Intelektual Muslim Hadapi Revolusi Industri 4.0

0
145
views

Apakabarkampus.com – OPINI MAHASISWA – Sejarah peradaban manusia memang selalu menarik untuk terus diselisik. Fenomena yang mengisi tiap persendian zaman, selalu ‘menggelitik’ apabila tak sesegera mungkin diteliti.

Rasa penasaran dalam diri manusia, terkadang melampaui garis batas ketakutan, apapun dilakukan, sekalipun menantang adrenalin.

Hal ini adalah sesuatu yang wajar, di dalam Islam, ini disebut sebagai ghariizah al-baqa’ (naluri mempertahankan diri). Naluri inilah yang kemudian mendorong manusia untuk terus berkembang, agar eksistensinya tetap terjaga serta merupakan titik awal, cikal bakal lahirnya berbagai macam penemuan hingga mengantarkan manusia pada Era Revolusi Industri 4.0 (RI 4.0) seperti sekarang ini.

Perubahan adalah suatu keniscayaan dalam kehidupan manusia, setiap penemuan yang mengantarkan pada perubahan erat kaitannya dengan para intelektual, tak terkecuali pada Revolusi Industri 4.0 (RI 4.0).

RI 4.0 merupakan perubahan secara cepat dan mendasar, ditandai dengan produksi yang diikuti perkembangan dan inovasi penemuan sebelumnya, lalu dikolaborasikan pada era digitalisasi dan komputerisasi yang berkembang pesat.

Singkatnya, RI 4.0 menghadirkan produk serba robotik, berbasis internet, komputasi, kendaraan otonom, percetakan level-3D, nanoteknologi-bioteknologi serta berbagai kemajuan teknologi lainnya hadir di tengah masyarakat.

Globalisasi RI 4.0 ini secara otomatis menuntut seluruh Civitas Academica kampus untuk berperan mencapainya. Sebagaimana pernyataan Bapak Andi Iqbal Burhanuddin, Dosen Ilmu Kelautan UNHAS, dalam tulisannya yang berjudul Inovasi Berbasis IPTEKS di Era Industri 4.0, menerangkan bahwasanya.

“Kesuksesan sebuah negara dalam menghadapi revolusi industri 4.0 erat kaitannya dengan inovasi yang diciptakan oleh sumber daya yang berkualitas, sehingga Perguruan Tinggi wajib dapat menjawab tantangan untuk menghadapi kemajuan teknologi dan persaingan dunia kerja di era globalisasi.”

Kaum intelektual terkhusus para mahasiswa, dituntut untuk bisa menjadi lokomotif atau pendorong bagi RI 4.0, menimbang dari keikut sertaan mahasiswa dengan berbagai penelitian yang dilakukan, apakah membawa manfaat bagi rakyat, atau justru hanya menguntungkan segelintir pengusaha para pemilik modal (Kapitalis)?

Sebab terbukti sistem kapitalisme hari ini menanamkan mindset komersialisasi ilmu, menjadikan ilmu tak lebih sebatas komoditas dagang penopang ekonomi.

Tuntutan Perguruan Tinggi agar mahasiswa berinovasi dalam bidang teknologi, jangan sampai hanya sebatas memuaskan intelektual serta melanggengkan neo imperialisme, sebab riset Perguruan Tinggi dinyatakan bernilai, hanya jika berhasil terjual ke dunia industri melalui konsep triple helix U-I-G (University-Industry-Government).

Pernah dengar tentang Dr Yogi Ahmad Erlangga? Ya, beliau adalah seorang ilmuwan asal Indonesia yang berhasil memecahkan Persamaan Helmholtz menggunakan matematika numerik secara cepat (robust). Metode yang ditemukan ini dapat menginterpretasi data pengukuran gelombang akustik yang bisa mempercepat memproses data sistemik untuk survei cadangan minyak bumi.

Dengan adanya penemuan ini, industri minyak dunia dapat menemukan ladang minyak 100 kali lebih cepat dari sebelumnya. Keberhasilannya memudahkan industri minyak dunia untuk memperoleh untung yang lebih besar dengan modal yang sedikit.

Sungguh sebuah penemuan yang luar biasa, tapi apakah dengan adanya penemuan tersebut menjadikan harga minyak murah? Jangankan murah, yang terjadi malah kenaikan harga minyak yang justru menyengsarakan rakyat.

Sudah terlalu banyak aksi yang kita saksikan dimana-mana terkait penuntutan agar harga minyak diturunkan.

Mahasiswa sendiri merupakan saksi, bahkan pelaku atas aksi tersebut. Wajar saja, yang mengelola adalah para kapitalis, maka orientasi penelitian yang dihasilkan para intelektual, hanya tertumpu pada asas manfaat, bukan untuk kemaslahatan rakyat.

Sebagai seorang Mahasiswa, berpikir sebelum bertindak, kritis terhadap setiap peristiwa merupakan bagian dari indikasi bahwa, Mahasiswa adalah kaum intelektual sebagaimana yang dilabelkan oleh masyarakat.

Di sinilah urgensi berpikir kritis untuk menyadari hakikat fakta di balik setiap kebijakan yang ada. Terlebih bagi seorang Mahasiswa Muslim sudah seharusnya memiliki kemampuan analisis mendalam yang senantiasa dikaitkan dengan IMTAQ bukan sekadar IPTEK semata, serta menyikapi segala sesuatu  didasarkan kepada hukum syara bukan sekadar mengukur dari segi manfaat.

Agar kemajuan teknologi ini membawa kemaslahatan baik dunia maupun akhirat, maka dibutuhkan pemahaman Islam dalam menyikapinya.

Hal ini hanya bisa diwujudkan apabila negara menerapkan sistem Islam yang akan mengarahkan segala potensi intelektual demi kemaslahatan rakyat, dan yang paling utama adalah semakin meningkatkan ketakwaan kepada Allah Azza Wa Jalla. Wallahu a’lam bish-shawab.

Mengutip salah satu hadits yang sudah sering kita dengar bahwasanya “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad). (*)

Penulis : Dayang Sari Ahmad ( Aktivis BMI Makassar).

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here