Perbedaan Fiqh Ibadah, Fiqh Muamalah dan Fiqh Jinayat

0
734
views

Apakabarkampus.com – Fiqh merupakan perkara yang tinggi dalam syariat Islam, dalam penetapan hukum-hukum fiqh harus dilakukan oleh ahlinya, tak boleh serampangan.

Pada saat ini, telah banyak para ahli (ulama) yang menuliskan tentang hukum-hukum fiqh dalam buku-buku mereka dan dapat kita baca sampai saat ini, tentu hal ini merupakan kesyukuran bagi kita.

Ilmu fiqh terbagi dalam tiga kategori besar, sebagaimana dinyatakan oleh ustadz Bahrun Nida, Lc. dalam Kajian Fiqh Muamalah yang diselenggarakan oleh Zayyad Property. Sabtu (16/3) sore.

“Dalam fiqh itu ada tiga pembagian utama, fiqh ibadah, fiqh muamalah dan fiqh jinayat. Fiqh ibadah itu cakupannya biasanya terkait ibadah-ibadah mahdah (pribadi), seperti tata cara sholat, puasa dan lain sebagainya. Kalau fiqh muamalah adalah fiqh transaksi atau pergaulan. Dan fiqh jinayat adalah berkaitan dengan hak seseorang yang dilanggar, dan ini biasanya yang berat-berat, seperti pembunuhan.” Paparnya dihadapan para peserta yang hadir.

Lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa yang paling banyak menyita waktu kita adalah berkaitan dengan muamalah/pergaulan, dan muamalah adalah termasuk dari bagian ibadah kepada ALLAH swt. (jika niat dan syarat-syaratnya terpenuhi).

“Jika mau dibandingkan, ibadah muamalah ini lebih banyak porsinya ketimbang ibadah mahdah. Namun bukan berarti karena porsinya sedikit, kita lantas mengabaikan.” Ucapnya.

Beliau kemudian melanjutkan pembahasan tentang pembagian jenis muamalah.

“Muamalah ini ada dua macam, yang pertama, ada muamalah yang di dalamnya ada unsur tolong menolong, kemudian juga terdapat unsur yang membolehkan kita mengambil keuntungan materi di dalamnya. Yang kedua, adalah model muamalah yang murni unsur tolong menolong yang didalamnya tidak boleh mengambil unsur keuntungan materi.” Tambahnya.

“Kebanyakan orang dalam kesehariannya tidak dapat membedakan, mana muamalah yang didalamnya bisa mengambil untung dan mana yang tidak.” Pungkasnya.

Ustadz Bahrun juga menambahkan bahwa contoh muamalah yang boleh mengambil keuntungan materi di dalamnya adalah jual beli. Dan contoh muamalah yang tidak boleh mengambil keuntungan di dalamnya adalah utang piutang dan gadai.

 

Editor:
Ma’arif Amiruddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here