Ibu Yang Malang, Kini Usiamu Telah 72 Tahun; Sebuah Prosa Untuk Anak Durhaka

0
159
views

SASTRA, APAKABARKAMPUS.COM – 72 tahun bukanlah usia muda. Jika ibarat seorang ibu, maka tentu banyak keinginannya yang ia ingin kabulkan di masa-masa senjanya. Mengharap menantu misalnya, menimang cucu, atau bahkan suka dan rela suaminya berpoligami dengan dalih dia sudah tidak secantik dan seanggun dulu. Sekaligus jalan meminimalisir perselingkuhan di muka bumi.

Namun sudah pasti keinginan tertinggi adalah menjaga kehormatan dan nama baiknya sebagai seorang ibu. Semesta yang memilih HMI sebagai ibu kandung peradaban, namun tak mampu mengulur usia untuk tetap muda, sebab sunnahtullah tak pernah diam. Akan terus bergerak.

HMI yang kini telah berumur 72 tahun harus menerima dengan lapang dada bahwa usianya kini telah senja. Meskipun demikian, tentu sebagai ibu kandung peradaban, ia tetap ingin muruah dan kehormatanya tetap terjaga.

Walau pada kenyataanya tidaklah seperti itu, dirinya bukanlah seorang ibu yang cukup beruntung, anak-anak yang lahir dari rahimnya yang susah payah ia didik dan besarkan, dengan tega dan penuh kesengajaan mencoreng kehormatan akan nama baiknya.
Yang tua, banyak mendekam dalam penjara karena mendapat gelar koruptor, sementara yang muda sibuk bermain mata dengan penguasa, ada juga yang sedang berasyik masyuk menikmati selangkangan tetangga.

Komitmen keumatan dan kebangsaan hanya sebatas slogan di awal semester. Hanya milik Lafran Pane seorang diri. Independensi etis dan organisatoris hanya dongeng pengantar tidur, sebab suguhan kopi dan sebungkus rokok tim pemenang calon legislatif masih jauh lebih berharga.

Kualitas 5 insan cita telah berubah menjadi duka cita dan tidak akan pernah terlaksana. Pasal 9 dalam konstitusi hanya omong kosong belaka. Jeritan dan tangisan suara minor di pelosok negeri tak pernah dihiraukan. Pembengkakan utang luar negeri dibiarkan menyayat masyarakat kelas bawah. Sebab dugem dan ngopi di warkop setiap malam predikatnya lebih elit.

Cerita panjang lebar tiada henti bahkan tak berujung. Tentang perkaderan dengan landasan Bab IV pasal 8. Tapi kerjanya gontok-gontokan berebut tahta. Yang kalah menjadi oposisi sudah menjadi budaya.

Ngomong kaderisasi setiap waktu, anak LK 1 menjabat di PB karena deal-deal kemenangan dibiarkan begitu saja. Dualisme dari cabang hingga ke PB dinilai sebagai dinamika, akhirnya komisariat kalang kabut tak tau arah.

Gagasan Cak Nur muda dan kedua kawannya merumuskan nilai-nilai dasar perjuangan untuk dijadikan sebagai ideologi sekaligus landasan epistemologi sudah tidak memiliki arti apa-apa. Semua dialektika Kongres, Musda, bahkan Konfercab sekalipun, hanya sekadar manipulatif. Semuanya telah selesai di balik layar yang pemenangnya adalah pemilik modal.

Keorisinilan rasionalitas yang pernah naik tahta, kini hanya menjadi romantika kebesaran masa lalu, dijadikan sebagai mantra untuk adik-adik yang baru berkecambah. Dalil-dalil dinamika dan kepentingan anak sulung seringkali mencoreng nama baik dan kehormatan HMI Sebagai ibu kandung peradaban, membuatnya terjatuh sampai ke titik nadir.

Seringkali mendapat deretan vonis yang tidak ramah kepadanya. Mulai dari tuduhan perselingkuhanya dengan penguasa hingga rahim yang ia miliki kerap kali dicap menjadi tempat persemaian sperma yang sesat.

Meski tidak semua anaknya tega mencoreng nama baik dan kehormatanya, sebab ia pun seorang ibu yang juga memiliki anak yang berbakti meski jumlahnya sedikit, terlebih karena anak yang berbakti tinggal di lingkungan kumuh dan terisolasi, membuat ia jarang terekspos.

Namun deretan vonis yang mencerca namanya tidak mampu membebaskannya dari lumpur hitam kemalangan. Hujatan masyarakat di sekelilingnya terlanjur membuat nama baiknya remuk redam, tidak memiliki arti apa-apa lagi di lingkungan sekitar.

Walau sejarah menyaksikan ia pernah menjadi cahaya mata pelipur lara masyarakat, namun karena nila setitik merusak susu sebelanga adalah hukum alam yang harus dia terima.

Ibu kandung perdaban telah berganti nama menjadi ibu yang malang. Kebaikannya di masa lalu takkan penah ternilai lagi. Keikutsertaannya memanggul senjata tahun 1947 saat perjanjian linggarjati diinjak-ijak Belanda.

Kontribusi dalam menggagalkan pemberontakan PKI di madiun 1948 silam dengan kehadiranya dalam lingkaran CM telah tertutupi bahkan dinodai oleh kasus amoral anak kandungnya.

Gagasannya tentang Tritura 10 januari 1966 yang ia balut dalam KAMI, menjadikannya sebagai salah satu yang paling disegani. Menjadi alasan keruntuhan ORLA dan ORBA serta pelopor kehadiran reformasi membuat namanya tersohor di mana-mana. Tapi itu dulu sebelum kegiatan-kegiatan kongres ramai diperbincangkan di khalayak ramai karena dijadikan sebagai gelanggang Gladiator.

HMI memang ibu yang sangat malang. Kemalangannya tiada lain karena ulah anaknnya yang tak pernah paham arti balas budi. Namun HMI tidaklah seperti ibunda maling kudang yang tega mengutuk anaknya menjadi batu. Meski anaknya kerap kali menlukai hatinya.
Ia lebih memilih tak menyesali melahirkan anak-anak durhaka. Ia menyimpan kemalangannya dalam tumpukan gundah bersama usianya yang senja. Sebab ia meyakini malam keabadian akan datang menjemputnya.(*)

Penulis : Achmad Faisal Dinejad (BPL HMI Cabang Parepare)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here