Isak Haru Kuliah Kerja Nyata (KKN)

0
157
views

Apakabarkampus.com – Suatu perkara yang cukup berambisius bagi mahasiswa semester-semester akhir. Mau tidak mau harus melalui yang namanya Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Bagi aktivis, mungkin hal yang lumrah untuk dijalani. Sebab memang, nuraninya sudah sering terlibat langsung dengan persoalan-persoalan yang ada di masyarakat, bahkan sudah menjadi hobi bagi mereka yang kesehariannya kesana kemari menjelajahi problematika yang terjadi di kampus maupun di masyarakat.

Apalagi kita ketahui, KKN notabenenya dilaksanakan tepat pada wilayah desa-desa suatu daerah, bahkan bisa jadi di pelosok negeri yang tidak dijangkau oleh jaringan sama sekali. Lantas, bagaimana dengan mereka yang belum terbiasa dihadapkan dengan kondisi-kondisi tersebut? tentu hanya isak haru yang bisa mengantarkan mereka pada gerilyanya dengan keharusan menjalani KKN.

Kali ini penulis akan bercerita terkait Mahasiswa KKN Angkatan 2016 Universitas Negeri Makassar. Euforia pengumuman penempatan lokasi KKN yang jatuh pada hari Selasa (10/09/19). Menjadi berita gembira bagi mereka yang ditempatkan sesuai ekspektasinya. Sedangkan, banyak pula yang bertolak belakang dengan keinginan penempatannya. Entah dari sisi jauh dekatnya wilayah yang ia dapat atau dari sisi dengan siapa ia ditempatkan.

Berpacu pada hal ini, melalui pendekatan di luar prosedural, toh yang lazim digunakan oleh mereka yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pihak berwenang. Alhasil beberapa dari mereka berhasil mengubah penempatan sesuai dengan keinginannya. Namun adapula yang abai terhadap hal tesebut.

Tepat pada hari itu juga, momentum pelepasan Peserta KKN disinyalirkan oleh bapak rektor langsung. Beliau sempat menyampaikan protesnya terhadap mahasiswa yang terlambat datang pada saat itu.

“Bagaimana mungkin kalian mengabdi ke daerah, bila persoalan disiplin waktu saja anda tidak bisa,” ucap Bapak Rektor.

Sebagian mahasiswa tercengang mendengar ketegasan rektor kali itu.
Setelah acara formal pelepasan tersebut, para mahasiswa diarahkan agar bersama-sama berkumpul dengan pembimbing dan teman-teman selokasi KKN-nya. Paling tidak, dikumpulkan untuk mengisi absensi pertama pertemuan dari berbagai macam jurusan seuniversitas.

Seiring mengalirnya waktu, tepat pada hari minggu pemberangkatan pertama, lokasi KKN sektor mamuju diberangkatkan, tepat bakda magrib. Kemudian berlanjut di hari-hari selanjutnya yakni sektor Polman, Takalar, Pangkep, Enrekang dan terakhir Maje’ne.

Seperti tahun-tahun kemarin, titik lokasi pemberangkatan dipenuhi sanak keluarga, teman-teman maupun dari kalangan asing bagi mahasiswa KKN Angkatan 16 itu.

Tangis kiranya mendidih di pelupuk mata mereka yang baru kali pertama berlepas diri. Bukan sekadar itu, status di beberapa sosial media pun menjadi wadah penuangan curhatan antaranya.

Paling menyedihkan bagi mereka yang diseduhi isak tangis oleh tim pengantar yang tidak bisa dihitung jari. Makanya ada yang merasa, suatu dosa yang tergeletak di batin tersendiri ketika tidak menjadi bagian dari tim pengantar. Sampai-sampai salahsatu dosen pembimbing yang menyaksikan berceloteh, “Saya kira mereka juga peserta KKN, kasihan bus yang dipesan tidak mencukupi.”

Suatu pelipur bahagia tersendiri bagi mereka yang tim pengantarnya hanya satu atau dua orang saja, bahkan tidak ada sama sekali, sebab tidak banyak yang harus menangisi keberangkatannya menuju lokasi pengabdian.

Pertanyaannya, kenapa harus ada tangis? Toh, kita menggenggam Tridharma Perguruan Tinggi untuk kemudian kita realisasikan di tanah pengabdian selama 3 bulan, tuturnya bagi mereka mahasiswa tegar yang terpaksa tidak mengucurkan air mata pada kesempatan itu.

Sungguh KKN menjadi momen bersejarah bagi siapapun yang ingin, sedang dan telah mengalaminya. Macam rupa cara mereka mempersepsikan dan mengekspresikan KKN itu. Tidak jarang mereka menganggap KKN hanya formalitas bila pembimbing tidak syarat perhatian terhadap anak-anak bimbingannya.

Ada yang beranggapan KKN ialah wadah yang tepat penuangan praktik terhadap teori-teori yang diserap selama ini di bangku kuliah. Ada pula yang mendefinisikan KKN hanya sebatas liburan, wajar saja jika ada istilah lakukan ini, cekret dululah, biar mereka tahu lokasi KKN kita indah. Bahkan kengeriannya ada yang menganggap KKN adalah ajang menyatakan cintanya bagi kaum yang dipatok selama berlangsungnya pengabdian.

Menurut penulis tidak ada yang salah dari cara mereka berekspresi dan berasumsi. Sebab dari penulis sendiri, seperti ini, “Boleh jadi yang kauanggap baik belum tentu baik bagi orang lain. Maka, percayakan lakumu pada nurainimu saja.”

Akhir dari penulis, Selamat Mengabdikan diri para mahasiswa yang sedang menjalani KKN. Semangat sampai tujuan. Pantang pulanglah sebelum mengutarakan manfaatmu di lokasi abdi.(*)

Penulis : Susi Susanti (Mahasiswa PPKn FIS UNM – BerKKN di Kec. Curio, Enrekang)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here