Buku Panduan Hidup yang Mulai Ditinggalkan

0
32
views

Oleh: Ma’arif Amiruddin
Founder Pajokka Event
Praktisi Property Syariah
Aktivis Dakwah Kaffah

 

Bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an, sebagaimana firman ALLAH swt. dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil).”

ALLAH swt. telah menginformasikan kepada kita semua bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk kehidupan, siapa yang mau dirinya selamat di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia mengikuti buku petunjuk (Al-Qur’an) tersebut.

Ibarat orang yang bepergian, jika tanpa peta, maka akan sulit baginya untuk sampai ke tempat tujuan. Begitupun dalam kehidupan ini, ibarat seseorang yang sedang mencari kampung halamannya (Surga), maka perlu adanya “peta”.

Namun sayangnya, dewasa ini banyak dari kalangan ummat Islam yang “mengabaikan” Al-Qur’an, ia tetap membacanya, namun tak mau mendalami dan mentadabburi isinya, sehingga petunjuk-petunjuk hidup yang termaktub di dalamnya tidak diketahui.

Memang tak ada salahnya jika rajin membaca Al-Qur’an, bahkan itu memang sudah seharusnya dilakukan oleh setiap muslim, apalagi di bulan Ramadhan, dimana amal kebaikan dilipatgandakan sedemikian rupa.

Para ulama menjadikan tilawah Al-Qur’an sebagai salah satu amal yang banyak mereka kerjakan pada bulan Ramadhan, Imam al-Aswad bin Yazid menghatamkan Al-Qur’an setiap dua malam. Imam Qatadah menghatamkan Al-Qur’an tiap tiga hari sekali dan menghatamkannya setiap malam pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Imam Syafi’i menghatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali sepanjang Ramadhan. Imam Malik ketika memasuki Ramadhan, beliau meninggalkan kajian hadits untuk fokus pada tilawah Qur’an dan kajian-kajian Qur’an.

Masya ALLAH! Betapa jauh perbandingan kita dengan ulama-ulama terdahulu, saat ini mungkin ada yang sudah sangat bangga jika berhasil menghatamkan Al-Qur’an sekali dalam bulan Ramadhan, tentu ini baik, namun kita sangatlah ketinggalan dengan ulama-ulama terdahulu.

Oleh sebab itu, kami mengajak pada diri kami pribadi dan teman-teman sekalian agar kiranya bisa memperbanyak lagi interaksi dengan Al-Qur’an, khususnya di bulan yang mulia ini.

Selain membaca, kita juga dianjurkan untuk menghafal Al-Qur’an, karna sesungguhnya ALLAH memliki “keluarga” di muka bumi, yakni orang-orang yang menghafal Al-Qur’an. Keutamaan lainnya, di akhirat kelak, kedua orang tua orang yang hafal Qur’an akan dikenakan mahkota berlapis cahaya, dan ini tentu merupakan kemuliaan yang sangat besar.

Di samping itu, kita juga dituntut untuk mentadabburi dan mengamalkan seluruh isi Al-Qur’an, ketika Al-Qur’an menyuruh kita meninggalkan riba, maka kita harus meninggalkan riba. Ketika Al-Qur’an menyuruh menjauhi zina, maka kita harus menjauhi zina. Entah kita suka atau tidak terhadap apa yang dititahkan oleh Al-Qur’an, kita tetap harus mengikutinya, keculai kita tidak mau selamat di dunia dan akhirat.

Ketundukan terhadap Al-Qur’an tidaklah terbatas hanya pada individu semata, masyarakat, bahkan negara sekalipun harus tunduk dan patuh terhadap Al-Qur’an. Bagaimana bukti ketundukan negara terhadap Al-Qur’an? Yakni dengan tidak mengambil hukum, selain dari Al-Qur’an, hadits dan apa yang ditunjuk oleh keduanya.

Namun sayangnya, pada hari ini tidak ada satupun negara yang tunduk secara totalitas terhadap Al-Qur’an, yang ada hanya tunduk pada sebagian perkara saja, Al-Qur’an dijadikan produk prasmanan, yang suka diambil, yang tidak suka diabaikan. Na’udzubillah.

Oleh karenanya, sudah saatnyalah kita kembali kepada Al-Qur’an, kembali bermesraan dengan sang Pencipta. Sudahilah segala bentuk pengkhianatan terhadap Al-Qur’an, tidak lelahkah kita?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here