Mewujudkan Dua Junnah di Bulan Penuh Berkah

0
16
views

Jeneponto – Apakabarkampus.com – Opini – Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Tidak patut kita melewatkan syukur yang teramat kepada Allahu Arrahman, Arrahim. Yang memberikan kesempatan luarbiasa tak terhingga, sebab kita dipertemukan kembali pada bulan penuh barokah.

Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 185 sebagai berikut:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Sebagai umat yang mengaku bertauhid, dan memiliki syahadatain yang sama. Maka kita mustahil menafikkan Alquran sebagai petunjuk bagi setiap manusia di muka bumi.

Banyak kita dapati bagaimana perubahan drastis terjadi di mana-mana, di sudut-sudut kota hingga pedalaman desa. Tiba-tiba saja semua berubah nuansa.

Kala Ramadhan tiba, umat berbondong-bondong melaksanakan kebajikan. Ibadah? Tak perlu diragukan. Pemandangan ini amatlah indah. Dan hanya akan kita dapati setahun sekali. Bahkan kita akan menemui kemaksiatan pun tiba-tiba berbalut religi.

Terlepas dari apapun itu, kesyukuran tetap tak henti digaungkan. Sebab banyak umat yang mulai mewujudkan taat pada diri mereka. Dan ini adalah implementasi dari salah satu junnah; yakni ketaatan individu.

Umat laksana para shahabat-shahabiyah, yang ibadahnya tak terputus, penjagaan wudhunya amat menggugu, ibadah nafilah menjadi pelopor langkah di setiap harinya. Sedekah dan berlaku kebajikan tak ada duanya.

Ketaatan individu menjadi pelopor bagi setiap pengembannya, yang akan mengantarkan mereka lebih dekat kepada Allah. Namun, ketaatan individu saja tidaklah cukup untuk mengimplementasikan cita-cita mulia yakni, melanjutkan kehidupan Islam.

Bukan sekadar keislaman dan ketakwaan seorang hamba pada Rabbnya, tapi juga pada skala jamaah. Sebab jamaah akan menjadi pengawas bagi tiap-tiap individu yang lain.

Jamaah adalah pengantar untuk mewujudkan junnah ke dua di bulan penuh berkah. Telah kita dapati individu-individu yang taatnya maasya Allah. Telah banyak pula kita dapati jamaah-jamaah yang mendakwahkan Islam di tengah umat dan menjadi pionir mewujudkan cita-cita mulia Islam kaaffah, Islam rahmatanlil alamin.

Namun demikian. Hadirnya jamaah setelah junnah pertama tak lantas membuat cita-cita itu terealisasi(tercapai). Sebab kemuliaan cita-cita yang tertanam kuat dalam hati para pengembannya, barulah akan terimplementasi apabila junnah kedua telah kita dapatkan.

Di bulan penuh barokah ini, semoga juga tercatat sebagai bulan penuh rahmah sebagaimana Allah karuniakan rahmah pada masa yang lalu. Sebagaimana suksesnya perang Badar, penaklukan kota Makkah, perang Qadisiyah mengalahkan Persia, menghancurkan Romawi di Tabuk, Sirakusa, maupun Manzikert, penaklukan Andalusia, kekalahan Tartar Mongol oleh Sultan Qurtuz, kemenangan Shalahudin atas Pasukan Salib Jerusalem, hingga suksesnya Mesir mengalahkan Israel yang terjadi di bulan Ramadhan. Dan semoga Allah menyegerakan nasrullah untuk khilafah yang menjadi janji sekaligus kabar gembira yang tiada duanya.

Bulan penuh berkah adalah momen paling tepat untuk mewujudkan dua junnah. Di mana hadir seorang Pemimpin yang menerapkan syariat Islam di segala lini kehidupan. Yang menjadikan Islam sebagai sumber hukum dan acuan hidup bermartabat mulia. Bukan sekadar wacana atau janji buta. Tapi realita sebagaimana lebih dari 13 abad Islam pernah berjaya menutur dari sejarah.
Yang dengannya kezaliman tumbang, kekacauan dimusnahkan, dan persatuan dikokohkan. Mewujudkan dua junnah di bulan barokah ini tidak lah mudah namun tidak pula mustahil. Sebab pengembannya adalah orang-orang yang yakin atas janji Allah.

Allah ta’ala berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 55)

Junnah ke dua jelaslah tidak akan kita dapati hari ini, di mana wadah berlabuh adalah lumpur penuh kotoran dan nista. Saat semua aturan dibuat oleh nafsu dan kepentingan para perancangnya, menetapkan hukum sesuai proporsi penetapan nestapanya. Mencampakkan hokum-hukum dari-Nya. Bahkan tak sedikit didapati penghinaan terhadap syariat-syariatNya.

Bulan ramadhan menjadi bulan yang penuh pengharapan atas kezaliman di muka bumi segera dihempaskan. Bulan yang dengannya doa-doa perjuangan dan kebangkitan umat tak henti dilangitkan. Agar kiranya Allah ridho menetapkan dan menurunkan nasrullah yang lama ditunggu setiap umat. Yang akan membebaskan umat dari keterpurukan, dari penindasan dan dari kejahiliyaan.
Mewujudkan dua junnah di bulan penuh berkah adalah impian yang menggugu di setiap hati para pejuangnya.

Kita berdoa semoga Allah menyegerakannya. Sembari kita berusaha memantaskan diri menjadi pengemban-pengemban ideologi Islam. Sungguh janji yang takkan pernah bersua dengan ingkar adalah dari-Nya.
Wallahu alam bisshawab.

Penulis : Habibah Nafaizh Athaya
Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here