4 Tips Agar Bisa Konsisten

0
31
views

Oleh: Ma’arif Amiruddin
Founder Pajokka Event
Praktisi Property Syariah
Aktivis Dakwah Kaffah

 

Tak terasa Ramadhan telah meninggalkan kita, padahal rasa-rasanya kita belum puas bercumbu dengannya. Namun seperti itulah waktu, kadang kala berlalu tanpa disadari, terus bergerak tanpa henti. Lantas yang menjadi persoalan ialah apakah kita telah memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya?

Ramadhan adalah bulan ‘training‘, kita digembleng untuk senantiasa bersabar dalam ketaatan, menahan diri dari makan, minun, dusta dan berbagai kemaksiatan lainnya. Jika di waktu Ramadhan kita rajin sholat di masjid, rajin berpuasa, rajin sholat malam, rajin tadarrusan, maka seharusnya diluar Ramadhan kebiasaan-kebiasaan baik tersebut tidak ditanggalkan begitu saja.

Dan memang istiqomah dalam ketaatan itu berat, namun sangat pantas untuk diperjuangkan, sebab hadiahnya bukan kulkas dua pintu ataupun mobil mewah, tapi sesuatu yang jauh lebih baik daripada keduanya, yakni Surga.

Orang-orang yang tetap istiqomah dalam kebaikan selepas bulan Ramadhan dapat dikategorikan sebagai orang yang bertaqwa, orang yang berhasil mendapatkan buah dari Ramadhan itu sendiri. Orang yang bertaqwa memiliki beberapa ciri-ciri, menurut al-Hasan, misalnya, “Orang bertaqwa memiliki sejumlah tanda yang dapat diketahui. Di antaranya: jujur/benar dalam berbicara. Senantiasa menunaikan amanah. Selalu memenuhi janji. Rendah hati dan tidak sombong. Senantiasa memelihara silaturahmi. Selalu menyayangi orang-orang lemah/miskin. Memelihara diri dari kaum wanita. Berakhlak mulia. Memiliki ilmu yang luas. Senantiasa bertaqarrub kepada ALLAH.” (Ibn Abi ad-Dunya, Al-Hilm, I/32).

Terkait taqwa pula, Wahab bin Kisan bertutur bahwa Zubair ibn al-Awwam pernah menukis surat yang berisi nasehat untuk dirinya. Di dalam surat itu dinyatakan, “Amma ba’du. Sungguh orang bertaqwa itu memiliki sejumlah tanda yang diketahui oleh orang lain maupun dirinya sendiri, yakni: Sabar dalam menanggung derita. Ridha terhadap qhada‘. Mensyukuri nikmat. Merendahkan diri (tunduk) dihadapan hukum-hukhm al-Qur’an.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, I/170; Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah Awliya’, I/177).

Memang sulit untuk istiqomah, karena itu Imam al-Qusyairi berkata, “Istiqomah itu hanya bisa dijalankan oleh orang-orang besar. Sebabnya, istiqomah itu menyimpang dari kebiasaan, menyalahi adat dan kebiasaan sehari-hari, teguh dihadapan ALLAH swt. dengan kesungguhan dan kejujuran.”

Lantas bagaimana agar kita senantiasa istiqomah dalam kebaikan? Menurut hemat penulis, yang pertama adalah:

1. Mengingat tujuan hidup

Tujuan kita diciptakan tak lain dan tak bukan adalah untuk beribadah kepada ALLAH swt., jangan sampai kemilaunya dunia membuat kita lupa akan tujuan hidup kita. Oleh karenanya, ketika rasa malas atau kecenderungan bermaksiat menghalangi kita untuk menunaikan apa yang pernah kita tunaikan selama Ramadhan, maka ingatlah kembali apa yang menjadi tujuan hidup kita. Dengan begitu, insya ALLAH, semangat akan kembali berkobar.

2. Menuntut ilmu

Menuntut ilmu adalah kewajiban, indahnya lagi, dalam menuntut ilmu kita bisa mendapatkan banyak bonus, sebut saja seperti ketenagan, teman yang baik, kesibukan yang produktif, kecerdasan, keberaniaan, pahala, kedewasaan dan lain sebagainya. Dan menuntut ilmu pula dapat menstimulus pikiran kita agar tetap semangat dalam menjalankan ketaatan demi ketaatan.

3. Bergaul dengan orang-orang shaleh

Tempat kita bergaul sangat mempengaruhi karakter kita, dan kita bisa dinilai dari teman-teman sepergaulan kita. Orang yang jahat sekalipun jika ia bergaul dengan orang-orang baik, maka ia cenderung akan menjadi baik pula. Ibaratnya, jika berteman dengan penjual parfum, jika tidak dapat parfum gratis, minimal kita mencium bau harumnya. Jika berteman dengan pandai besi, jika tidak terkena percikan api, minimal kita terkena debunya.

4. Memaksa diri

Pilih mana, dipaksa masuk surga atau dibiarkan masuk neraka? Mungkin Anda akan memilih yang pertama, karna saya juga begitu. Oleh karenanya, belajarlah memaksa diri dalam kebaikan, jangan terus menerus terkungkung dan diperbudak oleh hawa nafsu. Jika mengantuk dan masjid sudah mengumandangkan adzan, maka lawanlah rasa kantuk tersebut, paksa diri Anda untuk bangun! Jika tidak, Anda akan kalah dalam kehidupan ini.

Intinya, berusahalah sekuat mungkin untuk bisa istiqomah di jalan yang lurus dan jangan bosan-bosan untuk berdoa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here