Keluarga dan Kesetaraan Gender

0
158
views

Apakabarkampus.com – OPINI – Dilansir dari unwomen.org melaporkan bahwa kondisi kaum perempuan hari ini sangat membutuhkan perlindungan terhadap kesetaraan gender.

Ada empat hal yang menjadi konsentrasi organisasi perempuan Internasional ini dalam pengamatannya yakni; pertama, usia perkawinan yang meningkat dengan tingkat kelahiran yang menurun.

Kedua, perempuan yang hidup dalam keluarga besar dengan persentase 27%. Ketiga, Sebagian besar keluarga orang tua tunggal, 8% keluarga dipimpin oleh perempuan yang kemudian melakukan kerja berbayar, membesarkan anak dan tidak dibayar dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Keempat, keluarga dengan jenis kelamin yang sama semakin terlihat diberbagai wilayah.

Namun UN Women melihat bahwa tren di atas menyebabkan kaum perempuan mendapatkan diskriminasi karena pekerjaan tanpa tanda jasa mereka sebagai seorang ibu yang mengerjakan seluruh tugas rumah tangga.

Selain itu, pemberdayaan kaum perempuan terhadap peningkatan otonomi ekonomi berkurang saat para perempuan fokus menjadi ibu rumah tangga. Ditambah lagi dengan diskriminasi terhadap aturan keluarga yang tidak tertulis bahwa laki-laki memiliki kontrol penuh atau pengambil keputusan dalam rumah tangga.

Organisasi ini melihat bahwa hal tersebut yang mengakibatkan para perempuan mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga karena tidak memiliki hak untuk mengatakan tidak dalam aktivitas seks yang menyebabkan mereka harus kembali hamil dan melahirkan. Sehingga UN women kembali memaksakan agar keluarga menerapkan kesetaraan gender sebagaimana pemikiran liberal yang mereka usung.

Sekali lagi, kesetaraan gender bukanlah solusi atas kondisi hari ini terhadap kaum perempuan yang banyak mendapatkan pelecehan seksual atau diskriminasi.

Sejatinya penyebab utama yang menjadikan perempuan sebagai objek pelecehan seksual adalah paradigma yang memandang perempuan hanya sebagai objek seks semata. Paradigma ini merupakan warisan yang diberikan oleh peradaban Yunani dengan menghalalkan seks bebas tanpa batas.

Oleh Prof. Dr. Raghib As-Sirjani dalam bukunya sumbangan peradaban Islam pada dunia. “Bahwa Cara pandang terhadap wanitalah yang menjadikan segala sesuatu entah menjadi lebih rumit atau lebih mudah.”

Sejatinya permasalahan kaum laki-laki dan perempuan telah lama mencapai kesepakatan dan solusi atas kedudukan mereka.

Sejak Islam hadir menjelaskan bagaimana seharusnya paradigma yang kita bangun dalam memandang laki-laki dan perempuan, bukanlah dengan standar kompetisi sebagaimana cara pandang liberal yang mengusung kesetaraan gender.

Islam menjelaskan laki-laki dan perempuan dipandang sebagai mahkluk yang harus berkolaborasi satu sama lain untuk meraih tujuan hakiki alasan merek itu tercipta.

Wanita dengan segala keindahannya, maka wajib untuk diberikan penghormatan setinggi-tingginya oleh para kaum lelaki dengan tidak mengganggu mereka.

Oleh karena itu para wanita diminta untuk menutupi dirinya dengan kain jilbab yang menjulur ke seluruh tubuh mereka agar mudah dikenali dan tidak diganggu (Q.S. Al-Ahzab:59).

Wanita dengan dasar penciptaannya yang keibuan untuk membentuk generasi hebat mendidik anak-anaknya, dan multitasking yang membuat mereka ahli mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sehingga bukanlah hal yang harus menuntut bayaran.

Saat para wanita sibuk di rumah membekali pendidikan bagi anak dan mengurusi rumah, laki-laki diberikan kelebihan agar berupaya memaksimalkan diri dalam mencari nafkah bagi keluarganya, dan kaum lelaki sebagai pemimpin tidaklah dipandang dalam artian diktator dalam rumah tangga tanpa boleh melakukan musyawarah dengan isteri terlebih dahulu sebelum memutuskan sebuah perkara.

Oleh karena itu Islam mengajarkan sebaik-baik manusia adalah kalian (suami) yang paling baik terhadap istrinya (H.R.Tirmidzi).

Oleh karena itu, kesetaraan gender bukanlah jalan untuk menghadirkan keseimbangan dalam memandang laki-laki dan perempuan namun, sejatinya kesetaraan gender lahir dari asas pemikiran liberal (sekular) yang mengakibatkan kerusakan kehidupan sosial dengan membebaskan hubungan seks bebas, perkawinan sesama jenis yang akan memutus rantai generasi, dan memberangus peran mulia seorang perempuan dalam rumah tangga dengan hanya menjadikan mereka sebagai pendongkrak ekonomi.

Dan sebagai tambahan referensi bahwa, Islamlah yang telah memaparkan konsep keseimbangan dalam memperlakukan laki-laki dan perempuan sebagaimana hakikat penciptaan mereka tanpa diskriminatif sedikit pun.

Penulis : Muflihana (Aktivis Muslimah)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here