Mahasiswa dan Literasi Akhir Zaman.

0
119
views

Apakabarkampus.com – OPINI MAHASISWA – Mahasiswa adalah laskar pejuang untuk mengubah peradaban. Mereka adalah penggerak revolusi negeri ini, menjadi penerang bangsa dan negara dengan intelektualnya yang akhlaqul qarimah.

Untuk memperkaya intelektual mahasiswa, mereka membentuk suatu budaya yang disebut Literasi. Sebab, dari budaya literasi itulah muncul kemampuan untuk membaca dan menganalisis fenomena yang terjadi dalam masyarakat berbangsa dan bernegara, kemudian menggunakan rasionalitasnya untuk melahirkan solusi yang dituliskan sehingga lahirlah yang namanya Ilmu Pengetahuan.

Budaya literasi juga sangat ampuh dalam melakukan pergerakan untuk melawan kaum-kaum penindas yang hanya mencari keuntungan dan memuaskan nafsu serakahnya.

Dengan tulisan-tulisan yang menyayat hati dan menggugah jiwa, mampu membangkitkan semangat baja, untuk meruntuhkan kaum-kaum penindas. Begitulah pentingnya budaya literasi bagi mahasiswa yang akan menjadi Agen of Change dan social control.

Akan tetapi, fungsi mahasiswa kini berubah haluan, ketika memasuki era milenial yang dulunya sebagai penggerak perubahan kini menjadi budak-budak kapitalis. Sungguh sangat miris sekali kawan-kawan.

Apa yang menyebabkan musibah ini melanda mahasiswa sekarang?. Sejak masuknya era postmodern, mahasiswa mulai memunahkan Budaya Literasi dengan jarang membaca buku dan berdiskusi, serta kemalasan menuangkan ide dalam tulisan yang berbobot.

Kita bisa lihat beberapa statistik literasi di Indonesia. Menurut Programme for International Student Assessment (PISA) di tahun 2018, Indonesia menempati peringkat 64 dari 72 negara dalam persentase minat baca.

Yang lebih memalukan statistik dari The World Most Literate Nation Study menyatakan, Indonesia berada peringkat 60 dari 61 negara dalam minat baca. Sungguh sangat memprihatinkan.

Sejak berkembangnya teknologi dengan lahirnya gadget di masyarakat, khususnya mahasiswa. Sedikit demi sedikit budaya literasi ditinggalkan. Beberapa di antara mereka lebih tertarik menghabiskan waktu dengan kotak pintarnya dengan bermain game, update status yang kadang tidak jelas, dan bahkan hanya dijadikan alat untuk meyebarkan kebohongan demi mengejar popularitas.

Terkhususnya ketika game Mobile Legend hadir dalam kotak tipis pintar itu, mahasiswa rela begadang sesuntuk malam, hanya mengejar sesuatu yang maya. Bahkan hubungan sosialnya rusak karena mereka lebih fokus untuk memainkan game tersebut ketimbang melakukan diskusi dan advokasi.

Bahkan di kampus sudah jarang ditemukan sekumpulan orang yang membahas buku, ilmu atau isu-isu yang sedang berkembang. Mereka hanya berkumpul untuk bermain game. Bahkan mereka gemar mengeluarkan kata-kata kotor dan busuk hanya karena gagal dalam memainkan gamenya.

Tidak hanya itu, mahasiswa sekarang lebih suka menghabiskan waktu di tempat lain untuk hal-hal yang tidak terlalu berguna ketimbang di kampus. Seperti; di Mall, tempat karoke, dan tempat-tempat lainnya yang tidak terlalu mendukung perkembangan intelektualnya. Ini sungguh sangat memilukan hati.

Lantas siapa yang patut disalahkan?, Pengaruh teknologi dan budaya pop atau kita sebagai mahasiswa yang tidak cerdas mengendalikan diri dan juga mengadvokasi teman-teman.

Di mana Mahasiswa yang kaya intelektual itu, di mana mahasiswa agen of change, di mana mahasiswa penggerak revolusi, di mana mahasiswa perubah peradaban yang maju, di mana mahasiswa yang mencintai literasi?. ‘Engkau telah gugur bak daun yang ditiup angin’.

Kami merindukan sosok mahasiswa pecinta literasi akhir zaman, yang kukuh terhadap intelektualismenya, sadar akan penderitaan masyarakat dan berusaha untuk mengubah negeri ini jauh lebih maju lagi.

Sudah terbukti apa yang dikatakan Pram. “Selama mereka tidak menulis, mereka akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.(*)

Penulis : Al Irsyad Amin (Mahasiswa Bahasa Inggris, Fak Bahasa dan Sastra UNM & Anggota Pecandu Aksara Makassar)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here