Muhammad Syarif Bando dan Bachtiar AK: Penulis Buku dan Kebangkitan Literasi Indonesia

0
36
views

Apakabarkampus.com – Sekjend Asosiasi Penulis Profesional Indonesia, Bachtiar Adnan Kusuma, menyampaikan keyakinannya akan prospek pergerakan literasi di Indonesia terus berkembang dengan baik. Asal saja, kata tokoh literasi Sulawesi Selatan ini, semua pihak terlibat dan mau melibatkan diri secara sukarela dan bersama-sama memajukan dunia literasi Indonesia. Sebab bangsa Indonesia takkan bisa menjadi bangsa yang besar selama masyarakatnya belumlah menjadi masyarakat literat yang menempatkan posisi literasi sebagai pondasi utama. Bayangkan saja, lanjut BAK akibat dari ketertinggalan Indonesia sebagai bangsa literasi menyebabkan kerugian negara sekitar 10,7 trilyun dollar AS kalau disetarakan sekitar Rp 144 trilyun akibat masih tingginya tingkat iliterasi di Indonesia.

“Kerugian inilah mestinya menjadi sebuah catatan penting bagi pemerintah untuk menjadikan literasi sebagai program prioritas”, tegas BAK.

Menurut Ketua Forum Peduli Pendidikan Sulsel ini, bangsa Indonesia sebaiknya berkaca pada bangsa Australia yang dikenal dengan terobosannya Premiers Reading Challenge yang memberikan penghargaan membaca dari seorang pimpinan kepada siswa yang mampu membaca buku selama sebulan. Program pemberian penghargaan kepada siswa dari kepala sekolah atau pimpinan pemerintahan adalah program literasi berkepanjangan.

“Mengapa pemerintah pusat dan pemerintah daerah tidak memberikan apresiasi pada siswa dan masyarakat yang mampu membaca buku rutin selama sebulan di setiap lembaga di mana mereka melakukan aktivitas”, kata Bachtiar Adnan Kusuma.

Sementara, Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, menanggapai pernyataan Sekjend Penpro pusat tersebut. Menurut Syarif Bando, kurang setuju kalau literasi lebih dinilai dari aspek ekonomi. Selain karena ketertinggalan kita dari aspek literasi tidak bisa dinilai rupiah kongkrinya, juga karena Jepang, Korea dan Cina yang tidak memiliki sumber daya alam yang berlimpah, namun mereka mampu menjadi sebuah negara maju dan kaya karena literasinya baik. Syarif Bando berpendapat kalau literasi adalah kedalaman pengetahuan seseorang yang dibuktikan dengan kemampuannya menciptakan barang dan jasa yang bisa dipakai dalam kompetisi global.
Karena itu, Syarif berpesan agar BAK dan kawan-kawan menghimpun kekuatan untuk mendekati para gubernur, bupati dan walikota agar mereka mau menulis visi misi dan program kerjanya sekaligus potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia adalah bisa menjadi peluang besar bagi para penulis. Syarif berharap para penulis lebih memusatkan diri menulis buku-buku terapan. Selain penulis punya kelebihan dari ilmuwan karena seorang penulis meskipun tidak ahli di bidangnya, namun ia mampu menulis dengan merangkai berbagai referensi yang ada.

“Saya berharap peluang ini bisa ditangkap dan dimanfaatkan agar para industri perbukuan bisa berkembang dengan baik,” harap Pembina Penpro Pusat ini. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here