Benang Merah HIV/AIDS.

0
51
views

Apakabarkampus.com – OPINI MAHASISWA – Apa yang terpikirkan ketika mendengar penyakit HIV/AIDS? Atau, Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

Kebanyakan dari kita tentu merasakan was-was bukan? Adalah sebuah kewajaran ketika seseorang khawatir dengan penyakit ini.

Meskipun HIV/AIDS tidak akan menular hanya karena menghirup udara yang sama, melalui sentuhan, air mata, keringat atau ludah, tetapi akibat yang ditimbulkan seringkali berujung pada kematian.

Jarang menemui titik kesembuhan prima. Jika bertahan hidup pun, terkadang ODHA sulit menerima pengakuan sosial di tengah-tengah masyarakat, serta masih banyak kerugian lainnya yang akan ditanggung.

Berat bukan? Sayangnya, meski demikian, peningkatan pengidapnya justru kian melambung tinggi. Berkali-kali judul-judul berita mengagetkan kita akan informasi merebaknya pengidap HIV/AIDS.
Sebut saja salah satunya di Tangerang Selatan, Data terbaru menyebutkan total penderita AIDS di sana mencapai 2.487 orang. Data tersebut berdasarkan estimasi dan proyeksi AIDS/HIV di Indonesia sejak 2011-2016.

Di mana angka itu merujuk pada publikasi survei oleh Departemen Kesehatan (Depkes) pada 2012 yang menyebut bahwa Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) di Provinsi Banten mencapai 13.898 orang (Sindonews.com 21 Januari 2018).

Itu baru di Tangerang Selatan, belum termasuk kota lainnya. Seperti di Depok, yang berjumlah sekitar 340 penderita, di Kabupaten Banjar 121 orang. Serta sudut-sudut kota terpencil lainnya yang belum terdata dalam survey.

Pertanyannya, apa yang membuat penyebaran ini begitu massif terjadi. Apa kurang edukasi? Sepertinya tidak, berbagai edukasi iklan layanan terhadap bahayanya penyakit ini sudah sering diberikan. Bahkan setiap 1 Desember, HIV/AIDS ramai-ramai diperingati. Namun, mengapa tetap subur berkembang?
Rupanya HIV/AIDS Tersebar luas tersebab pola hidup dan pikir yang demikian bebas. Menurut data yang dikeluarkan oleh Aliansi Cinta Keluarga (Aila) Jumlah 13.898 pengidap di Tangsel tadi, terbanyak diakibatkan hubungan lelaki seks lelaki (LSL) yang estimasi ODHA-nya mencapai 5.196 orang. Atau dapat dikatakan, pengidapnya adalah para LGBT.

Selain itu, sebab lainnnya adalah karena berganti-ganti pasangan. Seperti di Cilacap yang dilakukan 14 guru dan 30 tenaga non guru yang suka berganti-ganti pasangan, serta doyan berburu PSK (Pekerja Seks Komersial) Ketika Dinas luar (TribunNews.com 7 Mei 2018).

Selebihnya penularan itu datang dari jarum suntik narkoba, miras yang sering menjadi pemicu seks bebas atau narkoba, serta perempuan hamil yang mempengaruhi janinnya.
Maka jelas HIV/AIDS ini masuk melalui gerbang pergaulan bebas. Sayangnya negeri kita justru tak mampu menutup gerbang itu. Sebab pintu paham kebebasan malah sudah menjadi tradisi dan andalan dalam menjalani kehidupan. Dianggap trend dan budaya.
Di berbagai media, kita dibiasakan dengan tontonan gaya hidup bebas. Dalam pendidikan, minim sekali pengajaran tata cara bergaul dengan lawan jenis, di rumah pun keluarga tak sanggup mendidik anak semaksimal mungkin.

Mulai dari akidah, hingga penerapan syariahnya. Sebab himpitan ekonomi yang mencekik, membuat mereka lelah disibukkan mendulang rupiah.

Belum lagi peredaran narkoba yang sudah seperti bom, siap meledak kapan saja, miras terjual bebas, pos-pos seks bebas tersedia. Maka jangan tanyakan mengapa HIV/AIDS masih subur, sebab negeri kita memang memupuknya dengan pemicu-pemicu di atas.

Apalagi, regulasi hukum yang ada tak kunjung menentu. Contohnya saja apakah LGBT (salah satu pemicu penyebaran HIV/AIDS) diperbolehkan keberadannya atau tidak. Tafsirannya banyak berbeda. Nampak diperbolehkan tetapi menolak dikatakan mengizinkan. Benar-benar sulit hidup di sistem saat ini.
Dari sini, seharusnya terbentuk sebuah yakin bahwa, hidup di tengah aturan yang kita buat-buat sendiri, nyatanya tak mampu mensejahterakan hidup.

UU yang dirancang oleh pejabat tak menyudahi persoalan. Iklan-iklan layanan dan edukasi tak mempan. Karena pemicu-pemicu kesuburan HIV/AIDS justru dikembangbiakkan.

Ingatlah, sebaik-baik pembuat aturan hidup tentu saja yang menciptakan kehidupan ini. Allah Pengatur alam semesta. Aturan yang tidak membebaskan namun juga tidak mengekang. Aturan yang ketika ditaati maka keberkahanlah yang didapati. Mulai dari mendidik anak di keluarga, hingga aturan Negara demi membasmi perzinahan lengkap diajarkan kepada kita dalam Islam.

Standar berbuat tak ditentukan hanya dari kesenangan belaka, melainkan ketegasan akan haram dan halalnya.

Maka tentu saja di mana ada syariah, di situlah tumbuh berkah. Penulis dan banyak orang di luar sana tentu merindukan penerapan syariah Allah yang sempurna.

Maka mari kita sama-sama terus menyampaikan ini untuk keberkahan negeri. Pembersihan kerusakan-kerusakan di muka bumi adalah hanya dengan taat kepada aturan Allah, bukan aturan yang kita buat, dan paksakan untuk kehidupan ini.

Penulis : Arinda Nurul Widyaningrum (Sekretaris Umum FLP Ranting UIN Alauddin Makassar)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here