FLP Ranting UMI Gelar Sekolah Menulis

0
12
views

Apakabarkampus.com – Forum Lingkar Pena (FLP) Ranting Universitas Muslim Indonesia (UMI) mengadakan kegiatan Sekolah Menulis (Sekmen) dengan materi Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Dimulai 14.30 – 17.00 bertepatan pada Minggu, 30 Juni 2019. Terlaksana di Lapak Hijau Masjid Umar bin Khattab Kampus II UMI, Panaikang, Panakkukang, Makassar.

Menghadirkan pemateri Aurora Rahmah selaku Pimpinan Redaksi (Pimred) Penerbit Macazzart Indie Book (MIB) Indonesia. Kegiatan dihadiri oleh belasan anggota FLP Ranting UMI.

“Tujuan kegiatan ini yang pertama dapat memperkaya pengetahuan tentang Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang benar. Kedua untuk mengetahui penggunaan kosa kata yang tepat dalam menyusun suatu kalimat atau paragraf,” kata Ketua FLP Ranting UMI, Ahmad Syauqi DzulFikri.

Fikri sapaannya, mengharapkan dengan terlaksananya kelas PUEBI ini maka akan memperkaya pengetahuan mengenai EBI yang tepat. Dan semoga menjadi bekal awal dalam membuat karya tulis baik fiksi maupun nonfiksi khususnya dalam menyusun kalimat yang sesuai PUEBI.

Pembahasan awal yang disajikan oleh Aurora yaitu Fungsi PUEBI di dalam dunia kepenulisan.

“PUEBI adalah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang sekarang ini kita pakai, bukan lagi Ejaan yang Disempurnakan (EYD),” ungkap pemateri, Rahmah.

Aurora menegaskan bahwa PUEBI sangat berfungsi pada tulisan nonfiksi dan ilmiah, sebab PUEBI adalah pedoman yang baku untuk tulisan Bahasa Indonesia.

Ada pun pembahasan inti yang disajikan Aurora, adalah Kesalahan Umum yang sering didapatkan saat mengedit naskah yang ingin diterbitkan karyanya di penerbit Indie khususnya Penerbit MIB Indonesia.

“Penggunaan kata depan, di, ke dan dari, ini digabung dengan kata yang mengikutinya, selain kata tempat dan waktu, dipisah. Contoh di sekolah, di masjid, di masa sekolah, di tahun 2019,” tutur Aurora.

Koordinator Kaderisasi FLP Ranting Unhas periode 2013 – 2014 itu juga menjelaskan tentang Elipsis.

“Tanda elipsis juga sangat banyak yang keliru, sebab banyak yabg beranggapan tanda elipsis berfungsi sebagai pemanjang nada dalam puisi, padahal elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa satu kalimat atau kutipan adanya bagian yang dihilangkan, juga dipakai menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog, seperti ‘Kamu … tapi bagaimana jika saya … ah sudahlah!” tambahnya.

“Ada pun kesalahan kata yang umum ditemukan, dan yg benar, silakan, apotek, sekadar dan sebagainya,” lanjutnya.

Di akhir penjelasnnya, Rahmah menyarankan untuk banyak-banyak membaca, dan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Di penghujung acara panitia memberikan sertifikat sebagai ungkapan terima kasih kepada Pimred MIB Indonesia karena bersedia membagi ilmu kepada mereka.

Salah satu peserta kegiatan menggungkapkan manfaat yang ia rasakan setelah mengikuti kegiatan.

“Setelah mengikuti Sekmen satu dengan materi PUEBI, saya bisa tahu kesalahan umum yang sering dilakukan penulis dalam tulisannya, paham bahwa EBI sangatlah penting untuk dipelajari dan diterapkan dengan baik dalam sebuah tulisan, meski tetap harus ada kepekaan bahasa saat menulis,” tanggapan Nela Ananda Rosa, anggota baru FLP Ranting UMI.

Menurutnya, pemateri kali ini hebat, karena dapat membawakan materi yang biasanya terasa monoton dan membosankan disulap menjadi materi yang menarik. Walau banyak menyinggung tentang cinta dan hati, tetapi itu taktik pemateri untuk menarik minat belajar saya dan teman-teman FLP Ranting UMI terhadap materi PUEBI.(*)

(*)Citizen Jurnalis: Azimah Nahl (Anggota Komunitas Pecandu Aksara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here