Marhaban Ya Ramadhan

0
41
views

Oleh: Ma’arif Amiruddin
Founder Pajokka Event
Praktisi Property Syariah
Aktivis Dakwah Kaffah

 

Alhamdulillah, bulan yang ditunggu-tunggu segenap ummat Islam telah tiba, bulan yang di dalamnya dilipatgandakan berbagai amalan, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Tidak hanya kalangan orang-orang yang rajin ibadah saja yang bergembira dengan bulan Ramadhan, kaum pedagang dan anak-anak pun ikut bergembira. Pedagang (khususnya kuliner) gembira dengan banyaknya orderan yang terjadi dan anak-anak berbahagia dengan banyaknya kue-kue yang bertebaran.

Salah satu tujuan bulan Ramadhan adalah agar manusia menjadi bertaqwa, sebagaimana firman ALLAH swt. dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas ummat sebelum kalian agar kalian bertaqwa.”

Dengan berpuasa seseorang akan lebih dekat dengan derajat taqwa, dan taqwa itu lebih dekat dengan Surga.

Namun, tentu puasa di bulan Ramadhan bukan satu-satunya syarat mutlak untuk memdapatkan gelar taqwa, masih banyak amalan lain dalam Al-Qur’an yang jika dikerjakan dapat mengantarkan pada derajat taqwa.

Intinya adalah manusia jika ingin mencapai derajat taqwa secara sempurna, maka ia harus menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sekuat mungkin. Jika ia terjatuh dalam dosa, maka ia harus segera bertaubat dan bertekad untuk tidak mengulanginya kembali.

Sayangnya, sebagian masyarakat kita memang banyak yang berpuasa, namun tetap mengambil riba, tetap sholat, tapi juga tetap berbohong, sering sedekah, tapi juga suka korupsi. Padahal ALLAH telah mencela orang-orang yang mengambil sebagian perintah dari Al-Qur’an dan meninggalkan sebagiannya.

Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Perlu diketahui, terkadang manusia berbuat kesalahan akibat ikut-ikutan dengan orang disekitarnya, atau dimudahkan oleh kebijakan pemerintah untuk berbuat dosa, misalnya, riba itu jelas-jelas haram! (tidak ada perbedaan ulama di dalamnya) Namun pemerintah (dengan sistem kapitalis demokrasinya) memudahkan masyarakat untuk mengambil riba, bahkan menganjurkan!

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Tak lain dan tak bukan, ummat Islam harus memiliki kekuasaan, kekuasaan yang menerapkan segala perintah ALLAH secara totalitas. Dan hal itu tidak akan bisa terjadi jika negara masih menganut sistem kapitalis. Karena Islam dan Kapitalisme ibarat air dan api yang tak mungkin bersatu.

Sekalipun pemimpinnya orang Islam yang taat, namun jika sistem pemerintahannya masih bukan dari Islam, hasilnya hanya nol besar.

Jadi, tidak hanya pemimpinnya yang perlu diganti, tapi juga sistem pemerintahannya.

Dan jika itu terjadi, insya ALLAH, lahirlah banyak individu yang bertaqwa, masyarakat yang bertaqwa dan negara yang bertaqwa. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here