah yang Islami pada diri setiap muslim. Juga memandang mulia terhadap ilmu, tsaqofah, dan pendidikan itu sendiri. Apalagi teruntuk para pendidik, yang telah mencurahkan pemikiran, waktu dan tenaganya, untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan cerdas.

Sejarah telah mencatat bahwa guru mendapatkan penghargaan yang tinggi dari Negara termasuk pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dari al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 500 ribu, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 31.875.000). Nah,  coba kita bandingkan gaji guru sekarang?.

Maka sangat wajar orang dulu keren-keren, mampu menguasai berbagai ilmu pengetahuan (baca: masa kegemilangan Islam). Dibanding dengan sekarang, sebagian orang “hanya menjadi ‘sapi perah’ atau ‘kucing-kucingan’ yang hanya bisa me’ngeong’ dan mencuri ikan di dapur Negara” (Negeri ½, 2018 Hal: 61) (*).

Penulis : Ika Rini Puspita (Penulis Buku Negeri 1/2).

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here