Menelisik Isu Penghapusan Pelajaran Agama Dalam Kurikulum

0
24
views

Oleh: Ma’arif Amiruddin
Founder Pajokka Event
Public Speaker
Praktisi Property Syariah

 

 

Belakangan ini, di negri kita tersebar isu untuk menghapuskan pelajaran agama dari sekolah-sekolah, alasannya karena pelajaran agama dianggap menguatkan identitas agama, jika agama dijadikan identitas maka akan menguatkan radikalisme dan radikalisme-lah yang menjadi biang kehancuran negara. Benarkah demikian?

Radikalisme secara bahasa merupakan pemahaman yang mendalam, jadi orang-orang yang radikal sebenarnya adalah mereka yang memahami sesuatu (dalam hal ini pemahaman agama) secara lebih mendalam. Jadi, radikalisme sebenarnya memiliki konotasi yang positif. Namun, istilah radikalisme saat ini diarahkan pada konotasi yang negatif, sehingga masyarakat seakan ditakut-takuti dengan isu radikalisme ini.

Islam adalah agama yang mengajarkan kebaikan, adanya pelajaran agama di sekolah saja, masih belum mampu meredam berbagai kenakalan remaja, apalagi jika dihapuskan, entah apalah yang akan terjadi.

Gagasan ini sebenarnya bukan hal yang baru, jika diamati, akar pemikiran gagasan ini bersumber dari ideologi kapitalisme yang memisahkan urusan agama dari kehidupan. Padahal, Imam Al-Gazali mengatakan bahwa agama dan kekuasaan ibarat saudara kembar, agama adalah pondasi dan kekuasaan ibarat penjaga. Sesuatu yang tak memiliki pondasi akan runtuh dan sesuatu yang tidak memiliki penjaga akan lenyap.

Tentu ideologi kapitalisme bertentangan dengan ideologi Islam, ideologi kapitalisme melahirkan sistem pemerintahan demokrasi sedangkan ideologi Islam melahirkan sistem pemerintahan Khilafah. Jadi, kedua ideologi ini memang akan saling bertentangan antar satu sama lain, tak bisa dipadu padankan.

Jadi, ide menghapuskan pelajaran agama bukanlah dari Islam, sekalipun yang menggagas dan mendukungnya adalah sebagian orang Islam, maka kita harus cerdas menilai, mana ajaran Islam dan mana propaganda asing yang mengatasnamakan Islam.

Memang, terkadang manusia menyukai sesuatu padahal itu tidak baik baginya, dan membenci sesuatu padahal itu amat baik baginya. ALLAH swt. berfirman dalam QS. A-Baqarah ayat 216:

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. ALLAH mengetahui, sedangkan kalian tidak memgetahui.”

Imam Abu Manshur al-Maturudi di dalam Ta’wilat Ahli as-Sunnah menjelaskan, “WalLahu ya’lamu wa antum la ta’lamun bermakna: ALLAH mengetahui apa saja yang baik dari yang buruk untuk kalian pada masa depan, sementara kalian tidak tahu.”

Imam Fakhruddin ar-Razi di dalam Mafatih al-Ghayb menyatakan, “Seolah ALLAH swt. berfirman: Hai hamba, ketahuilah bahwa pengetahuan-Ku lebih sempurna dari pengetahuan kalian, karena itu sibuklah kalian menaati-Ku dan jangan menuruti tuntutan tabiat kalian.”

Imam Ibnu Katsir di dalam Tafsir Ibni Katsir juga menegaskan, “WalLah ya’lamu wa antum ta’lamun bermakna: Dia Mahatahu atas akibat perkara kalian. Dia pun Mahatahu atas apa saja yang di dalamnya ada kebaikan bagi kalian di dunia dan akhirat. Karena itu penuhilah seruan-Nya dan patuhilah perintah-Nya supaya kalian mendapat petunjuk.”

Oleh karenanya, pertimbangan manusia tidak layak dijadikan standar kebenaran. Standar kebenaran yang hakiki hanyalah dari Dia yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.

Semoga ALLAH senantiasa menambahkan untuk kita semua ilmu yang bermanfaat dan memberika kita kemampuan untuk membedakan yang haq dan yang batil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here