Ketika TV Mendikte Sepakbola

0
13
views

Oleh : Rusdin Tompo

Apakabarkampus.com — Penggemar sepakbola di seluruh dunia, benar-benar dimanjakan oleh stasiun TV. Demi memenuhi dahaga pecinta sepakbola, jadwal pertandingan bisa berubah atau diubah. Maksudnya jelas, agar semakin banyak orang bisa menyaksikan bintang-bintang lapangan hijau bersama klub kebanggaannya berlaga. Sehingga, perbedaan waktu antarnegara coba dikompromikan agar para fans fanatik yang tersebar di berbagai belahan bumi dapat menyaksikan setiap pertandingan. Apalagi jika pertemuan dua kesebelasan itu berlabel “derby”, “el clasico”, atau “class of the titans”. Inilah konsekuensi ketika sepakbola bukan hanya semata olahraga tapi sudah menjadi bagian dari budaya global dengan aspek kepentingan bisnis yang kental.

Intervensi Stasiun TV

Kepentingan bisnis yang cukup berpengaruh terhadap sepakbola adalah industri pertelevisian. Harus diakui, stasiun TV-lah yang memasarkan liga-liga ternama di benua Eropa sebagai komoditi ke berbagai kawasan. Stasiun TV ikut andil mendongkrak nama besar Manchester United, Barcelona, Juventus, Ajax Amsterdam, hingga Bayer Muenchen. Televisi sebagai produk budaya populer juga menaikkan pamor David Beckham, Lionel Messi, Christiano Ronaldo, Thiery Henri, Didier Drogba, serta Park Ji Sung. Singkatnya, popularitas sepakbola sebagai olahraga masyarakat internasional tak lepas dari berbagai siaran langsung yang dihelat sejumlah jaringan TV dunia.

Kuatnya kuasa TV atas sepakbola bisa kita saksikan saat partai el clasico antara tuan rumah Real Madrid kontra Barcelona, pada 11 Desember 2011. Ketika itu, pertandingan digelar lebih sore agar penggemar mereka di kawasan Asia bisa menyaksikan kedua seteru abadi itu berlaga. Bukan hanya di Spanyol, peserta English Primier League (EPL) juga mengakui bahwa penyusunan jadwal pertandingan di negara Ratu Elisabeth itu sangat dipengaruhi oleh kebijakan stasiun TV. Salah satunya, terkait pertimbangan perbedaan waktu. Padahal, secara bisnis, target pasar utama EPL adalah negara-negara di kawasan Asia.

Itulah mengapa, jadwal pertandingan Liga Inggris disesuaikan agar memungkinkan stasiun televisi menayangkan siaran langsung pada waktu premium di Asia. Bayangkan saja, jika pertandingan pertama liga Inggris dilakukan, berarti jarum jam di Indonesia bagian Barat baru pukul 7 malam. Namun, bila pertandingan dilakukan terakhir maka angka pada jarum jam sudah menunjuk pukul 3 pagi WIB. Konsekuensinya, terpaksa tim bertanding pada waktu yang tidak mengenakkan. Terkadang, ada tim harus bermain pada jam makan siang saat matahari tengah berada di atas kepala, lagi bersinar terik.

Kondisi ini pernah dikecam oleh Manajer Manchester United, yang ketika itu masih dipegang Sir Alex Ferguson yang menyebut klub-klub sepakbola sudah “berjabat tangan dengan iblis” karena mengizinkan stasiun TV menentukan jadwal pertandingan (www.detiksport.com). Sikap berang juga pernah ditampakkan oleh pelatih Arsenal, yang ketika itu masih ditangani Arsene Wenger. Sosok berjuluk The Professor itu menganggap otoritas liga mementingkan kepentingan televisi. Murka Wenger bisa dipahami lantaran The Gunners–julukan Arsenal–mengalami lima perubahan jadwal hanya dalam satu musim. Menurut Wenger, Liga Primer sudah menjual jiwa sepak bola Inggris sehingga sama sekali tidak bisa mengontrol jadwal pertandingan. Ia mengangggap, baru pertama kali kepentingan televisi didahulukan selama 30 tahun masa kepelatihannya.

Tunduknya jadwal liga terhadap kemauan stasiun TV tentu berdampak pada hasil pertandingan suatu kesebelasan. Sebagaimana keluhan Manajer Manchester City, Roberto Mancini. Contoh kasusnya ketika The Citizens hanya dalam tempo 48 jam melawat ke kandang Sunderland, kemudian harus menjamu Liverpool di Etihad. Karena itu Mancini menilai, jadwal TV membuat timnya diperlakukan tidak adil.

Penghasilan Klub

Ribut-ribut soal hegemoni TV atas sepakbola tak lepas dari persoalan hak siar yang menjadi salah satu sumber utama pemasukan klub, di samping pendapatan lewat penjualan merchandise serta tiket pertandingan. Ada dua sistem pembagian hak siar TV, yaitu berdasarkan hasil negosiasi dan berdasarkan pembagian yang merata. Pada sistem yang pertama maka besar atau kecilnya pendapatan suatu klub tergantung hasil negosiasi klub bersangkutan dengan stasiun TV pemegang hak siar. Sistem ini dapat menimbulkan kecemburuan, karena penghasilan klub berbeda antara satu dan lainnya, seperti terjadi di Liga Spanyol. Sedangkan pada sistem kedua, penghasilan klub dari hak siar relatif sama, meski dirasakan tidak adil Sistem ini akan membuat persaingan antara klub yang satu dengan yang lain lebih nyaman, tidak ada kecemburuan social. Namun kekurangannya adalah bagi klub oleh kesebelan-kesebelasan besar yang menganggap karena merekalah rating TV menjadi tinggi. Sistem kedua ini dianut di Liga Inggris.

Gara-gara skema pembagian hak siar ini, pernah terjadi sengketa antara Conto TV dan Sky di Liga Italia. Conto TV menuduh Sky memonopoli Lega Calcio dan memperkarakannya ke pengadilan di tahun 2010. Akibatnya, Liga Italia terancam bangkrut ketika itu. Maklum saja, televisi satelit Sky menguasai sebagian besar hak siar Liga Italia dan menggelontorkan sekira 1.149 milyar euro untuk kontrak selama dua tahun. Klub-klub Italia memang sangat bergantung pada pendapatan hak siar. Jika kontrak dengan Sky dibatalkan, kerugian ditaksir mencapai 571 juta euro.

Persoalan hak siar juga sempat mengemuka di Spanyol, bahkan para pemain melakukan pemogokan untuk memberikan tekanan agar dilakukan perubahan pembagian hak siar yang lebih adil. Presiden Sevilla FC, Jose Maria del Nido, merupakan orang yang paling lantang bersuara. Del Nido menuduh Real Madrid dan Barcelona sebagai klub pencuri. Kedua klub raksasa Spanyol tersebut dituding telah mencuri pendapatan hak siar yang semestinya menjadi milik 18 klub La Liga. Del Nido rupanya muak dengan dominasi Barca dan Madrid yang mendapat jatah lebih dalam keuntungan hak siar. Setengah dari pendapatan hak siar televisi La Liga hanya diberikan kepada Barca dan Madrid. Sisanya dibagi ke-18 klub peserta Divisi Primera.

Setiap tahunnya, hak siar di Spanyol mencapai USD 799 juta atau setara Rp7,2 triliun. Masalahnya, Barca dan Real menguasai nyaris separo dari total pendapatan itu, yakni sebesar 34 persen, kemudian Valencia dan Atletico Madrid mendapatkan 11 persen, setelah itu sisanya baru dibagi ke klub lainnya. Makanya, Barca dan Real sangat hebat di bursa transfer. Tak ayal jika Real Madrid, pada musim 2010-2011, meraih pendapatan sebesar 480 juta euro atau sekitar Rp 5,8 triliun. Nilai ini 8,6 persen lebih tinggi dibanding periode sebelumnya. Sumber pendapatan Madrid antara lain adalah penjualan tiket dan bersama dengan Barcelona, menerima 140 juta euro atau sekitar Rp 1,7 triliun setiap tahun dari hak siar televisi.

Tergiur oleh skema pembagian hak siar di Liga Spanyol, Ian Ayre dari Liverpool sempat menyatakan bahwa pembagian hak siar TV Premier League yang dibagi rata kepada 20 klub merupakan sesuatu yang tidak adil. Pasalnya, tim-tim papan atas seperti Arsenal, Manchester United, Chelsea dan Liverpool memiliki penggemar lebih banyak ketimbang tim lainnya. Untuk diketahui, perjanjian hak siar luar negeri Liga Primer bernilai £1,4 miliar atau sekira Rp19,6 triliun yang berakhir pada tahun 2013. Konon, liga ini ditonton oleh 1,46 miliar orang di seluruh dunia atau 70 persen dari total penggemar sepak bola.

Fergie tampaknya mendukung ide Ayre dengan mengatakan klubnya, MU, seharusnya mendapatkan pembagian uang yang lebih banyak dari hak siar TV luar negeri karena pertandingan timnya ditayangkan di 212 negara. Tapi, eksekutif Arsenal Ivan Gazidis menentang rencana Liverpool karena akan menghancurkan klub Premier League sendiri. Bagi Gazidis, stabilitas dan kekuatan Liga Inggris justru karena penjualan hak siar TV dilakukan secara kolektif dan pembagiannya merata untuk setiap klub.(*)

*Penulis : Rusdin Tompo (Ketua KPID Sulsel, periode 2011-2014)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here