Kisah Dibalik Berhasilnya Supriadi Agustiawan Mengikuti Konferensi International di Thailand

0
15
views

Apakabarkampus.com – Dibesarkan dari keluarga sederhana, sama sekali tak menyurutkan semangatnya dalam menorah prestasi yang mampu membawa nama baik keluarga dan tempat dia menempuh pendidikan.

Dia adalah Supriadi Agustiawan, pemuda kelahiran 11 Agustus 1999 ini merupakan mahasiswa semester 3 Ilmu Komunikasi di UIN Alauddin Makassar.

Selama menempuh pendidikan, beberapa prestasi berhasil diraihnya seperti mejadi Delegasi kegiatan Volunteering Thailand Intercultural Camp di Bangkok, juara 1 Poster Keselamatan dalam Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Tingkat Nasional Kementrian Perhubungan RI, mendirikan platform berbasis kemanusiaan bernama RESPECT.ID di Kab.Maros, 10 besar LKTIN dalam ajang CSSMORA UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan masih banyak prestasi lain.

Diusia yang masih tergolong muda dengan segudang prestasi membuat Supriadi menjadi sosok yang patut ditiru oleh pemuda pemuda saat ini.

Baru – baru ini, dia kembali menorehkan prestasi besar dengan menjadi bagian dari delegasi Indonesia dalam International Leader Model United Nations 2019 (ILMUN) yang berlangsung pada 30 Januari – 2 Februari 2019 kemarin. Kegiatan yang bertempat di Queen Sirikat National Convention Centre, Bangkok, Thailand ini merupakan bentuk konferensi Model United Nations skala Internatinal yang akan mempertemukan 300 delegasi dari seluruh dunia.

“International Leader Model United Nations adalah kesempatan bagi saya. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, karena di masa mendatang bangsa atau bahkan dalam skala daerah regional saja, mereka selalu mebutuhkan ide-ide kreatif untuk membangun kualitas daerah masing – masing,” ungkap Supriadi saat berbincang dengan salah satu media online.

Sebelum terpilih dalam kegiatan itu, terlebih dahulu dia mengirimkan esai berjudul ‘Platform to Handling Local Humanity Issue’ yang berkaitan dengan penanaman nilai-nilai kepeduliaan dan kemanusiaan.

Tak banyak yang tau kisah dibalik perjuangan Supriadi hingga akhirmya berhasil mengikuti konferensi Internasional tersebut. Salah satu kendala yang paling dirasakan oleh Supriadi dari segi biaya karena kegiatan ini ditanggung oleh masing-masing peserta. Cara pertama yang ditempuhnya yaitu mengajukan proposal. Namun tidak berjalan sesuai yang diinginkan, dari banyaknya proposal yang diajukan hanya 2 yang menerimanya.

“Respon yang saya terima bermacam-macam, mulai dari ditolak degan cara yang tidak wajar, diusir, dan ada yang sampai menghilangkan proposal yang saya kirim padahal sudah approve tapi ada juga yang memberikan respon  baik, 2 diantaranya menerima dan memberikan bantuan dana.” Jelasnya.

Layaknya manusia biasa Supriadi mengaku pernah mengalami yang namanya putus asa dikarenakan dana yang dia dapatkan dari proposal dan situs kitabisa.com belum seberapa dan deadline pembayaran yang semakin dekat. Akhirnya langkah terakhir yang ditempuh dengan harapan bisa membantunya yaitu mengirim berita ke media dan tak disangka berita tersebut menjadi viral.

Selama 2 bulan lamanya Supriadi berjuang sendiri mencari dana kesana kemari diiringi Do’a dan akhirnya membuahkan hasil, dia mendapat donatur dari Ikigai Asia dan salah satu pembuat starup di Jerman yang merupakan orang Indonesia.

“Bagi siapapun yang merasa ingin memacu diri dengan turut ambil bagian dalam kegiatan internasional, saya pesankan jangan pernah ragu mengambil langkah. Seperti kendala yang saya alami terkait dana yang bagi orang-orang mungkin mustahil bisa dikumpulkan dalam waktu singkat, tapi saya selalu tanamkan yakin. Yakin pada diri sendiri, pada proses dan juga pada doa-doa yang pasti akan dikabulkan oleh Tuhan. Kita semua punya porsi dan cara belajar, tergantung apakah kita ingin menjemputnya, atau tidak. Dan saya tekankan sekali lagi, bermimpi itu gratis. Dan melewati proses-proses dalam mewujudkannya adalah sebuah bayaran mahal yang tak bisa dibeli oleh orang-orang yang hanya bisa iri dan tidak pernah menjadi supporting sistem kita dalam berjuang. Poinnya adalah serahkan pada Tuhan apa yang tak pernah bisa lagi kita lakukan” tutupnya.(*)

(*)Citizen Reporter : A.Tenriajeng

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here