Akreditasi ‘A’ vs Kemerdekaan Berpikir di Kampus Orange.

2
1030
views

Apakabarkampus.com – OPINI MAHASISWA – Universitas Negeri Makassar (UNM) resmi meraih akreditas A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Akreditasi tertinggi tersebut berdasarkan Surat Keputusan No. 1465/SK/BAN-PT/Akred/PT/V/2017.

“Selamat datang di kampus terakreditasi A.” Ya, begitulah kata-kata yang sering kali terdengar di telinga kita para mahasiswa di kampus orange ini.
Di sela-sela sambutannya, kalimat ini kerap kali disampaikan oleh pimpinan birokrasi di berbagai kegiatan, atau acara-acara yang ada di kampus.

Sekali lagi, selamat datang di kampus yang katanya terakreditasi ‘A’ ini, kampus yang harusnya mendidik dan mencerdaskan mahasiswanya melalui sistem pendidikan yang baik dan benar, yang memberi mahasiswanya ruang-ruang diskusi untuk mengembangkan daya pikir dan kritisnya.

Kampus yang seharusnya tak memandang mahasiswanya dari golongan perekonomiannya.
Namun realitanya, yang terjadi hari ini dikampus berlabelkan ‘cinta damai’ itu, membuat sebagian mahasiswannya resah dan geram atas kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pimpinan birokrasi.

Pun mahasiswanya pula, seakan-akan melihat kampus ini hanyalah tempat memenjarakan daya pikir yang kritis.

Beberapa mahasiswanya sudah menjadi korban dari kebijakan yang dikelurkan oleh pimpinan birokrasi, mulai dari diskorsingnya 6 mahasiswa Fakultas Ekonomi, sampai pada pemukulan terhadap mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan, sebagai imbalan dari nalar kritisnya.

Belum lagi kebijakan-kebijakan yang diterapkan di berbagia Fakultas yang mengakibatkan mahasiswanya sulit mengakses pendidikan yang selayaknya, sistem pendidikan di kampus ini seakan-akan ada upaya untuk menkomersialisasikan segala sektor, dengan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan dan pundi-pundi penghasilan tambahan para pejabatnya.

Adapun bentuk kecil komersialisasi di kampus ini yaitu adanya pungutan-pungutan liar birokrasi mulai dari ; membeli buku-buku dosen, membeli alat dan bahan praktikum sendiri, dan mahasiswa yang sudah berada di tahap penyelesain studi diberikan berbagai pungutan liar atas kehendak birokrasi, serta masih banyak lagi bentuk komersialisasi pendidikan yang di terapkan di kampus terakreditasi A ini.

Mahasiswanya seakan dipaksa menuruti semua kehendak dan kemauan para pejabatnya. Mahasiswanya bisa apa? Hanya bisa tunduk dan patuh atas semua kebijakan tersebut, dikarenakan kampus ini ‘anti kritik’.

Jika ada mahasiswanya yang mengusik serta menggoyang takhtanya lewat protes, tentu saja sang nakhoda tidak tinggal diam, selanjutnya dia mengupayakan segala hal dan cara untuk menjadikan mahasiswanya tersebut tak berdaya. Melalui algojo-algojonya yang disebar di seluruh penjuru Fakultas.

Akibatnya mahasiswa di kampus ini tak sungkan-sungkan mengubur dan memenjarakan daya pikirnya yang kritis, demi menjaga eksistensi dan tetap menikmati rasanya menjadi mahasiswa di kampus yang katanya terakreditasi ‘A’ ini.

Jika kebijakan-kebijakan yang diterapkan di kampus ini terus dibiarkan begitu saja, maka akan muncul kekhawatiran, lulusan-lusannya tak mampu bersaing di dunia luar yang tentunya membutuhkan lulusa-lulusan perguruan tinggi yang kaya akan ide-ide brilian yang bermula dari berpikir kritis.

“Bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat, dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah kebenaran, pasti terancam,” begitulah sabda almarhum Wiji Thukul di salah satu puisinya berjudul Peringatan.

Jadi apakah kita yang hari ini disebut sebagai mahasiswa masih tetap ingin bungkam terhadap kebijakan-kebijakan birokrasi yang tidak pro dengan mahasiswa?

Tentunya kita sebagai agen of change, harus terus bersua dan bersatu dalam hal menyikapi kebijakan-kebijakan kampus, yang berusaha membunuh daya kritis mahasiswa hari ini.

Sebagaimana pesan wiji Thukul dalam puisinya “Jika kau menghamba kepada ketakutan
kita memperpanjang barisan perbudakan.”

Maka marilah kita berikhtiar sama-sama, memerdekakan pemikiran, agar fungsi kita dalam hal mengaspirasikan harapan dan tujuan kita bersama sebagai Mahasiswa itu dapat terpenuhi. Panjang Umur Perjuangan dan hidup Mahasiswa.(*)

Penulis : Vanto (Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik UNM. & Anggota Pecandu Aksara)

Editor : Adji

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here