Menginspirasi Dari Lorong Buku Parangtambung (Catatan Hari Buku 17 Mei 2019)

0
29
views

Oleh: Bachtiar Adnan Kusuma *

Apakabarkampus.com – Benarlah apa yang dikemukakan seniman Austria, Franz Kafka bahwa buku harus menjadi kampak untuk menghacurkan lautan beku di dalam diri manusia. Adapun lautan beku yang dimaksudnya adalah kebodohan manusia. Tak heran kalau Program for International Student Assessment (PISA) pada 2009 menunjukkan Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negara di dunia yang kemampuan membacanya masih rendah. Padahal, UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 menegaskan Pasal 4 Ayat 5 bahwa pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung.

Kalau minat baca rendah, maka pasti ada efek domino setelahnya. Contohnya, anak-anak akan lebih gemar menonton. Sahabat mereka bukan lagi buku, tapi televisi. Dan satu hal yang pasti terjadi, mereka lebih memilih menghabiskan waktunya di depan TV sekitar empat hingga lima jam perhari atau sekitar 30 hingga 35 jam dalam sepekan daripada membaca di perpustakaan. Artinya, setahun anak-anak kita menonton televisi sekitar 1.600 jam. Padahal kata pepatah, buku itu gudangnya ilmu pengetahuan. Dan, perpustakaan gudangnya buku. Artinya perpustakaan itu “maha gudangnya“ ilmu. Tapi coba kita seksamai kondisi perpustakaan sekarang betul-betul menjadi gudang ilmu. Kondisinya memang persis gudang, berantakan dan berdebu. Ironisnya, minim pengunjung dan lebih tepat dijuluki “Museum buku”. Inilah fenomena perpustakaan yang terjadi. Termasuk di sekolah-sekolah.

Perpustakaan Lorong Vs Pseudo Literasi

Berkiblat pada pernyataan Dauzan Farook, menegaskan bahwa senjata untuk melawan kebodohan adalah dengan buku. Bukankah dari buku banyak orang-orang besar lahir mulai dari intelektual, pengusaha, pejabat dan tokoh-tokoh pencerah masyarakat. Namun, ironisnya, Indonesia dengan jumlah penduduknya terbesar 240 juta jiwa hanya mampu menerbitkan sekitar 24.000 judul buku baru pertahun dengan rata-rata cetak perjudul sekitar 3.000 eksemplar, artinya buku baru pertahun beredar hanya 72 juta. Padahal UNESCO menetapkan bahwa 1 orang minimal membaca 7 judul buku baru pertahun (di Indonesia 1 Judul buku baru dibaca 4 orang). Jelaslah, Indonesia berada di urutan ke-60 sebagai salah satu negara paling terendah budaya membacanya dari 65 negara!

Mengapa budaya baca kita rendah? Meier, mempertegas belajar adalah sesuatu yang bersifat holografis, menyeluruh dan konkrit. Jadi buku tak hanya sebagai komoditas belaka, tapi lebih dari itu buku adalah alat yang bisa menambah ilmu pengetahuan. Bukankah Christopher Morley menegaskan bahwa buku sesungguhnya bukanlah kumpulan kertas, tinta dan lem, melainkan menawarkan sebuah kehidupan baru.

Saya bersyukur karena tiga tahun terakhir ini, bersama-sama tokoh masyarakat Kelurahan Parangtambung dan relawan perpustakaan lorong, sedikitpun tak pernah berhenti menggerakkan budaya membaca bagi anak-anak dan warga Lorong 7 Parangtambung. Sebagai sebuah sel, lorong memiliki kekuatan besar untuk merebut masa depan anak-anak kita. Selain perpustakaan lorong melawan pseudo literasi, juga membangun kesadaran anak-anak dan kaum ibu menempatkan membaca sebagai pilar utama memperbaiki kehidupan mereka. Tak heran, jika perpustakaan lorong menjadi salah satu destinasi wisata baca di atas alas prakarsa warga masyarakat. Di perpustakaan lorong inilah lahir duta baca Sulawesi Selatan, Reski Amalia Syafiin, S.H., juara dunia karateka di Belgia, Airin dan duta kemanusiaan bencana tsunami di Palu, Dea Ambarwati Kusuma, S.Ked. Tak sekadar pseudo literasi, tapi sebuah bukti nyata.

Bermula dari Keluarga

Jujur harus diakui, bahwa minat baca kita masih rendah, kendati Pemerintah Provinsi Sulsel, dan Pemerintah Kota Makassar telah menggaungkan Gerakan pentingnya membaca. Namun, hasilnya masih saja berproses. Karena itu, dibutuhkan figur orang tua yang pandai memilih bacaan bagi anak-anaknya. Karena orang tua yang kurang pandai memilih bacaan buat anak-anaknya adalah orang tua yang tak terbiasa bergaul dengan buku-buku. Mengapa orang tua sulit memilihkan bacaan anaknya? Pertama, karena orang tua kurang pengetahuan tentang buku, kedua kurangnya pengalaman membaca, ketiga, kurangnya kesungguhan dalam mengerjakan kedua faktor di atas. Orang yang doyan buku menaruh perhatian pada berita dan informasi tentang buku. Caranya, mereka suka membaca buku-buku di perpustakaan lorong, perpustakaan umum dan berkunjung ke berbagai toko buku yang ada.

Nah, kita patut bersyukur karena virus kebiasaan membaca mulai tumbuh di masyarakat. Industri buku-buku Islam yang selama ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah semakin memperlihatkan kemajuan pesat. Buktinya, dari 280 anggota IKAPI DKI Jakarta, sekitar 35 persen penerbit buku Islam. Dari sekitar 24.000 judul buku baru yang terbit setiap tahun, sekitar 40 persen adalah buku-buku Islam. Dengan meningkatnya minat baca dan minat beli buku masyarakat menunjukkan industri penerbitan buku Islam terdorong karena banyaknya ulama yang menulis, tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh muda bisa menjadi teladan.

Sebagai penggagas perpustakaan Lorong Parangtambung, kami tak mengenal kata jengah, apalagi berhenti mengajak semua lapisan masyarakat agar sadar dan rela mendukung gerakan literasi lokal dengan menyediakan buku-buku bacaan secara sukarela, kemudian disalurkan pada taman baca dan perpustakaan masyarakat, kini tumbuh dimana-mana. Selamat hari buku nasional, 17 Mei 2019.

* Bachtiar Adnan Kusuma  (Penggagas, Motivator dan Tokoh Literasi Sulawesi Selatan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here