Ada Tapi Tidak Berguna – Kritik Pedas Untuk Mahasiswa & Aktivis

0
1007
views

Apakabarkampus.com – OPINI PROSA – Gejolak dan pemberontakan seyogianya menjadi keniscayaan bagi mereka yang menghibahkan diri dan percaya pada tegaknya kebenaran jika mendapati kezaliman di persimpangan jalan.

Semangat ini seharusnya tumbuh pada setiap anak bangsa di negeri yang katanya tanah surga. Namun nasib sial menimpa mereka yang tak punya banyak harta, mereka harus mengelus dada karena tak lagi ada yang bisa menolongnya dari derita.

Para anggota dewan yang katanya wakil rakyat hanya ada saat kampanye saja, menebar janji, menyebar benci dan menjual nama rakyat demi kepentingan sendiri.

Pemuda dan mahasiswa konvensional, sama saja, mereka yang idealnya mampu membantu dengan segala idealismenya, kini mereka kehilangan power. Bagaimana tidak jika kerjanya hanya main gadget, memfoto buku lalu dijadikan status tanpa dibaca, selfi di lokasi demostrasi, menggalau dan sekadar ngumpul membicarakan hal tak penting di warung kopi.

Bagi mereka persoalan kemiskinan cukup jadi perbincangan para negarawan dan para aktivis, mereka tak harus memusingi itu, asal uang jajan lancar maka semua tak jadi soal.

Masalah tidak hanya hadir dari mereka yang enggan menghibahkan diri pada masalah negeri, mereka yang katanya peduli juga punya penyakit, penyakit itu tinggi hati dan kejar eksistensi.

Penyakit tinggi hati yang sering terlihat adalah mereka yang hobi baca buku tapi ilmunya hanya sampai pada meja debat, mentang-mentang banyak baca, lantas argumentasi orang lain dianggap tak perlu digubris, perdebatannya pun terkadang hanya debat kusir tak memberi solusi bahkan seringkali berakhir dengan rasa tak saling enak hati.

Adapula yang hanya sekadar modal nekat teriak sana sini, minim ilmu tapi paling kencang teriak seolah tahu semuanya, yang penting datang di lokasi maka merasalah dia paling berperan dan menghakimi orang lain yang tak hadir dalam prosesi.

Tak lupa mereka yang mengaku peduli hanya karena obral ketenaran, bukan rahasia lagi kalau para aktivis kampus adalah sosok yang terkenal, dengan kaos oblong bertuliskan perlawanan hanya agar dilirik banyak lawan jenis, atau pencitraan agar kelak punya posisi dalam struktural.

Belum lagi mereka yang sekadar numpang nama dalam organisasi, masuk pengaderan dasar dan setelah itu hilang ditelan bumi, tapi anehnya, di luar selalu mengaku kader lembaga terkait sambil menepuk dada. Ah, orang tak tau diri seperti ini selalu saja membuat geli.

Jika seperti ini masalah negeri akan terus berjejer rapi mengantre menggerogoti Indonesia, kronis hingga perlu dioperasi, dan sayangnya alat operasi telah dikorupsi karena pemuda tak lagi mengisi amunisi untuk kemajuan negeri.

Namun putus asa bukan jawaban dari pelbagai masalah di negeri ini, masih banyak anak muda terutama mahasiswa yang di hatinya terpatri kecintaan pada negeri, miris dengan segala yang terjadi dan turut berkontribusi mengurangi masalah yang ada, selalu ada harapan di setiap masalah tergantung seserius apa kita mewujudkannya.

“Mari kritis untuk jadi cerdas
Mari cerdas untuk jadi Manusia
Mari menjadi Manusia untuk memanusiakan manusia
Jangan sampai kita hanya jadi budak yang disekolahkan tanpa pernah dimerdekakan.”(*)

Penulis : Besse Mapparimeng A. Lauce (Laskar Pecandu Aksara Makassar)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here