Organda dan Perbudakan.

0
682
views

Apakabarkampus.com – OPINI MAHASISWA – Mahasiswa dalam proses pengembangan potensi yang dimilikinya, tentu memerlukan suatu wadah, entah itu dalam bentuk Komunitas ataupun Organisasi.

Organisasi Mahasiswa Daerah atau yang disingkat Organda, merupakan suatu Wadah bagi Mahasiswa daerah atau dalam hal ini Mahasiswa Perantauan, guna mengembangkan potensi pribadi serta tetap menjaga nilai-nilai budaya luhur yang mereka bawa dari desa ke kota.

Dalam perkembangannya terutama di Kota Makassar. Sering kita mendengar berbagai kabar buruk mengenai Organda, mulai dari Tawuran, atau Konflik antar sesama Mahasiswa daerah yang mengatas namakan Organda mereka masing-masing dan sampai pada pemberitaan mengenai Program Kerja Suatu Organda yang memberatkan Kader mereka sendiri.

Tentu ini sudah bertentangan dengan semangat dalam Pasal 28 E ayat 3 “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.”

Yang dimaksudkan pula pada hadirnya suatu Lembaga/Organisasi yang mampu menjadi wadah pengembangan diri setiap anggotanya, bukan menjadi tempat eksploitasi eksistensial.

Mengingat Organda hari ini malah menjadi ruang-ruang yang menyediakan sarana Eksploitasi dan dehumanisasi serta Alienasi pada setiap anggotanya.

Belakangan ini ketika kita membuka info di grup Whatsapp maupun Facebook, paling tidak kita akan mendapatkan info atau kabar miris mengenai peperangan, Konflik, serta berbagai bentuk perbuatan eksploitatif yang mengatas namakan Organda.

Bukankah fenomena tersebut telah menyiratkan kepada kita semua, mengenai Realitas kaderisasi dalam Organda hari ini?!

Sistem kaderisasi dalam Organda hari ini, hanya menawarkan bentuk yang dari dulu hanya itu-itu saja. Dalam rekruitmen keanggotaan di setiap Organda, materi yang disosialisasikan kepada para kadernya tidak lebih dari materi-materi umum seperti Keorganisasian atau kesekretariatan tanpa inovasi materi baru seperti Filsafat ataupun Teori Kritis yang mempercepat laju pikiran.

Mengapa para kader Organda tidak diajarkan Filsafat? Apakah Ilmu yang satu ini terlalu berat bagi mereka anggota baru untuk ditelaah dan dipahami? Apakah mereka disangka sampai tidak memiliki akal hingga pembelajaran Filsafat di Negasikan dalam kehidupan Lembaga semacam Organda, ataukah ada segolongan orang-orang yang takut akan kebenaran, dan berupaya untuk membungkamnya? Tentu hal ini tetap menjadi misteri sampai sekarang.

Di samping itu, proses berjalannya Kaderisasi dalam suatu Organda, juga kebanyakan hanya berisi tumpukan program kerja besar seperti event, seminar, perlombaan olahraga dan sebagainya, yang siap dijalankan secara paksa oleh segenap Anggota baru.

Setiap hari penggalangan dana, setiap hari kerjanya proposal kegiatan, setiap hari Rapat dan di setiap detiknya pula bayang-bayang LPJ menjadi momok layaknya hantu yang menakuti para kader Organda.

Tidak ada diskusi, tak ada kajian Filsafat, tak ada budaya kritisisme, sedang yang ada hari ini di dalam kuil-kuil organisasi mahasiswa yang memakai nama daerah, adalah kumpulan budak-budak siap Pakai dan Siap untuk diperintah kapan saja dan dimana saja.

Organda yang hari ini hanya datang dan menawarkan Rekruitmen keanggotaan baru, namun sejatinya tak lain dan tak bukan untuk mencari para pekerja yang siap untuk bekerja di dalam pabrik-pabrik organda itu sendiri.

Dengan proses yang sedemikian menyesakkan itu, maka jangan heran ketika hari ini kita dapat melihat realitas Organda yang hanya mampu untuk Tawuran, mengadu kekuatan fisik dan membuat huru-hara di tengah-tengah kota, tanpa sedikitpun mampu menelurkan kader yang kritis. Atau paling tidak, menghasilkan pemikir-pemikir hebat.

Dengan meminjam salah satu pandangan mengenai masyarakat dalam tradisi Marxian, di mana Perspektif ini melihat bahwa, orang-orang atau dalam hal ini Kaum Proletar dalam sistem Kapitalisme mengalami suatu kesadaran palsu (Uncusciosines) akibat berbagai pengaruh, entah itu Budaya Pop ataupun model Pendidikan Formal yang tidak menunjang bangkitnya nalar kritisisme.

Sama halnya dengan Organda, juga menjadi tempat produksi dan reproduksi ketidaksadaran bagi kalangan mahasiswa daerah dengan menghadirkan berbagai kesibukan lewat Progam-Program Kerja yang sifatnya besar dan mengaburkan fungsi serta identitas kemahasiswanya.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, siapakah yang diuntungkan dengan ini semua? Siapa yang di untungkan lewat banyaknya suatu Proker yang begitu banyak dalam suatu Organda ?

Bukan untuk berprasangka buruk. Namun pada umumnya, pola perbudakan di dalam suatu Organda tak lain hanya dinikmati oleh segelintir Oknum Politis atau Kaum Elit Organda yang memainkan Logika penindasan, yakni Para “Senior Sesepuh.”

Suatu Proker berupa event besar seperti Kegiatan yang mengundang para pejabat lokal, tentu dapat menjadi ajang dalam membangun pola relasi yang hangat dan Romantis, antara para petinggi Organda dengan Para Birokrat daerah, akibatnya apa yang terjadi selanjutnya?

Tentunya dengan keadaan yang sedemikian rupa adanya, hanya akan menjadikan organda sebagai tempat lokalisasi bagi perbudakan. Tatkala nalar berpikir kritis itu mati oleh kesibukan, akibat menumpuknya proker besar. Maka hari ini yang dapat kita lihat secara bersama bahwa, kritisme sudah tidak ada lagi di kehidupan berlembaga, termasuk dalam hal ini Organda.

Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya. Adakah solusi bagi Organda, mengingat Eksistensi Organda hari ini bagaikan Candu bagi para Mahasiswa Daerah? Adakah jalan keluar bagi semua Problematika yang memasung Organda?

Perluka Organda dibubarkan saja, sehingga kita tidak mengenal lagi lembaga sarang perbudakan tersebut? Atau perlukah kita memasuki Fase Post-Organda?

Jawaban dari deretan pertanyaan di atas, itu semua kembali kepada pembaca masing-masing dalam menyikapi hal ini.

Penulis : Dinasty Dinra Pratama (Mahasiwa Ilmu Sosial FIS UNM & Anggota Pecandu Aksara)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here