Malapetaka Runtuhnya Khilafah “Umat Bercerai Berai”

0
34
views

OPINI, APAKABARKAMPUS.COM – Sejak tahun 1924 bertepatan pada 3 Maret, sudah hampir seabad lamanya umat seperti anak kehilangan Ibunya. Ibu yang menjadi pelindung, dan penjaga bagi anak-anaknya telah lama tak menampakkan diri dan menjalankan perannya.

Selama itu pulalah umat dirundung masalah tak berkesudahan, pilu di seluruh penjuru dunia, jeritan paling menyakitkan dari sudut-sudut kota adalah pembantaian dan pelecehan.

Mengapa demikian terjadi? Sebab, anak tanpa pengawasan akan mudah terjerat maksiat, kebodohan, pelecehan, pembantaian, perampasan dan kekerasan lainnya. bahkan jikapun tidak demikian, tanpa sistem dari Ibu akan mewarnai anak-anak tanpa belas kasihan.

Sistem hari ini sudah seperti para lintah yang terus menghisap kekayaan alam dan milik rakyat, bahkan menghisap kehormatan manusia. Dan apabila perjuangan tidak didasari dengan pondasi yang benar yakni Islam, maka suka tidak suka, rela atau terpaksa, semua itu akan menjadi sia-sia.

Di dalam sistem yang keji ini, jika anak-anak menderita dan terluka, tak akan ada yang dapat membelanya, sebab ibu mereka sudah lama terpisah dengan anak-anaknya.

Begitulah perumpamaan umat hari ini, 95 tahun lamanya, geliat malapetaka tak henti mendera umat. Mulai dari “Nation State” yang mendikotomi keberadaan umat, membangun tembok pemisah persaudaraan, mematahkan setiap giroh persahabatan dan membuat mereka hanya mencintai saudara setanah air mereka saja dan melupakan semua ikatan akidah yang sesuai dengan tuntunan Syariat Allah.

Mereka seolah buta dengan tumpah darah kaum muslim yang tiada henti mengucur di belahan bumi lainnya. Mereka yang tersekat oleh Nation State seperti sudah tuli dari jeritan muslimah-muslimah yang dilecehkan para kaum kafir laknatullah di Barat hingga Timur sana.

Karena Nation State, kaum muslimin seperti sudah lupa bagaimana cara berbicara dan melantangkan suara kebenaran.

Nation State telah menjadi dinding pemisah antara kaum muslim satu dengan yang lainnya. Mereka tak lagi bisa saling tolong menolong. Jikapun hati tersayat atas musibah yang melanda kaum muslim lainnya, kita hanya mampu mengirimkan kutukan atas perbuatan para anjing-anjing laknatullah.

Sedangkan Ini adalah kekerasan fisik. Di mana kekerasan fisik itu hanya bisa berakhir dengan adanya penguatan dan perlawanan yang seimbang.

Dari kasus di atas, kita seperti sudah melupakan hadist dari Rasulullah SAW;

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

Malapetaka lainnya setelah Khilafah runtuh dan menyebabkan sengsaranya umat islam yakni, bercokolnya sekularisme yang memisahkan agama dari setiap lini kehidupan dan merampas hak-hak Tuhan lalu menjadi perusak di setiap sendi-sendi tubuh Islam.

Ini merupakan malapetaka paling dahsyat sebab menyusupi setiap otak manusia, mengaliri tubuh umat sebagaimana mengalirnya darah, lalu menyatu dan mendarah daging di dalam tubuh.

Jika kita lihat hari ini. tak heran sebab ini merupakan konspirasi jangka panjang kaum kafir (baca non muslim soalnya saya takut di tempeleng si nganu) untuk memusnahkan umat Islam.

Mereka tahu jelas bagaimana Islam berjaya dan meluluh lantakkan kekufuran mereka selama 13 abad lebih lamanya. sehingga ghozul fikr terhadap umat Islam adalah penjajahan terbaik untuk saat ini. dan jelas ini berhasil, dapat kita lihat bagaimana mereka yang bergelar prof, ustadz bahkan sampai kiyai dengan mudah melisankan kekonyolan dan kegagalan berpikir.

Mereka dengan angkuhnya mengeluarkan statement menggelikan menurut pandangan manusia dan mungkin menjijikan dalam pandangan syariat.

Lihat saja kelakuan mereka; mulai dari merevisi doa, ujaran kebencian terhadap ulama, sampai dengan mengkritisi ayat-ayat Allah. Naudzubillah.

Sejak konspirasi licik yang dilakukan oleh Mustafa Kemal laknatullah sepanjang masa, yang merupakan seorang keturunan Yahudi tulen masuk merusak tatanan Khilafah dan mencemari pemikiran umat sampai puncaknya di tahun 1924 yakni, runtuhnya Khilafah.

Dari Mustafa Kemal, paham menyimpang, egoisme kepemimpinan dan rusaknya moralitas serta busuknya cita cita membuat umat Islam menderita tiada henti hingga hari ini.

Maka tak heran kita menyaksikan bagaimana akhir hidupnya yang sungguh amat menyedihkan. Mustafa Kemal laknatullah yang dianggap sebagai pencetus modernisasi dalam beragama, kini mayatnya tak diterima oleh bumi Allah.

Sudah lama tubuh tak bernyawa itu harus diawetkan hingga akhirnya hanya bisa di kebumikan dengan gundukan semen bercampur pasir.

Egoisme, cinta dunia, fanatik jabatan adalah sakit yang sejak 95 tahun lalu tetap menjadi bagian yang turun temurun hingga hari ini. Maka tak heran dengan sistem yang sama orang orang yang menduduki tampuk jabatan tak ada bedanya. semua tetap sama, yakni sama-sama kotor dalam wadah yang penuh lumpur.

Sekuat apapun mereka mengatakan akan bergelut di wadah lumpur dengan bersih maka sekuat itu pulalah keyakinan bahwa mustahil ia tak kotor.

Belum lagi, dengan penerapan sistem warisan penjajah di hampir setiap negara di dunia menjadikan keterpurukan umat sebagai jalan untuk mencekik. Rezim yang semakin hari semakin menjadi-jadi merupakan bagian dari ketiadaan Ibu yang menjaga anak-anaknya.

Sialnya, mereka para penikmat sistem warisan penjajah dengan angkuh mengamputasi ormas-ormas pro Islam. Mempersekusi aktivitas keislaman dan mengintervensi aktivis-aktivis yang menyuarakan Islam dan parahnya dengan mengatas namakan toleransi, doa mereka koreksi dan Kalamullah berani mereka koreksi.

Padahal mereka adalah umat muslim dengan aqidah yang sama dan syahadatain yang sama. Tapi mereka dengan bangga mencampakkan syariat dan mengambil keuntungan duniawi.

Malapetaka ini akan berakhir dan perlu keyakinan penuh atasnya. Sebab itu janji Mulia sekaligus kabar gembira dari Allah Azza wa Jalla.

Kita pahami bersama bahwa 3 ideologi sedang memperebutkan kursi kekuasaan dunia, dengan segala cara, kapitalisme yang nyatanya semakin melemah dan komunisme yang mulai melebarkan sayapnya membuat makar untuk menandingi Islam yang disokong makar dariNYA.

Mungkin bedanya adalah kita memegang janji dan kabar gembira darinya. Sebagaimana firmannya :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Bagi sebagian orang bahkan hampir semua orang munafiqun mengatakan bahwa Khilafah adalah Utopis, tak heran sebab paham sekularisme kapitalisme telah mendarah daging. Sehingga mereka memandang sebelah mata para pejuang-pejuangnya.

Namun jika telah dilisankan dari kekasih Allah, maka sebagai bentuk Iman tidak layak jika terdapat setitik keraguan di dalamnya.

ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

Wallahu a’lam bi ash showab

Penulis : Candelaria Athaya

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here