UNM, HENTIKAN PENCITRAAN dan BUAT KAMI NYAMAN

0
568
views

OPINI, APAKABARKAMPUS.COM – Universitas Negeri Makassar (UNM) adalah salah satu PTN terbaik di kawasan timur Indonesia (KTI). Universtitas ini menempati urutan pendidikan tinggi kedua terbaik setelah Universitas Hasanuddin (UNHAS), dan menempati urutan ke-20 Universitas terbaik versi kementrian riset, teknologi, dan pendidikan tinggi (Kemenristekdikti) pada tahun 2018.

Citra UNM di mata masyarakat khususnya di KTI ini, sangatlah baik, jadi tak heran jika kita kerap kali menjumpai mahasiswa UNM yang berasal dari luar pulau Sulawesi. Ada banyak mahasiswa perantau yang datang menuntut ilmu di kampus oranye ini.

Ditambah lagi, UNM resmi meraih akreditas A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Akreditasi tertinggi tersebut berdasarkan Surat Keputusan No. 1465/SK/BAN-PT/Akred/PT/V/2017.

Tentu saja dengan label tersebut UNM kini sedang gencar-gencarnya mempercantik diri dengan berbagai pembangunan di beberapa sektor kampusnya, salah satu di antaranya yaitu dengan dibangunnya pagar-pagar baru yang tentunya lebih kokoh dan modern.

Jadi, sekilas masyarakat yang melihat dari luar akan bertutur “betapa mewahnya dan eloknya kampus ini” dan dari keelokan ini pula sehingga masyarakat yang sering berlalu-lalang di depan kampus UNM akan meyakini label yang sedang disandangnya.

Padahal keelokan dan kecantikan kampus UNM ini hanya dari luarnya saja, dan yang menganggap kampus ini demikian cantik dan elok, hanya masyarakat awam pada umumnya saja. Sementara, di lain sisi mahaiswanya sendiri banyak mengeluhkan terkait sarana dan prasaran penunjang pendidikannya dari dalam.

Contohnya saja tentang fasilitas yang berada di dalam kelas-kelas perkuliahan yaitu AC (air conditioner), banyak kita jumpai AC di ruang kelas hanya menjadi aksesori belaka, sebab pendingin ruangan ini tak berfungsi sama sekali.

Selanjutnya fasilitas yang berada di laboratorium praktikum yang tak kunjung diperbaharui, sering kali kita jumpai alat-alat praktikum yang sudah berumur puluhan tahun, bahkan sudah tak bisa digunakan lagi.

Selanjutnya jalanan-jalanan di dalam area kampus yang banyak mengalami kerusakan, contohnya saja jalanan yang berada di sektor Parang Tambung, jalan menuju Fakultas Teknik.

Kemudian di sektor Gunung Sari tepatnya dari gerbang menuju Fakultas Ilmu Sosial sudah banyak jalanan yang berlubang dan menjadi tempat bermain para kecebong ketika hujan datang oleh karena airnya menggenang. Dan ini akan menjadi semakin parah bila tak ditindaki secepat mungkin, sebab air akan terus mengikis jalan lain yang belum rusak di sekitar genangan.

Termasuk ketika hujan datang area kampus sering kali mengalami kebanjiran, dan menyulitkan mahasiswa dan civitas akademika untuk beraktifitas. Oleh karenanya, perbaikan harus secepatnya dilakukan oleh pihak-pihak yang bertanggungjawab di bidang ini.

Selanjutnya pembangunan gedung-gedung perkuliahan dan civitas akademika di beberapa fakultas yang tak kunjung selesai, di antaranya gedung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang direncanakan dibangun 12 lantai namun realitanya hanya 5 lantai. Begitupun gedung Fakultas Ekonomi (FE) yang tak kunjung usai (Mangkrak) dan pembagunan laboratorium terpadu di Fakultas Teknik yang tak diketahui lagi nasibnya bagaimana.

Jadi sering kali timbul pertanyaan di benak mahasiswa hari ini, “lari kemana uang UNM?” Sementara yang sempat disabdakan oleh ayahanda pak Rektor UNM, bahwasanya uang UNM terlalu banyak untuk dikelola.

Apakah habis untuk membiayai pembagunan pagar agar terlihat cantik dari luar? Ataukah habis untuk dibagi-bagi di kalangan elit kampus oranye ini. Maaf, kami hanya bertanya dan bukan menuding. Kami butuh jawaban dan bukan persekusi yang tak bermoral.

Sebab pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh ayahanda sendiri dan para kalangan elit di kampus. Karena hari ini mahasiswa hanya dituntut belajar dan patuh pada kebijakan.

Mahasiswa sering kali mendapatkan intervensi yang tidak sewajarnya dan tidak rasional saat mempertanyakan haknya, dan bahkan dibungkam ketika ingin dan sedang menyampaikan aspirasinya.

“Apakah yang diinginkan oleh pihak elit kampus ini adalah matinya demokrasi kampus?” Pertanyaan ini silakan dijawab sendiri.

Tentusaja sebagai mahasiswa hari ini yang menjujung tinggi sumpah mahasiswa indonesia tak boleh tinggal diam atas rezim yang zalim. Sebab mendiamkan kezaliman itu sama saja mengubur diri sendiri dalam kehinaan.

Jika langit tak lagi melihat keadilan, jika bumi tak lagi mendengarkan kebenaran, dan jika rezim tak lagi mau berlaku adil maka yakin dan percaya laknat Tuhan bersamanya.

Jika yang disampaikan oleh penulis ini benar, maka jangan sungkan untuk mengangkat megafon serta terus menajamkan pena-pena kita untuk melawan kezaliman rezim negara dan kampus, biarkan jalanan menjadi saksi bisu perjuangan dan selebihnya biarkan Tuhan yang memberikan imbalan atas semua perjuangan ini.

Hidup mahasiswa dan panjang umur perjuangan!

Penulis : Vanto (Mahasiswa Teknik UNM)
Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here