Ancaman Kekeringan, Sekadar Fenomena Alam?

0
287
views

Oleh : Nurasia, S.Pd. *

Apakabarkampus.com — Indonesia, negeri yang kaya akan keindahan dan keanekaragaman sumber daya alam. Tanah yang katanya tanah surga, tempat yang subur namun sayang hari ini sangat memprihatinkan. Bencana alam melanda secara bertubi tubi sejak tahun 2018 hingga tahun ini. Masih teringat gempa di Lombok dan sekitarnya, tsunami di kota Palu, banjir di Sultra, hingga kekeringan yang kembali mengancam. Jawa, Bali dan Nusa Tenggara harus kembali bersiap siap mengalami kekeringan, antisipasi urgen dilakukan karena kekeringan yang akan terjadi terbilang panjang dan ekstrem. Peringatan itu disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berdasarkan hasil monitoring hari tanpa hujan (HTH) hingga tanggal 30 Juni 2019. Beberapa daerah di Jawa yang berpotensi mengalami kekeringan antara lain Sumedang, Gunungkidul, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Gresik, Tuban, Pasuruan, dan Pamekasan (Sindonews.com).

Berbagai bencana yang terjadi di negeri ini secara ilmiah dipengaruhi oleh letak geografis Indonesia yang berada di tengah garis khatulistiwa, karena posisi geografis ini kita mengalami dua musim yaitu musim hujan dan kemarau. Perubahan kandungan udara yang sudah sangat tercemar dan alam yang rusak memberikan andil bencana kekeringan. Tentunya kerusakan alam, polusi udara dan tercemarnya lingkungan tidak lepas dari ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.

Bencana Alam Akibat Ulah Manusia

Ada sangat banyak pembangunan infastruktur di negeri ini yang sebenarnya merusak lingkungan, di antaranya pembangunan jembatan Suramadu yang merusak laut. Pabrik pabrik besar juga tidak sedikit yang kita dapati mengeluarkan polusi yang mencemari udara. Laut yang ditimbun untuk membangun kehidupan mewah (reklamasi) yang tidak hanya merusak alam tapi juga merugikan rakyat kecil. Hal ini tentu sangat berdampak pada alam yang kemudian menimbulkan berbagai bencana yang beruntut. Ancaman kekeringan tidak hanya bisa kita pandang sebagai fenomena alam semata. Tetapi memang ada yang salah dengan paradigma pembangunan. Pembangunan sekular kapitalistik, cenderung rakus dan merusak, salah satu dampaknya adalah kekeringan.

Setiap bencana yang menghujam negeri ini tidak lepas dari ulah manusia, seperti yang Allah jelaskan dalam Alquran “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar” QS. Ar Ruum: 41. Ayat ini menegaskan bahwa memang bencana yang terjadi bukan hanya fenomena alam, tetapi dampak dari perilaku manusia yang merusak ciptaan Allah.

Dosa Penyebab Diangkatnya Nikmat

Alam diciptakan untuk memberi kebaikan bagi manusia, asal manusia tunduk memelihara sunnatullah dalam pengelolaan alam. Kekayaan alam dunia, khususnya yang ada di Indonesia tentunnya karunia luar biasa yang Allah berikan, hanya saja sebagian manusia kufur nikmat dan tidak bersyukur. Alih-alih menjaga, manusia justru merusak alam dan makin membuat Allah murka dengan berbagai kezaliman yang diperbuat di dunia.

Seperti yang diperingatkan oleh Rasulullah dalam hadits riwayat Umar ra. “Tidaklah merebak perbuatan keji seperti (zina, homoseksual, perampokan, judi, mabuk, konsumsi obat-obatan terlarang dan lain-lain) di suatu kaum hingga mereka melakukan secara terang-terangan maka wabah penyakit Tha’un (semacam kolera) dan kelaparan yang tidak pernah ada pada generasi sebelumnya.
Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali akan disiksa dengan paceklik panjang, susahnya penghidupan dan kezholiman para penguasa atas mereka.
Tidaklah mereka menahan pembayaran zakat kecuali hujan dari langit akan ditahan atas mereka dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, maka manusia tidak akan diberi hujan.
Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka kaum muslim berhukum dengan selain kitabullah, kecuali Allah timpahkan permusuhan diantara mereka”.

Sahabat, kita tentu tidak mampu membohongi diri sendiri, sedih rasanya hati ini harus mengakui bahwa segala tindak maksiat yang terjelaskan dalam hadist di atas ada di negeri kita. Demikian halnya kekeringan, salah satu penyebabnya adalah hujan yang tidak Allah berikan kepada kita. Tidak adanya hujan juga menimbulkan gagal panen, kekurangan air bersih dan kemarau berkepanjangan yang semuanya ternyata akibat dosa-dosa manusia.

Kembali ke Aturan Sang Pencipta

Solusi dari semua musibah yang menimpa manusia hari ini khususnya Indonesia adalah kembali kepada Sang Pengatur kehidupan. Tunduk dan patuh pada setiap aturan yang telah di tetapkan, menjalankan hukum hukumNya, melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Sekali kali tidak akan melakukan hal yang mengundang murka Allah, seperti merusak bumi ciptaanNya, mendzalimi ummat, mencemari alam, dan melakukan kemaksiatan yang berujung pada pencabutan nikmat Allah. Menjaga dengan baik alam yang telah menjadi amanah untuk kita, sehingga Allah segera mengangkat bencana yang menimpa kita. Aturan Allah, tentunya tidak bisa kita terapkan secara sempurna hanya pada satu aspek dan tidak yang lainya, karna penerepan satu hukum Islam menuntut penerapan hukum lainnnya. Hukum-hukum Allah secara keseluruhan hanya bisa dijalankan dalam naungan Khilafah Islamiyah.
Penerapan syariah dalam seluruh aspek kehidupan (pembangunan berbasis aqidah) menjamin kehidupan penuh berkah. Kebaikan alam semesta akan dirasakan manusia dan makhluk hidup lainnya. “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa. Pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang mereka kerjakan” (QS Al A’raf: 96). *)

*Penulis: Nurasia (aktivis muslimah)

No. Hp : 081245382786

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here