Investigasi Bendera Tauhid, Alibi atau Islamophobia?

0
139
views

Apakabarkampus.com – OPINI – Siswa-siswi Madrasah Aliah Negeri 1 Sukabumi, Jawa Barat yang membentangkan bendera tauhid, kini viral di media sosial sejak Sabtu malam, 20 Juli 2019. murid-muridnya dengan paduan berbaris mengibarkan Alliwa (bendera Putih bertuliskan kalimatuttauhid) dan Arrayah (panji hitam bertuliskan kalimatuttauhid). Viral-nya foto pengibaran ini mendapat respon beragam di jagad media.

Anggota DPR Komisi VIII, Ace Hasan Syadzily misalnya, mengomentari foto tersebut serta menautkannya kepada Menteri Agama Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Ace meminta Lukman untuk segera mengklarifikasi dan mencari tahu kebenaran foto yang diunggah oleh akun @Karolina_bee11 itu.

“Seharusnya Madrasah apalagi yang dikelola Kemenag harus mengedepankan semangat NKRI daripada penggunaan bendera yang identik dengan organisasi yang terlarang,” kata Ace melalui akun twitternya @acehasan76 pada Sabtu, 20 Juli 2019 pukul 21.45.

Adalah kedangkalan berfikir menurut saya jika hal tersebut dipertanyakan, terlebih jika dikait-kaitkan dengan organisasi tertentu. Padahal bendera tauhid sudah pernah dan sering sekali dijelaskan keabsahannya sebagai BENDERA TAUHID DAN BUKAN BENDERA ORGANISASI TERTENTU, terlepas ia dipakai sebagai simbol sebuah ormas atau tidak.

Sebagaimana lambang ka’bah, dan lambang bulan bintang yang juga dipakai oleh ormas tertentu yang bukan berarti ka’bah itu adalah milik ormas tersebut dan begitu pula Bulan-Bintang. Di sinilah perlunya kita menggunakan otak dan akal untuk berpikir jernih.

Mungkin sedikit mengingatkan kembali Hadist Rasulullah.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menuturkan,

كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

Al-Rayah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam dan al-Liwa’ beliau berwarna putih (HR. Al-Tirmidzi, Al-Baihaqi, Al-Thabarani dan Abu Ya’la).

Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu juga menuturkan,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- دَخَلَ مَكَّةَ يَوْمَ الْفَتْحِ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Makkah pada hari Fathu Makkah dan al-Liwa’ beliau berwarna putih (HR. Al-Tirmidzi, Al-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Hal paling aneh adalah saat menseolah-olahkan semangat NKRI tak dapat diraih saat semangat ke-Islaman tertancap kokoh dalam dada-dada para siswa, yang notabene sekolah tersebut bernuansa agamais.

Padahal ke-Islaman yang sempurna akan melahirkan generasi penerus bangsa yang berkualitas dan tidak korup. Sialnya, tanggapan Ace disambut baik oleh Menteri Agama, Lukman Hakim.

“Sejak semalam sudah ada tim khusus dari pusat yang ke lokasi untuk investigasi. Saat ini proses penanganan di lapangan masih sedang berlangsung. Kami serius menangani kasus ini,” kata Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, melalui akun twitternya @lukmansaifuddin pada Ahad, 21 Juli 2019 pukul 11.26.

Miris memang saat umat betul-betul difasilitasi oleh sistem untuk phobia dengan agama beserta simbol-simbol agamanya sendiri. Dicap radikallah mereka yang begitu mencintai agama dan Rasulnya serta simbol-simbolnya, lalu dipersekusi tanpa boleh banyak protes apalagi meminta meja-meja keadilan untuk membela diri.

Sungguh aneh. Saat berkibarnya bendera tauhid, ia langsung diinvestigasi dengan serius. Akan tetapi, apa kabar dengan para koruptor yang merampok duit rakyat? Atau mereka yang telah menjual asset negara kepada asing tanpa persetujuan dari rakyat yang katanya pemilik kedaulatan di negara demokrasi.

Kemarin. Ah, sudah lama sekali, bulan-bulan kemarin bukankah telah banyak diperbincangkan mengenai kasus dagang jabatan? Apakah aparatur negara disibukkan dengan berkibarnya bendera tauhid hingga lupa menginvestigasi kasus korupsi yang semakin hari semakin merajalela, serta diduga sengaja dikaburkan kasusnya saat disorot oleh media dan rakyat. Sungguh kasihan negeri ini.

Lihatlah, deretan-deretan masalah korupsi belum kunjung usai, sementara aparatur negara malah sibuk urusi bendera yang justru terbukti menjadi sumber kekuatan dan keberanian rakyat dalam memerangi penjajah serta menjaga negeri ini dari segala bentuk hegemoni para penjajah melalaui narasi-narasinya yang aduhai.

Seabrek masalah korupsi terus menghantui gedung KPK. Belum kelar masalah yang satu muncul lagi masalah yang lain. Seyogyanya inilah genting membutuhkan investigasi serius. Dan kasus Pak Menag pun perlu diinvestigasi terkait dengan soalan jual-beli jabatan.

Bukankah tindak korupsi merupakan kejahatan yang terbukti merusak dan menghancurkan tatanan negara? Menodai citra keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dan jelas itu perbuatan amoral dalam mengemban amanah rakyat?

Dalam QS An-Nisa’ 4:29 Allah berfirman:

يا أيها الذين آمنوا لا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل إلا أن تكون تجارة عن تراض منكم

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.

QS Al-Maidah :42 Allah berfirman:

سماعون للكذب أكّالون للسحت

Artinya: Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.
Menurut Ibnu Mas’ud dan Ali bin Abi Talib, makna suht adalah suap.

Hadits sahih riwayat Imam Lima, Nabi bersabda

لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم الراشي والمرتشي والرائش يعني الذي يمشي بينهما
Artinya: Rasulullah melaknat penyuap dan penerima suap dan yang terlibat di dalamnya

Lihatlah para pengkhianat amanah rakyat masih bebas melenggang sana-sini, belum diinvestigasi serius sebagaimana investigasi berkibarnya bendera tauhid. Dan ini seperti investigasi salah kamar. Kasihan.

Akhirnya, kita sama-sama menyadari bahwa, inilah buah dari penerapan sistem buatan manusia, di dalamnya bercokol kepentingan dan penuh kebohongan. Saat hal paling urgent dilambat-lambatkan, lalu mengkonyolkan perihal yang harusnya dijunjung tinggi.

Sangat jelas terlihat, semua seakan menggiring umat untuk phobia terhadap simbol-simbol aqidah-nya. Yang akhirnya akan menjauh dan meninggalkan simbol-simbol pengokoh aqidah. Begitulah umat segera dijauhkan dari kekokohan iman, dan akan terlahir pemisahan agama dari segala lini kehidupan.

Lantas apalagi yang bisa kita harapkan? Apalagi yang harus dipertahankan dari sistem yang mengekang sembari menghancurkan karena menggunting lipatan ukhuwah dari dalam?

Allah dengan tegas berfirman dalam Surat Al-Ma’idah Ayat 50

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”
Allahu alam bishshowab. (*)

Penulis : Habibah Nafaizh Athaya
Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here