Bachtiar Adnan Kusuma Menginspirasi dari Lorong

0
25
views

BACHTIAR ADNAN KUSUMA
Menginspirasi dari Lorong

Apakabarkampus.com – Sebagai pejuang literasi sekaligus relawan membaca, kadang kami menyempatkan diri untuk sekadar menyepi, berkontemplasi sekaligus merenung langkah-langkah perjuangan kami

Bila melihat Indonesia, ibu pertiwi yang telah berusia senja ini, minat baca generasi muda masih sangat rendah. Tidak perlu membandingkan Indonesia dengan Negara-negara maju, itu terlalu menyakitkan. Bandingkan saja Indonesia dengan Negara-negara tetangga di ASEAN. Ternyata kita masih termasuk salah satu urutan juru kunci untuk urusan minat baca. Budaya baca dan budaya tulis di Indonesia masih belum bisa dibanggakan. Padahal kita selalu mengeluk-elukkan, katanya ingin menjadi bangsa yang beradab. Ingin menjadi bangsa yang tinggal landas. Bagaimana logikanya ingin mencapai semua itu, bila membaca saja enggan. Malas membaca melahirkan generasi yang memiliki kedangkalan wawasan. Kalau wawasan dangkal, berarti kualitas pendidikan rendah. Pendidikan rendah adalah sahabat karib kemiskinan. Akhirnya terciptalah sebuah hierarkir lingkaran setan keterpurukan. Bila sudah masuk di dalamnya, teramat sulit untuk keluar.

Kita terpaksa mengurut dada. Ketika membaca hasil studi dari Vincent Granary yang dirilis pada 1998 bertajuk” Education in Indonesian From Crisis to Recovery”, hasil studinya sangat menyedihkan. Ternyata kemampuan membaca anak kelas 6 SD menduduki posisi terendah dengan nilai 51,7 persen. Angka ini masih di bawah Filipina (52,6%), Thailand (65,1 %), Singapura (74%) dan Hongkong (75,5%).

Padahal kalau kita melihat sejarah panjang bangsa ini, Indonesia adalah bangsanya para sastrawan. Banyak karya sastra klasik yang mendunia berawal dari rumpun orang Melayu. Termasuk untuk masyarakat Sulawesi Selatan. Kesusastraan bukan lagi barang baru. Kita punya epos Lagaligo yang menjadi epos terpanjang di dunia mengalahkan Mahabrata. Jadi sebenarnya dalam diri bangsa Indonesia mengalir darah sastra yang cukup kental. Seharusnya menjadikan kita bangsa yang akrab dengan budaya literasi.Namun faktanya jauh berbeda.

Kalau minat baca sudah rendah, maka bila diprediksi akan datang efek yang lain. Misalnya anak yang tak gemar membaca, maka waktunya akan habis untuk menonton, bermain game atau berselancar di sosial media. Sahabat mereka bukan lagi buku. Tapi si kotak ajaib yang kini lebih banyak berisi tontonan beracun: Televisi tempat primadona untuk dikunjungi adalah mall atau bioskop. Bukan perpustakaan atau toko buku.Padahal buku itu gudangnya ilmu. Perpustakaan adalah gudangnya “gudang ilmu”. Ya, perpustakaan saat ini benar-benar gudang senyatanya. Berisi buku-buku using berdebu tak pernah disentuh. Yang berkunjung pun sedikit. Kalaupun ada, biasanya mereka yang benar-benar butuh. Perpustakaan telah berubah menjadi museum buku. Di dalamnya banyak barang antik yang usang tak terawat. Buku-bukunya seperti kitab zaman Majapahit. Kertasnya menguning berlapis debu.

Saat kami duduk merenung, bayangan inilah yang paling sering hadir. Fenomena inilah yang paling sering hadir. Fenomena perpustakaan seperti di atas adalah fenomena umum. Termasuk perpustakaan yang ada di sekolah. Kami pernah diberi amanah untuk berbicara di hadapan 200 pustakawan dan kepala sekolah se Sulawesi Selatan tentang Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007. Banyak peserta mengungkapkan curahan hatinya. Mereka mengeluh tentang jumlah tenaga pustakawan sekolah yang masih minim.Padahal UU N0 43 Tahun 2007 itu telah memberikan ketegasan betapa pentingnya regulasi perpustakaan sekolah. Adalah fakta yang tak bisa dielakkan, sebagian besar kepala sekolah dan pilar pendukung pendidikan belumlah memberikan perhatian penting pada perpustakaan. Minat untuk menjadi pustakawan pun masih rendah.

Di sela-sela perenungan kami, sempat pula terlintas satu buah pemikiran. Ketika melihat kebiasaan kaum ibu yang sering berlama-lama di mall. Memang sudah karakter wanita itu senang belanja. Terkadang bukan barang yang mereka cari, tapi justru aktivitas belanja itu yang dinikmati. Tidak salah wanita berperilaku begitu. Ini adalah bagian dari fitrah wanita yang dianugerahkan Allah kepada mereka. Tentu lebih bermanfaat jika jika saja agenda ke mall itu, disisipkan untuk mengunjungi toko buku. Melihat buku yang kiranya cocok untuk dirinya dan jangan lupa untuk anak.

 

Orang tua, apalagi ibu adalah sosok yang paling mengenali kebutuhan anaknya. Termasuk tentang sajian ilmu yang cocok untuk anaknya, sesuai rentang usia dan kadar kemampuan. Pertimbangan minat, kebutuhan dan kepentingan anak terhadap sebuah buku. Berilah buku yang memberi kesan pada anak. Itulah buku buku yang baik, begitu pesan Riris K Toha Sarumpaet.

Cerita dan sebuah keprihatinan mendalam di atas, inilah yang menantang kami berhikmah menjadi penggiat literasi. Kami hanya ingin seperti Jhon Wood, seorang mantan eksekutif Microsoft yang memiliki wilayah kerja Asia Pasifik. Jhon Wood, berani mengambil sikap yang tak umum. Dia meninggalkan kemapanan finansial, lalu bekerja secara sukarela dengan menyediakan banyak buku untuk anak-anak di Negara miskin. Room To Read adalah lembaga nirlaba yang dirintisnya untuk menyebarkan sedekah bukunya.

Karena itu, kami memutuskan memilih sikap menjadi relawan literasi sejak 2001 bermula di Kota Makassar dan Jakarta.

Inilah garis perjuangan kami, sebagai relawan literasi, relawan dunia akherat…

Berhikmah Lewat GPMB Sulawesi Selatan

Pada 2001 Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) dicanangkan pertamakali oleh Wapres Hj. Megawati Soekarno Putri di Istana Bogor, gerakan membaca mulai tumbuh dan berkembang secara simultan dari pusat ke daerah. Gayung bersambut, Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca berdiri pertama kali di Sulsel, 2005 dengan ketua GPMB Sulsel Drs. Muhammad Syarif Bando, M.M.( Kepala Perpustakaan Nasional RI). Selanjutnya, kami diberi amanah menjadi ketua GPMB Sulsel, dan gerakan membaca mulai menggelinding di kota dan kabupaten di Sulsel.

Kami merintis Perpustakaan Desa di Kab. Jeneponto atas dukungan anggota DPRD Sulsel, H.Andry Arief Bulu dan Bupati Jeneponto Drs.H. Radjamilo, M.P. Berangkat dari Kab. Jeneponto, kami kembali merintis perpustakaan desa dan Gerakan Membaca dan Nonton Sehat di Kab. Takalar, tepatnya pada 2005-2010.

Kami berkelana dari satu desa ke desa lain, membangun minat literasi dari sekolah-sekolah, pondok pesantren di Kab. Takalar. Kami juga membuka kerjasama dengan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu terutama menyediakan ruang baca yang sehat dan produktif. Pola kemitraan dan kerjasama menjadi inti kesinambungan dari program literasi di Kab. Takalar dan Kab. Jeneponto.

Untuk mempertahankan konsistensi gerakan literasi di Kab. Takalar dan Kab. Jeneponto, kami pula melibatkan tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian yang tinggi atas gerakan literasi dari kampung-kampung. Salah satu gagasan kami di Kab. Takalar Sulsel adalah menggagas kerjasama dengan Komisi Penyiaran Indonesia Sulsel” Gerakan Nonton Sehat “ yang disepakati Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca Sulsel, Bupati Takalar Dr.H. Ibrahim Rewa, M.M. dan Ketua KPID Sulsel DR.H.M. Aswar Hasan, M.Si. Tepatnya 2005 di Kota Pattallassang Kab. Takalar.

Menggagas Gerakan Sayang Buku dan Ibu Suka Membaca

Pada 2009, kami memprakrasai Gerakan Sayang Buku dan Ibu Suka Membaca Kab. Bantaeng. Gerakan moral dan seruan sekaligus ajakan membaca menjadi gaya hidup kaum ibu-ibu, pertamakali dicanangkan oleh Bupati Bantaeng, Prof.Dr.Ir.H.M. Nurdin Abdullah, M.Agr, (saat ini Gubernur Sulsel) di pelataran Kantor Perpustakaan dan Arsip Kab. Bantaeng, 2009.

Gerakan Sayang Buku dan Ibu Suka Membaca Sulsel yang dicanangkan oleh Bupati Bantaeng, sekaligus menempatkan Kab. Bantaeng sebagai Kabupaten Sayang buku pertama di Sulsel. Gerakan cinta dan mewujudkan dalam bentuk karya dan nyata di tengah-tengah masyarakat menjadi gerakan kolosal ibu suka membaca buku di perpustakaan, Taman Baca dan Komunitas Baca.

Intinya, gerakan ibu suka membaca menempatkan ibu sebagai pilar utama tumbuhnya gerakan literasi dalam sebuah keluarga. Kami menyadari betul bahwa gerakan membaca yang menjadikan sasaran anak-anak dan remaja, takkan bisa berhasil dengan baik tanpa membangun kebiasaan membaca kaum ibu. Ibu peletak pondasi dasar utama tumbuhnya minat literasi keluarga.

Karena itu, kaum ibu secara terus menerus digerakkan dalam sebuah kegiatan membaca dengan membuat jadual membaca dua kali dalam sepekan. Tempatnya di komunitas baca yang telah kami siapkan di mana anak-anak berkumpul membaca, bercerita, bernyanyi dan berpuisi. Disinilah ibu-ibu hadir dan tak sekadar hadir, tapi mereka juga dilibatkan total dalam gerakan literasi kolosal yang kami sebut” Gerakan Sayang Buku dan Ibu Suka Membaca”.

Gerakan Aksi Sejuta Buku untuk Sulsel

Untuk memenuhi ketersediaan sumber-sumber bacaan buku di Komunitas dan Taman Baca, diperlukan adanya aksi kolosal mengumpulkan buku-buku untuk perpustakaan desa, kelurahan dan taman baca yang ada di Kota Makassar maupun di Sulsel. Kegelisahan dan keprihatinan kurangnya buku-buku bermutu, membuat kami melahirkan ide dan gagasan untuk mengumpulkan buku-buku dari berbagai tokoh masyarakat, seniman, politisi, birokrat dan pengusaha. Saya mencanangkan Gerakan Aksi Sejuta Buku Sulsel yang pertamakali dicanangkan oleh Gubernur Sulsel, Dr.H. Syahrul Yasin Limpo, S.H,M.Si, pada 17 Maret 2012 di Pelataran Lt 1 Mall MaRI Makassar, Jalan Ratulangi. Pencanangkan ditandai aksi pertamakali Gubernur Sulsel menyumbangkan sebuah buku, kemudian disalurkan melalui kotak buku yang disusul para undangan tokoh dan penulis serta penggerak literasi Sulsel.

Sebelumnya, kami mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat Sulsel di Gelanggang Olah Raga Kotamadya Tanjung Priok sekaligus menggagas gerakan aksi donasi buku untuk TBM dan Komunitas Baca di Kota Makassar. Kegiatan kolosal pengumpulan buku dibuka oleh Walikota Makassar, Ir. H.M. Ilham Arief Sirajuddin, M.M., dihadiri Bupati Takalar Dr.H. Ibrahim Rewa, M.M. Ketua Umum Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca Indonesia Hj. Suprihati, S.H.M.B.A. Atas gagasan kami yang bekerjasama dengan Pemkot Kota Makassar berhasil mengumpulkan 6.000 eksemplar buku kemudian disalurkan di 14 titik TBM di Kota Makassar.

Gagas Kampanye Membaca 15 Menit di SMA 17 dan SMP 6

Pada bagian ini saya akan berbagi tentang ikhtiar untuk menumbuhkan minat baca. Saya menyebutnya”kerja-kerja Membangun Peradaban”. Karena memang begitulah sejatinya dunia literasi. Hanya mampu digeluti oleh mereka yang terpanggil hatinya. Punya jiwa pengabdian tinggi dan tak menjadikan materi sebagai tujuan utama. Penggiat literasi itu harus punya prinsip.

Semula hal besar, selalu bermula dari perkara kecil. Seorang pendaki gunung yang handal, pasti memulai perjalanannya dari selangkah demi selangkah kaki. Indahnya busana yang kita sandang, sejatinya adalah rajutan dari helai-helai benang. Begitu pun dengan membaca. Untuk menjadikan membaca sebagai gaya hidup, mulailah dari perkara yang kecil-kecil dulu. Setelah menggagas SBLC, lahirlah gagasan untuk melakukan kampanye membaca 15 menit setiap hari di perpustakaan SMA 17.

Pencanangan kampanye ini pertamakali lahir di SMA Negeri 17 Makassar, kemudian diresmikan oleh Drs.Mustari, M.Si, selaku Kepsek SMA 17 dirangkaikan dengan pengukuhan dan pelantikan SBLC dan Duta Baca SMA 17. Seventeen Book Lovers Club diresmikan pada Mei 2013 dengan duta baca Dea Ambarwati Kusuma, angkatan 21 SMA 17 saat ini dokter muda alumni Fakultas Kedokteran Unhasm 2019. Sebagai penggagas, saya bangga karena selain putri pertama kami terpilih Duta Baca SMA 17 juga saya telah berhasil memanfaatkan potensi anak kandung kami sebagai penyebar virus kebiasaan membaca di lingkungan sekolah eks Rintisan Bertaraf Internasional ini.

Mengapa 15 menit saja? Tidak perlu lama-lama. Yang penting terbentuk “habbits” membaca dalam diri siswa. Kalau sudah terbiasa, akan jadi kecanduan. Karena kalau sudah kecanduan membaca, sehari tanpanya terasa hampa. Efek, candu inilah yang coba kami ciptakan melalui gerakan 15 menit membaca buku.

Kami teringat tentang kisah seorang ilmuwan asal Inggris Prof. William Osler, namanya. Osler memiliki keahlian dalam bidang bedah. Sebelum melakukan operasi di ruang bedah,k Osler selalu menyediakan waktu 15 menit untuk membaca sebelum memasuki ruang operasi.

Teringat dari Osler inilah, mewajibkan diri kami untuk membaca 15 menit setiap hari. Lalu menularkan ke orang-orang tercinta. Ternyata membaca 15 menit sehari, punya efek yang luar biasa. Dan inilah senjata seruan moral yang selalu kami bawa kemana-mana, tidak hanya di SMA 17. Di SMP Negeri 6 Makassar pun, kami berusaha menyebarluaskan virus fositif ini. Kekuatan yang kami miliki, selain karena Ketua Komite di SMP 6 dan Sekretaris Komite di SMA 17 juga karena kami punya hati yang selalu berpihak pada gerakan literasi. Di SMP 6 kami bersama Kepsek Dr.H.Hasbi, M.Pd, membentuk Spensix Book Lovers Club dan hasilnya berhasil mengantar Fadiah Hasbi, salah seorang siswi SMP 6 melahirkan dua judul buku kumpulan cerita.

Menggagas Gerakan TV Mati

Gerakan TV Mati adalah sebuah sikap moral yang menempatkan waktu membaca sekaligus memberi kesempatan yang luas bagi anak-anak untuk konsentrasi belajar di rumah. Pada jam-jam tertentu, tidak boleh ada TV hidup semasa waktu belajar anak-anak. Mula-mula Gerakan TV Mati yang kami gagas dalam rumah tangga kami sejak 2004, memeroleh perlawanan yang deras dari internal keluarga. Namun, sebagai ayah dari anak-anak kami,memilih kukuh dan konsisten menerapkan sebuah aturan di mana pada jam belajar mulai pukul 18.00 sore hingga 22.00 malam tidak boleh ada TV hidup.

Budaya menempatkan waktu belajar dan waktu membaca berlaku dalam internal keluarga kami mulai hari Minggu- Jumat malam. Selebihnya, pada Sabtu malam dan Minggu hingga sore boleh anak-anak menonton TV. Gerakan ini berhasil menjadi sebuah role model pendidikan karakter untuk menghargai waktu belajar dalam rumah tangga kami hingga saat ini. Dan inilah gerakan budaya menempatkan membaca dan waktu belajar sangat penting dari segalanya. Dan sebagai ayah dari anak-anak kami, kami telah berhasil menempatkan pembelajaran disiplin waktu dan menghargai membaca sebagai jalan tol menuju peradaban yang lebih baik. Gerakan TV Mati pada jam-jam belajar sangat penting.

Merintis Perpustakaan Lorong Kampung

Awalnya, kami merintis rumah buku melalui Komunitas Deras, pada 2010 di Jl. Muslim Daeng Tutu, Kompleks Perumahan Griya Tata Harapan B11. Ide dan gagasan membuka komunitas baca Deras di rumah kami, selain menyebarkan virus kebiasaan membaca yang kuncinya dari keluarga kami sendiri, juga menyebarkan di lingkungan tetangga, kompleks perumahan dan pada level RT, RW menjadi sebuah gerakan kolosal yang berksinambungan.

Pada setiap Sabtu dan Minggu, pada pukul 16.00 sore di rumah kami yang ukuran sederhana, anak-anak berkumpul 100 orang secara rutin terus menerus melakukan kegiatan membaca di Komunitas Deras. Menariknya, karena sebagian relawan yang terlibat adalah penggerak minat baca di Sulsel yang rela dan ikhas memberikan ilmu dan pengalamannya pada anak-anak secara terus menerus setiap hari Sabtu dan Minggu sore.

Dari aspek materi, disajikan selain membaca rutin buku-buku terbaru, juga diberikan life skill cara menulis puisi, menggambar, dongeng, dan berpidato. Adapun para mentornya adalah seniman, budayawan Sulsel serta tokoh dongeng nasional yang berada di Kota Makassar.

Untuk mengemas agar menarik, diberikan materi yang dinamis dan berubah-ubah. Sebagai perintis, kami tak pernah berhenti terus menerus melakukan inovasi. Misalnya saja, membuka kerjasama dengan SIKIB dan Rumah Pintar Indonesia. Selain melibatkan tokoh-tokoh nasional penggerak literasi di Indonesia, juga birokat, politisi dan pengusaha.

Nah, komunitas Deras sejurus dengan beranjak dewasa para relawannya yang sebagian besar dari anak-anak kami dari SMA 17 dan SMP Negeri 6 Makassar, mulai ditinggalkan awak penggeraknya. Namun, kesinambungan dan kegiatan komunitas Deras terus menerus tetap jalan. Syukur Alhamdulillah, pada pertengah 2017, kami bersama tokoh-tokoh masyarakat Kelurahan Parangtambung, kembali merintis dan menggagas Perpustakaan Lorong Kampung Parangtambung.

Mengapa Perpustakaan Lorong Parangtambung?

Saya menyadari betul bahwa sesungguhnya lorong adalah sebuah sel, berarti di lorong-lorong ada sebuah kekuatan besar yang bisa menjadi peradaban. Sebagai sebuah sel, lorong literasi menjanjikan sebuah masa depan yang gemilang. Karena itu, lorong literasi adalah sebuah miniatur peradaban di dalamnya terjadi interaksi masyarakat dengan masa depannya. Berbicara tentang lorong Literasi, maka perlu ada ruang baca bagi masyarakat terutama mencegah terjadinya aksi-aksi gang motor bagi anak-anak muda.

Kemudian, kami menggagas perpustakaan lorong atas dukungan warga masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat kelurahan Parangtambung. Awal ceritanya, pada awal 2017 telah hadir peserta KKN Unhas angkatan 96 yang bertamu di kediaman kami di GTH B11. Disinilah kami menyampaikan perlunya perpustakaan lorong berdiri, tepatnya di Lorong 7 Jalan Daeng Tata 3 Kelurahan Parangtambung. Gayung bersambut, kami menyampaikan gagasan perlunya kehadiran perpustakaan Lorong Parangtambung, dan dari pihak KKN Unhas Angkatan 96 melakukan riset dan pertemuan warga lorong 7. Benarkah, di lorong 7 diperlukan perpustakaan Lorong Parangtambung?

Dari kesimpulan pertemuan dengan warga masyarakat, peserta KKN Unhas 96 dan pihak LPM Parangtambung, disepakati didirikan perpustakaan Lorong Parangtambung. Ide kecil untuk sebuah perubahan, berdirilah Perpustakaan Lorong Parangtambung yang diresmikan oleh Walikota Makassar, Danny Pomanto, tepat pertengahan 2017.

Kami menyadari betul dan takkan ingin terjebab pseudo literasi yaitu asal pandai meresmikan dan setelah diresmikan tak ada lagi kegiatan. Kami bersyukur karena nyaris berdiri kurang lebih dua tahun, kegiatan di perpustakaan Lorong Parangtambung berjalan terus menerus dengan memanfaatkan ruang baca literasi. Tak sekadar berkumpul, tapi juga sarana membangun interaksi sosial yang sehat dan dinamis.

Mengapa perpustakaan Lorong Parangtambung bisa bertahan? Salah satu kuncinya adalah karena kami memegang prinsip utama, memberikan layanan ruang baca yang sehat, luwes dan terbuka, tanpa adanya sekat.
Di perpustakaan Lorong berhasil membuka kerja sama dengan pihak luar terutama warga masyarakat yang ada di sekitar lokasi perpustakaan Lorong Parangtambung. Selan telah terbangun sistem pengembangan perpustakaan Lorong yang begitu rapi, juga telah berhasil mempertahakan swadaya warga masyarakat agar perpustakaan Lorong Parangtambung bisa eksis melakukan kegiatan-kegiatan rutin setiap hari Minggu sore, pukul 16.00 sore hingga menjelang Magrib.

Perpustakaan Lorong Parangtabung bukan hanya sebagai ruang baca toh, tapi juga tempat berkumpul warga masyarakat bertukar pikiran untuk memecahkan setiap persoalan yang muncul di tengah-tengah mereka. Kekuatan pondasi perpustakaan Lorong karena Relawan yang terdiri dari kaum remaja, kaum ibu dan kaum bapak-bapak bersatu padu menghidupkan aktivitas perpustakaan lorong Parangtambung.

Di perpustakaan Lorong Parangtambung, bukan sekadar lorong literasi, tapi juga menjadi sebuah Lembah Para Juara. Koordinator Relawan Perpustakaan Lorong, Resky Amalia Syafiin, S.H., terpilih sebagai alumni terbaik Unhas 2018 sekaligus terpilih menjadi Duta Baca Perpustakaan Sulawesi Selatan 2018. Dea Ambarwati Kusuma, S.Ked, Relawan Perpustakaan Lorong Parangtambung mewakili Fakultas Kedokteran Unhas sebagai Duta Kemanusiaan Bencana Tsunami Palu, 2018. Disini pula lahir Finalirin, juara dunia karateka di Belgia, 2018.

Selain perpustakaan Lorong yang kami rintis di Lorong 7 Jl. Daeng Tata 3 juga telah kami rintis perpustakaan Lorong di Jl. Daeng Ngadde Parangtambung dan Perpustakaan Lorong Tanjung Bayang, Kelurahan Tanjung Merdeka, Kecamatan Tamalate Kota Makassar. (*)

*Bachtiar Adnan Kusuma (Tokoh Penggerak Minat Baca Nasional, Penggagas Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis Indonesia, Ketua LPM terbaik 1 kota Makassar, Tokoh Penggagas dan Motivator Perpustakaan Lorong kota Makassar)

Editor: Puguh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here