Abubakar Wasahua, Sang Penggengam Idealisme

0
39
views

Apakabarkampus.com — Baginya jabatan itu adalah bagaikan sebatang pohon, semakin tinggi, maka akan semakin banyak angin yang menggoyang. Drs.H. Abubakar Wasahua, M.H., menilai jabatan bukanlah segala-galanya, tapi yang segala-galanya adalah mempertahankan dengan kukuh sebuah idealisme dan nilai-nilai perjuangan untuk sebuah kebenaran. Inilah pergulatan hidup dari Anggota DPR RI dari Fraksi PPP, H. Abubakar Wasahua. Kendati dalam berbagai kebijakan dalam segaris partai berbeda pendapat misalnya, namun Abu selalu memilih tetap berada digaris-garis kesantunan.

Bagi Abu, berbeda faham atau tidak sejurus dalam garis-garis kebijakan baik di organisasi dakwah maupun di politik, tidak mesti langsung memotong mata rantai persaudaraan. Apalagi memilih berbicara terbuka dengan lantang memojotkan orang-orang yang tidak sejurus dengan pilihan atau garis perjuangan politik.

“Faham politik saya adalah politik marhamah yaitu politik yang selalu mengutamakan kasih sayang,” papar Abubakar Wasahua kepada Bachtiar Adnan Kusuma, Jumat, (10/8) di kediamannya Jl. Syech Yusuf Makassar.

Abu yang selama lima belas tahun menjadi anggota DPRD Provinsi Sulsel, sejak mahasiswa aktif terlibat dalam berbagai organisasi kampus dan dakwah di Sulsel maupun di tingkat nasional. Semasa mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah di IAIN Alauddin, Abu terpilih menjadi peserta Musda MUI Sulsel di masa Gubernur Sulsel, Prof.Dr.H.Achmad Amiruddin. Dalam berbagai kegiatan Musda dan Rekerda MUI Sulsel, Abu tercatat sebagai peserta yang direkomendasi ikut serta aktif terlibat sebagai utusan dari DPP IMMIM. Demikian pula, semasa Munas MUI Pusat, Abu juga mewakili Sulsel bersama almarhum Drs.H.M. Amin Yamna, M.Ag., di Jakarta saat A.R.Fachruddin terpilih menjadi Ketua Umum MUI Pusat.

Bagi Abu aktif terlibat di berbagai organisasi kampus dan dakwah adalah sesuatu yang sangat indah, menarik dan takkan pernah ditinggalkannya. Demikian pula di PPP, Abu tercatat sebagai kader militan yang memegang teguh loyalitas dan integritas terhadap partai yang bebesarkannya.

“Sekali PPP tetap PPP. Kendati saya kadang-kadang berbeda pendapat dengan kawan-kawan petinggi PPP di Sulsel maupun di Jakarta, namun saya bersyukur karena selalu ditempatkan di posisi strategis sebagai pengurus inti. Kalaupun berbeda pendapat, biasa saja dan saya tak pernah menyerang pribadi seseorang secara terbuka,” tegas Ketua Umum Ika BKPRMI Sulsel ini.

Jujur saya mengakui, ketika ada yang tidak sejalan dengan pikiran saya, saya memilih tidak melawan dengan frontal, apalagi terbuka. Saya bersyukur kendatipun saya berbeda pendapat dengan orang-orang tertentu di satu kubu partai, namun saya memilih tidak melawan terbuka, apalagi emosional. “Memilih politik santun adalah pilihan utama bagi saya,’’ kata Abubakar Wasahua yang saat ini sedang menyelesaikan Buku memoarnya tentang Dakwah dan Politik Islam. “Syukur alhamdulilah, saya selalu ditempatkan sebagai pengurus inti baik di PPP Sulsel maupun di DPP PPP”, tegas Abu. Inilah filosofi gerakan politik Abubakar Wasahua yang selalu mengedepankan politik kasih sayang daripada politik frontal. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here