Berbagi Cerita Sukses di PLM Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Prov. Sulsel

0
43
views

Apakabarkampus.com — Asnawati (22 tahun) seorang mahasiswi di Bone, mampu membiayai penyelesaian kuliahnya dan berhasil menyelesaikan studinya berkat usaha pembuatan Sokkok Recca yang digelutinya. Awalnya usaha itu kurang berkembang, tetapi setelah ia rutin berkunjung ke perpustakaan dan melaksanakan pelatihan pembuatan Songkok Recca yang difasilitasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan kabupaten Bone melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, usahanya pun mulai berkembang dan dikenal oleh masyarakat. Melalui program internet gratis di perpustakaan ia pun berhasil memasarkan Songkok Reccanya ke luar daerah bahkan sampai ke manca negara. Penghasilannya kian bertambah dan ia mampu membantu perekonomian keluarganya.

Lain lagi dengan cerita Erniwati, seorang ibu rumah Tangga dari Desa Belo Kabupaten Soppeng yang memiliki hobi membuat kue. Ia berusaha mengembangkan hobinya tersebut menjadi sebuah usaha yang sukses, setelah rajin berkunjung ke Perpustakaan Desa yang terletak di dekat rumahnya. Di Perpustakaan, ia belajar melalui internet maupun mengikuti pelatihan pembuatan kue yang dilaksanakan oleh Perpustakaan Desa. Secara khusus ia memilih mengembangkan bisnis Kue Tetu. Awalnya kue yang dibuat rasanya belum enak, tapi setelah belajar terus melalui internet lama kelamaan kuenya semakin enak dan diminati masyarakat. Pesanannya pun semakin banyak setelah ia memasarkan kuenya melalui media sosial, tentunya dengan memanfaatkan internet gratis di Perpustakaan Desa.

Ada pula kisah Rahmat Nasurah, pemuda Desa Pajjukukang Kabupaten Maros yang tertantang untuk kembali ke desanya membuktikan jati dirinya sebagai pemuda yang kreatif. Ia memanfaatkan Perpustakaan Desanya sebagai tempat untuk berkarya. Dengan dukungan fasilitas internet di desanya ia belajar melalui YouTube membuat berbagai jenis keterampilan tangan. Pelatihan pembuatan tas dan berbagai jenis kerajinan tangan lainnya dikembangkan melalui kegiatan di perpustakaan desa. Hasil produksinya pun kini mulai dipasarkan secara langsung maupun secara online melalui media sosial dengan memanfaatkan internet di Perpustakaan Desa.

Itulah sepenggal kisah sukses yang diceritakan oleh penerima manfaat (impac) Program Transformasi Perpustakaan Inklusi Sosial yang hadir pada kegiatan Peer Learning Meeting (PLM) Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial tingkat Provinsi Sulawesi Selatan yang dilaksanakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Singgasana Makassar (15-17/10).

Sesungguhnya banyak kisah sukses lainnya yang telah dialami oleh masyarakat penerima manfaat dari Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di Sulawesi Selatan.

Sejak program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial bergulir di akhir tahun 2018 lalu, hingga kini hampir setahun berjalan, 17 Desa di tiga kabupaten (Bone, Maros dan Soppeng) yang menjadi sasaran penerima manfaat, terus bergerak mengaktifkan kegiatan di Perpustakaan Desanya. Baik itu peningkatan layanan perpustakaan dengan memanfaatkan komputer dan internet bantuan dari Perpustakaan Nasional, maupun menjadikan perpustakaan sebagai pusat berkegiatan masyarakat melalui pelibatan masyarakat dengan melaksanakan berbagai pelatihan keterampilan guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, dan membangun kemitraan dengan berbagai stakeholder yang mendukung kegiatan ini.

Hasinya, beberapa orang masyarakat yang tersentuh program ini, yang giat melaksanakan berbagai pelatihan keterampilan, dan memanfaatkan fasilitas internet gratis di Perpustakaan Desa, mampu mengubah hidupnya. Pendapatannya semakin bertambah, tingkat kesejahteraannya pun kian meningkat. Seperti yang dialami oleh Asnawati, Erniwati dan Rahmat Nasulah yang hadir langsung berbagi cerita kesuksesannya di kegiatan PLM Provinsi tahun 2019.

Kegiatan PLM tingkat Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2019 ini dibuka Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Prov. Sulsel Moh. Hasan Sijaya, S.H., M.H, diikuti 65 orang peserta terdiri dari Tim Sinergi dan Fasilitator Provinsi Program Transformasi Perpustakaan Berbasi Inklusi Sosial, PIC/ Fasilitator Kabupaten (Bone, Maros, Soppeng, Enrekang, Pinrang dan bantaeng), Kepala Desa, Pengelola Perpustakaan Desa dan Impac.

Kepala Perpustakaan Nasional RI yang diwakili Pustakawan Utama Subeti Makdriani dalam sambutannya pada acara pembukaan PLM tingkat Provinsi Sulawesi Selatan ini menjelaskan, tujuan dari PLM ini adalah untuk memfasilitasi proses saling belajar dan berbagi pengalaman antar perpustakaan, memotivasi dan membangun kepercayaan diri peserta untuk terus melaksanakan rencana kerja transformasi perpustakaan kabupaten maupun desa, serta memperkuat proses mentoring dan monitoring perpustakaan kabupaten dan desa.

Sementara itu Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, Hasan Sijaya berharap ada goal yang dihasilkan dari pertemuan SHM ini, untuk pengembangan perpustakaan ke depan dalam rangka mewujudkan Literasi untuk Kesejahteraan khususnya di Sulawesi Selatan.

Harapan senada juga disampaikan Kadis melalui Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, Ir. Lubis, M.T. se saat sebelum menutup Kegiatan PLM ini.

“Mudah- mudahan ilmu pengetahuan dan informasi yang didapatkan selama kegiatan PLM ini berlangsung bisa menjadi pemicu motivasi bagi para peserta untuk lebih bersemangat lagi mengembangkan program Transformasi Perpustakaan ini. Sehingga pada akhirnya nanti program ini dapat berjalan sesuai yang diharapkan dan memperoleh hasil yang maksimal untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat terutama di pedesaan,”ujarnya.* (naz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here