Pendidik dan Kemanusiaan

0
68
views

Suriati, S.Ag. M.Si. M.Kes
Penulis: Wakil Rektor I Universitas Indonesia Timur Makassar

Malam semakin larut bahkan sudah mendekati tengah malam, di salah satu bagian Kota Daeng yang mulai dibalut dinginnya cuaca dimusim hujan namun tidak menyurutkan semangat dan juga partisipasi dari orang-orang yang disebut pendidik untuk tetap bersama dan memikirkan tentang Peningkatan Mutu Pendidikan.
Bagi kami rasa ngantuk dan rasa capek dapat terabaikan karena motivasi dan semangat untuk membangun yang tinggi. Bahkan ketika jam sudah berada tepat di pukul 24.00, nampak wajah wajah yang hadir belum menunjukkan perubahan, masih tetap semangat untuk memikirkan bagaimana mutu pendidikan bisa meningkat.
Saya kemudian berfikir dari mana kekuatan yang mereka miliki untuk bisa bertahan seperti itu, padahal kalau dilihat dari rata rata umur mereka sudah di atas 40 an. Ketika menginjak usia 40 baik pria maupun wanita sudah mengalami penurunan fungsi pendengaran dan penglihatan, serta metabolisme melambat yang akan menyebabkan rasa cepat capek, lelah dan letih. Tetapi bicara tentang mutu sepertinya tidak pernah habis untuk dibahas.
Peningkatan mutu pendidikan bagi kami adalah harga mati yang tidak bisa ditawar tawar, dan mutu tersebut sangat dipengaruhi oleh SDM utamanya pendidik. Pendidik yang diperguruan tinggi dikenal sebagai dosen adalah seseorang yang bersentuhan langsung dengan peserta didik, yang menjadi tombak terdepan bagi peningkatan mutu pendidikan, yang menjadi barisan terdepan yang harus bertanggungjawab terhadap hasil dari pendidikan.
Sekalipun terkadang kalau hasilnya bagus maka lembaga pendidikan yang akan merasakan hasilnya, tetapi apabila output yang didapatkan berada pada level kurang maka pendidiklah yang secara moril selalu harus dijadikan subyek yang bertanggungjawab. Tetapi kalau melihat dari fenomena tersebut tidak pernah surut minat orang untuk menjadi pendidik.
Dalam satu kesempatan Sekretaris Dirjen Pendidikan Tinggi Agama mengistilahkan pendidik terkadang dihargai dengan “apa aja” tetapi karena pengabdian dan dedikasi yang tinggi di ikuti dengan ketulusan dan keikhlasan dalam mendidik menjadikan profesi tersebut memiliki banyak peminat dari waktu ke waktu.
Kata pengabdian, pengorbanan dan dedikasi begitu lekat dengan kita komunitas yang berada di jalur pendidikan, setiap saat kita diingatkan akan peran dan fungsi kita sebagai pendidik yang berarti bahwa tanggungjawab kelanjutan bangsa ini berada di tangan kita untuk mencetak dan mengarahkan generasi bangsa menjadi generasi yang siap untuk diterjunkan dilapangan menggantikan generasi kita yang mau tidak mau, rela atau tidak rela akan tetap bergeser menempati ruang lain yang aktivitas dan kreatifitasnya berkurang bahkan tidak kurang dari kita mungkin saja akan berada pada area vakum dari kreatifitas.
Kemajuan dan keberhasilan masa depan kita ukir dari sekarang, tetapi kondisi sekarang masih banyak diantara kita pendidik yang harus berada di wilayah khusus yang memerlukan pengabdian dan pengorbanan dikarenakan professionalisme kita tidak diimbangi dengan penghargaan baik berupa moril maupun materil berupa income yang memang sepantasnya dan seharusnya didapatkan. Sehingga kita masih harus dinina bobokkan dengan kata keikhlasan dan amal jariyah.
Pendidik adalah manusia biasa yang kompleks yang berhubungan dengan kemanusiaannya maka berarti keberlangsungan kehidupan kita dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya manusia sebagai individu yaitu sebagai makhluk hidup artinya tiap manusia berhak atas milik pribadinya sendiri dan bisa disesuaikan dengan lingkungan sekitar, manusia individu adalah subyek yang mengalami kondisi kemanusiaan. Dia merupakan perpaduan antara aspek aspek yang tidak bisa dipisahkan, seperti jasmani dan rohani dalam menjalankan fungsinya dipengaruhi oleh faktor penunjang kehidupan yaitu materi sebagai penggerak.
Disisi lain pendidik adalah makhluk sosial yang tunduk pada hal hal lain yang berada di luar dirinya, baik itu norma, nilai dan hukum, Pendidik sebagai human sosial maka berarti membutuhkan konektifitas dan pembauran dengan individu lain yang saling mendukung.Pendidik sebagai makhluk sosial yang hidup bermasyarakat ( zoon politicon). Keutuhan manusia akan tercapai apabila manusia sanggup menyelaraskan perannya yang kuat untuk mengenal kepribadian manusia lain. Yang menjadi dasar dalam memilih dan menggunakan metode dan strategi pendidikan yang cocok dalam proses belajar mengajar.
Pendidik sebagai makhluk budaya, pendidik adalah makhluk yang berkemampuan melakukan hal hal yang positif menciptakan kebaikan, kebenaran, keadilan, dan bertanggungjawab sebagai makhluk berbudaya, pendidik mampu mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan karya dan kreatifitas demi kebahagiaan dirinya maupun bagi masyarakat, demi kesempurnaan hidupnya. sebagai makhluk budaya pendidik tidak pernah sepi dari penciptaan dan kreasi yang akan memberikan nilai kepuasan yang tinggi yang terkadang mengalahkan nilai materi.
Kompleksifitas tersebut membuat kita sebagai manusia yang diposisikan sebagai pendidik, menjadi sangat unik dan keunikan tersebut apabila dijadikan kekuatan akan menjadikan kita sebagai pendidik yang kaya akan kreatifitas dan mampu setiap saat menciptakan karya dan inovasi baru, dan mengukir generasi pelanjut yang memiliki bekal dengan catatan kompleksifitas tersebut juga yang menjadikan kita sebagai pendidik harus bisa ditempatkan pada daerah yang seharusnya yang penuh dengan penghargaan sebagaimana mestinya bukan hanya penghargaan materi tetapi juga penghargaan dan pengakuan akan eksistensinya yang harus ditempatkan pada posisi terdepan.
Coretan ringan ini saya buat agar bisa saya manfaatkan dan saya berharap akan menjadi bahan renungan bagi kita semua yang menyebut diri kita pendidik. Dan juga bagi kita pemegang kebijakan untuk memberikan ruang yang seluas luasnya yang dibutuhkan oleh seorang pendidik dalam mengembangkan dan mengaplikasikan keilmuan yang dimiliki.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here