BAK Bedah Pseudo Literasi, Puji Inovasi Kadis Perpustakaan Makassar

0
34
views

Apakabarkampus.com — Tokoh literasi Sulsel yang aktivis minat baca Nasional, Bachtiar Adnan Kusuma tampil memukau bersama Kadis Perpustakaan Kota Makassar, H.Muhiddin, S.E.M.M., Kamis (12/7) di Lounge Graha Pena Makassar. Selain memuji inovasi Perpustakaan Kota Makassar, Ketua LPM Terbaik 1 Kota Makassar.

Menurut BAK, tidak terlalu heran kalau berbagai inovasi yang dilahirkan Muhiddin, selain aktif dalam dunia interaksi sosial sejak lama, beliau juga dikenal birokrat murni yang selalu gelisah dalam melahirkan karya-karya terkait pemberdayaan perpustakaan di Makassar. Sekretaris Forum Peduli Pendidikan Sulsel, Dedi Gunawan Saputra, M.Pd., menilai penjelasan BAK dalam mengurai proses literasi dalam hal ini membaca merupakan sebuah pilihan untuk “memperpanjang umur” dan memperkuat ingatan, sekaligus menstimulus cara kerja otak agar dapat bekerja secara maksimal ketika berada di usia senja.

Karena itu, Persoalan literasi tidak hanya sekadar di lisan saja, tetapi butuh “action”. BAK, kembali menunjukkan bahwa kita perlu menghindari pseudoliterasi, yaitu literasi semu yang terkadang masih banyak yang menjangkiti kita yang menggebu-gebu dengan literasi, tetapi kita belum menyentuh substansi dari literasi itu sendiri. Dan apa yang digambarkan Sekjend Asosiasi Penulis Profesional Indonesia ini tentang keluarga sebagai sel utama yang membentuk masyarakat literat merupakan dimensi sosial kultural yang perlu dimaksimalkan, tentunya dengan penerapan aturan sederhana yang disinergikan dengan pihak keluarga dapat membantu terciptanya proses berliterasi sejak dini.

Sementara itu, kata Dedi dalam bidang pendidikan misalnya BAK mengurai kalau perlu melibatkan unsur-unsur atau komponen utama pendidikan, salah satunya adalah mitra/kerjasama dengan tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan budayawan dalam menggerakkan literasi agar menjadi sebuah atmosfer pendidikan yang utuh dan berkelanjutan.

Semua komponen dalam gerakan literasi terutama masalah perbukuan kita dalam kaitannya dengan pendidikan tentunya perlu untuk bersinergi dengan pemerintah sebagai penentu kebijakan. Salah satunya adalah Undang-undang Perbukuan Nasional. Hal ini akan diperkuat dengan Peraturan Gubernur (Pergub) dan Peraturan Walikota (Perwali) yang dijabarkan secara spesifik dalam Petunjuk Teknis (Juknis).

“Inilah yang ditekankan perlunya kerjasama bersama dalam sebuah ekosistem perbukuan nasional terutama memperkuat literasi kota Makassar agar bisa direken secara nasional,” kata BAK di ujung diskusi yang dihadiri wartawan, komunitas literasi, budayawan M.Anis Kaba, Kepala Cabang Penerbit Airlangga Makassar dan karyawan Upeks Makassar. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here