Melalui Sekolah Lingkungan, Siswa SMPN 6 Moncongloe Belajar Membuat Pupuk Kompos dan Ecobrick

0
24
views
Foto bersama peserta kegiatan Sekolah Lingkungan SMPN 6 Moncongloe, Maros pada akhir kegiatan pembuatan pupuk kompos dan ecobrick. (Foto:Ist).

Apakabarkampus.com – Pasca dibukanya kegiatan Sekolah Lingkungan SMPN 6 Moncongloe tanggal 26 Juli lalu, siswa nampak antusias mengikuti setiap materi yang dibawakan oleh Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) Sulsel.

Tidak hanya materi yang bersifat teoritis diberikan, tetapi Siswa SMPN 6 Moncongloe juga menerima materi praktek yakni membuat pupuk kompos dan ecobrick. Pemberian materi tersebut diharapkan agar siswa SMPN 6 Moncongloe dapat mengetahui cara mengolah sampah organik dan non organik menjadi barang yang berguna.

“Kita tahu bahwa sampah sudah menjadi bahaya besar bagi bumi, sehingga sejak dini Siswa SMPN 6 Moncongloe diajarkan mengolah sampah menjadi barang yang berguna seperti pupuk kompos dan ecobrick” Ujar Muhammad Alimka, selaku penanggungjawab Sekolah Lingkungan SMPN 6 Moncongloe.

Untuk membuat pupuk kompos, siswa mengambil sampah organik seperti daun-daunan, kulit buah, sisa sayuran atau sampah yang mudah terurai kemudian disimpan dalam wadah tong komposter. Luaran dari tong komposter tersebut akan menghasilkan pupuk cair dan padat yang nantinya pupuk tersebut digunakan untuk menutrisi tanaman-tanaman yang ada di sekolah. Sehingga untuk menutrisi tanaman tidak digunakan lagi pupuk dari bahan kimiawi.

Siswa SMPN 6 Moncongloe Maros tampak antusias dalam membuat pupuk Kompos dan Ecobrick pada kegiatan Sekolah Lingkungan. (Foto:IST).

Sedangkan untuk membuat ecobrick, siswa mengambil sampah non organik seperti gelas plastik, kantong kresek, botol plastik, atau sampah yang sulit terurai. Sampah yang dimasukkan dalam botol plastik sebelumnya digunting terlebih dahulu hingga menjadi sampah plastik berukuran kecil. Kemudian digunakan kayu atau tongkat untuk menekan sampah didalam botol agar semakin padat dan kokoh. Ecobrick dapat diguanakan sebagai bahan untuk membuat meja, kursi, dan bangunan lainnya.

Sebanyak 40 Siswa yang mengikuti kegiatan tersebut nantinya akan memanfaatkan pengolahan sampah di lingkungan sekolah dan tempat tinggalnya. Menurut Supratman, Siswa yang telah mengikuti kegiatan Sekolah Lingkungan, diharapkan menjadi pelopor di sekolah dan di lingkungan tempat tinggalnya, menjaga dan mengolah sampah agar tercipta suasana yang nyaman dan bersih.

Lebih lanjut, Kepala Sekolah asal Kabupaten Bone tersebut mengapresiasi kegiatan Sekolah Lingkungan yang merupakan salah satu bentuk upaya pelestarian lingkungan dan mewujudkan salah satu misi sekolah yaitu mewujudkan lingkungan sekolah yang kondusif.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here