GAJI DAN SISTEM HIDUP ITU DARI ALLAH

0
31
views

OPINI, APAKABARKAMPUS.COM – Seperti yang diberitakan cnnindonesia.com(31/01) Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara, menyindir salah satu Aparatur Sipil Negara (ASN) di kementeriannya yang memilih pasangan calon nomor urut 02 (nol dua). Namun, saat pegawai pemilih paslon nomor urut 2 (dua) tersebut berjalan ke tempat duduk, Rudiantara berteriak memanggilnya lagi.

“Bu! Bu! Yang bayar gaji ibu siapa sekarang? Pemerintah atau siapa? Hah?” Tanya, Rudiantara.

“Bukan yang keyakinan ibu? Ya sudah makasih,” ujar lagi Rudiantara.
“Pernyataan Menkominfo” yang gaji kamu siapa? ternyata menuai kontroversi, sehingga berbagai komentar mulai bermunculan. Salah satu komentar dari Peneliti komunikasi Politik sekaligus dosen FPIPS UPI, Karim Suryadi.

Karim Suryadi menyatakan “Seakan lupa sang penghamba diupah karena tenaganya, bahkan nyawanya kerap ia pertaruhkan demi menjaga dan melaksanakan titahnya. Besarnya bakti yang diberikan tak pernah dilihat sebagai pengorbanan atau prestasi, melainkan ‘sesuatu yang sudah seharusnya begitu’. Ketundukan, kepatuhan, dan kepasrahan seolah harga yang harus dibayar atas upah yang diterima.” (lihat www.pikiran-rakyat.com 5 Februari 2019).

Sungguh islam menempatkan setiap manusia, apapun jenis profesinya, dalam posisi yang mulia dan terhormat. Hal itu disebabkan Islam sangat mencintai umat Muslim yang gigih bekerja untuk kehidupannya.

Allah SWT., menegaskan dalam QS. Al-Jumu’ah: 10, yang artinya, “Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung.”

Ayat tersebut diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi: “Tidaklah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya sendiri .

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Berikanlah upah orang upahan sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah dan Imam Thabrani).

Berdasarkan dalil di atas dapat kita simpulkan bahwa seorang pegawai negeri(pekerja) memiliki kewajiban terhadap negara untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebaik mungkin dan bersamaan dengan itu dia juga berhak mendapatkan gaji(upah) dari negara sesuai ketentuan dan syarat yang berlaku.

Jadi, di sini bisa kita lihat bahwa aparatur sipil negara (ASN) merupakan pegawai yang bekerja dan setia kepada negara bukan kepada presiden.

Berdasarkan dialog Menkominfo dengan salah satu aparatur sipil negara, “yang menggaji ibu bukan keyakinan ibu tapi pemerintahan sekarang” ini membuktikan bahwa seakan-akan presidenlah yang menggaji ASN tersebut, dan bukan hanya itu menurut penulis. Tetapi baik dari pertanyaan yang dilontarkan maupun jawaban yang diberikan oleh ibu yang memilih paslon nomor urut 2 (dua) semuanya tidak bisa dipungkiri luput dari sarat unsur politik.

Sehingga wajar saja bila beberapa pemimpin daerah baik bupati maupun gubernur terang-terangan menyebut dukungannya baik kepada paslon 01 (nol satu) maupun 02 (nol dua), karena mengingat pesta demokrasi sudah semakin dekat.

Di mana kita tahu bersama bahwa kondisi kepemimpinan di Indonesia saat ini sangatlah memprihatinkan, baik terkait jajaran eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

Di mana beberapa pejabat hari ini tidak lagi punya rasa malu melakukan tindak kejahatan yang sangat merugikan dan mencederai citra baik bangsa. Salah satunya tindak korupsi yang sudah semakin merebak, ibarat penyakit demam berdarah yang mewabah ke wakil-wakil rakyat. Bahkan sudah seperti tradisi sakral yang memang harus dilakukan setelah duduk di kursi panas pemerintahan.

Mari menganalisa bersama, penting untuk kita ketahui bahwa pergantian rezim tidaklah cukup untuk membawa Indonesia menuju negara yang sejahtera dan berkah.

Karena dari pergantian tersebut hanyalah mengganti pemain saja dan parahnya lagi membuat hidup masyarakat semakin jauh dari kesejahteraan, karena sistem pemerintahan hari ini merupakan sistem demokrasi yang berlandaskan faham liberalisme dan sekularisme.

Di mana demokrasi inilah yang menjadi alat legalisasi bagi para pengusaha dan penguasa untuk berkolaborasi demi kepentingan masing-masing dan melalikan kewajibannya terhadap rakyat yang menggajinya.

Olehnya itu negeri ini sangat memerlukan strategi baru bahkan visi baru untuk keluar dari berbagai masalah yang terjadi. Setidaknya ada 2 (dua) faktor yang bisa menjamin penyelenggaraan negara dan pemerintahan yang berkeadilan serta diridai oleh Allah SWT., pertama, pemimpin yang takut dosa (amanah), dan kedua, sistem pemerintahan Islam (Islam rahmatan lil ‘alamiin).

Karena sistem pemerintahan Islamlah yang akan mengembalikan posisi Allah sebagai maha pengatur atas segala ciptaannya, baik dalam urusan, individu, keluarga, masyarat, termasuk bangsa dan negara.

Maka dari itu, muslim sejati haruslah memiliki sikap penyerahan total dan penerimaan secara mutlak terhadap segala apa yang datang dari sisi-Nya, baik hukum-hukum itu berkaitan dengan ibadah, muamalah, sistem sanksi ataupun sistem pemerintahan.

Sebagaimana Firman Allah SWT:
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 65).

Demikianlah hendaknya setiap muslim maupun negara dalam menjalankan seluruh aktivitasnya harus menyesuaikan diri terhadap apa-apa yang menjadi perintah dan larangan-Nya.

Mengapa? Karena pemimpin adalah penerus nabi untuk menjaga bumi ini agar pengaturan negara tetap sesuai dengan syariat-Nya. Inilah yang melahirkan ketenangan bagi setiap muslim.

Jadi kebahagiaan itu bukan sekadar memuaskan kebutuhan jasmani dan mencari kenikmatan sesaat, melainkan mendapatkan keridaan serta keberkahan dari Allah SWT., sang Maha Pencipta segala sesutau termasuk hukum yang adil untuk segala makhluk yang ada.(*)

Penulis : Siti Satriana (Alumni Jurusan Matematika UNM) dapat dihubungi lewat Email : sitiana280890@gmail.com

Editor : Adji

Nb : Foto Menteri di atas diambil dari web resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here