Belajar Dari Alam, Bagaimana Ia Tunduk Pada Tuannya

0
103
views

OPINI, APAKABARKAMPUS.COM – “Dan dari air kami jadikan segala sesuatu hidup. Maka, mengapa mereka tidak juga beriman.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: (30).

Ayat di atas sekiranya dapat menyadarkan kita bahwa segala sesuatu tidak luput dari penjagaan-Nya. Hanya saja, kita sebagian tidak menyadarinya.

Contoh kecilnya pada diri sendiri. Yaitu pernapasan yang ternyata memiliki ritme tertentu. Misalkan ada di antara kita yang menahan napas selama satu sampai dua menit. Tentu kita akan merasakan sesak napas sehinga dapat menyiksa bagian organ tubuh yang lainnya.

Artinya bahwa, pernapasan sekalipun itu terjaga. Hanya saja, sebagian kita tidak menyadarinya. Dan banyak pula yang mengatakan bahwa pernapasan itu miliknya.

Seandainya pernapasan itu milik kita, maka pada saat kita menahan napas beberapa detik maupun menit, kita tidak akan merasakan sesak napas dan organ tubuh yang lainnya tidak merasakan sakit, karena kita bisa mengaturnya, kalau memang itu milik kita. Tapi lagi-lagi kita tidak sadari itu.

Sebagai seorang sains maupun penulis, percaya bahwa alam semesta diciptakan dan seluruh isinya, itu dikendalikan sesuai hukum-Nya. Oleh karenanya kesadaran sangat urgen dalam memahami skenario alam beserta kehidupan yang kita jalani sekarang ini.

Jika pemahaman kita selama ini bahwa kehidupan hanyalah sebuah sandiwara belaka dan tidak memiliki tujuan. Maka siapakah yang membuat sandiwara ini?

Jangankan dalam memahami seluruh ciptaan yang ada, memahami diri sendiri saja kita masi sangat kesulitan. Janganlah dulu kita pertanyakan asal muasal manusia pertama? Permasalahan penciptaan manusia yang berasal dari sel sperma yang notabenenya jenis cairan yang menjijikkan itu, lalu membentuklah sosok manusia utuh seperti kita ini? Kita masi kadang bingung bahkan ragu dan sampai-sampai tidak percaya. Sebab semua itu agak sulit terjangkau oleh akal. Jadi untuk apa kita percaya? Iya kan?

Nah. Itulah lemahnya manusia karena akal tidak mampu menjangkau hal yang demikian. Maka dari itu kita butuh sosok yang mampu mengatur itu semua serta meyakininya.

Dari beberapa uraian sederhana di atas, sekiranya apa yang kita lihat, dengar dan saksikan hari ini adalah sesuatu yang terjaga atau dikendalikan oleh sesuatu yang maha kuasa yaitu Allah swt. Sang pengatur kehidupan ini.

Sesuatu yang terjaga artinya adalah sesuatu yang memiliki asal dan tujuan. Sehingga membutuhkan pengetahuan luas untuk memahaminya. Oleh karenanya kesadaranlah yang bisa mendekati pemahaman kita tentang sesuatu yang kita jalani hari ini. Sebagaimana kecerdasan kita sebagai manusia tidak akan sampai pada tujuan yang ingin kita dapatkan kecuali dengan bantuan pengetahuan dari yang mengendalikan kita.

Seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl: (89). “Dan bagi orang-orang yang meyakini serta yang tidak meragukannya akan diberi petunjuk oleh Yang Maha Kuasa”.

Jadi, kesadaran sangat diperlukan di sini untuk memahami diri sendiri dan ruang lingkup di sekitar kita.

Sehingga kita mampu memahami konsep tentang apa saja yang ingin kita jalani, baik itu dari mana kita berasal, untuk apa dan mau kemana.

Kesadaran menjadi konsep dasar kita untuk mengambil langkah ke depan, karena semuanya diatur dan dijaga maka dengan kesadaran kita pasti mengambil langkah yang sesuai dengan tujuan kita, dan akan sampai pada tujuan itu.

Wallahualam. Rencana Tuhan tidak kita ketahui, hanya saja kita berusaha untuk tetap sadar dalam menjalani kehidupan ini, bahwa semuanya memiliki tujuan, oleh karena itu sebagai mahluk yang berpikir, setidaknya kita harus didasari oleh kesadaran dalam bertindak dan mengambil langkah baru.

Penulis : Indra Ismail (Jurusan Fisika
Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Alauddin Makassar)

Editor 1 : Ika Rini Puspita

Editor 2 : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here