JOIN Menjadi Organisasi Wartawan Online Berdedikasi

0
17
views

Apakabarkampus.com — Bukan hanya telah terdaftar resmi di Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemenkum HAM), organisasi Jurnalis Online Indonesia (JOIN), juga telah menunjukkan komitmen untuk membenahi Sumber Daya Manusia (SDM) anggotanya.

Demikian ujar Rifai Manangkasi, SE. MM. Di hadapan peserta pelatihan jurnalistik angkatan ke-6, gelombang ke-2 tahun 2019, yang digelar DPD JOIN Kota Makassar, di Gedung Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Pettarani Kota Makassar, 3-4 Agustus 2019.

“Jangan jadi wartawan bodoh, tulisan berita tanpa konfirmasi, saat ini resiko hukum tidak ringan,” ujar Rifai. Fenomena kemunculan media online yang relatif mudah, menyisakan problem lahirnya wartawan jadi-jadian, menulis berita berkualitas rendah, cenderung beropini dan menyerang dan merugikan orang bahkan lembaga.

Senada Rifai, Ketua PWI Pusat, Zulkifli Gani Ottoh, yang tampil di sesi terakhir hari pertama mensinyalir dewasa ini bermunculan portal yang dikelola asal-asalan.

“Sembarang orang jadi wartawan, tulis berita tanpa ilmu jurnalistik, hasilnya berita sampah yang membodohi masyarakat,” ujarnya.
“Wartawan yang lahir kagetan, seperti wartawan Bodrex, abal-abal, saat ini banyak menimbulkan problem karena jauh dari etika jurnalistik,” ujar Zulkifli. Sembari menambahkan wartawan yang hanya bisa menyebarkan berita kebencian patut dipertanyakan niatnya menjadi pekerja media, apakah karena tak punya keahlian atau pendidikan untuk bisa bekerja di bidang lain.

“Prilaku wartawan yang tak punya ilmu jurnalistik, cenderung merugikan, bahkan melabrak aturan,” ujar Ketua PWI Pusat bidang etik itu. Zulkifli mencontohkan bagaimana aktifitas sebagian wartawan yang sudah keluar dari etika profesi.

Di hari pertama pelatihan, yang dibuka Direktur Pusdiklat JOIN Kawasan Timur Indonesia (KTI), Zulkarnain Hamson, S.Sos. M.Si. peserta diberikan gambaran fenomena pers dalam lintasan peradaban.

“Pers sedang menghadapi perubahan yang sangat cepat, dari era cetak menuju era digital,” ujarnya.

Zulkarnain Hamson, yang juga Wakil Rektor IV Universitas Indonesia Timur (UIT), mengingatkan pentingnya wartawan atau pekerja media memboboti dirinya, dengan terus belajar.

“Pusdiklat JOIN KTI, yang saya pimpin sudah melaksanakan 6 kali pelatihan, 4 kali kajian,” hasilnya sangat menggembirakan, karena bobot berita alumni Pusdiklat sudah jauh lebih berbobot tambahnya.
“Anda bisa melihat bagaimana wartawan atau pekerja media yang tak pernah belajar, ditanya tentang fakta berita saja kebingungan, apalagi 9 elemen jurnalistik,” ujar Zulkarnain Hamson, yang kini sedang menyelesaikan studi doktoral Komunikasinya di Unhas.
“Ciri wartawan yang tak pernah terdidik ilmu jurnalistik, beritanya beropini, data yang dipakai tidak akurat, sumber berita asal pilih sesuai selera,” ujarnya.

Zul yang memulai karir jurnalistiknya di media cetak 27 tahun lalu, meminta agar pemegang sertifikat pelatihan JOIN bisa menjadi contoh bagi wartawan lainnya.
Selama periodenya memimpin Pusdiklat JOIN KTI, direncanakan 12 gelombang pelatihan, dari penulisan berita hingga manajemen pengelolaan media online. “September mendatang akan kami laksanakan Workshop manajemen media online, yang menghadirkan Menkominfo, Ketua JOIN Pusat, dan Dewan Pers RI. Juga guru besar ilmu komunikasi Unhas,” ujarnya.(pewe)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here