Abubakar Wasahua, Menebar Cinta di Jalan Dakwah

0
10
views

Apakabarkampus.com — Apa yang dilakukan seseorang jika baru saja merampungkan tugas-tugasnya sebagai pejabat negara? Tentu banyak hal, termasuk mantan anggota DPRD Provinsi Sulsel selama 15 tahun yang juga mantan anggota DPR RI dari Sulsel, Drs.H.Abubakar Wasahua, M.H. Politisi senior PPP Sulsel yang sejak masa mahasiswa dikenal sebagai aktivis Pemuda Remaja Masjid Sulsel ini, mengisi masa-masa pensiun dari DPR dengan aktif terlibat mengelola pendidikan di tanah kelahiran istrinya, Kab. Luwu. Di Sabtu ini (26/10) misalnya Ketua DPW Parmusi Sulsel ini, menghadiri manasik haji cilik di TK Islam Islahul Ummah Belopa, Kab. Luwu yang dirintisnya sejak dulu.

Bagaimana pendapat Abubakar Wasahuan tentang larangan bicara politik di masjid-masjid? Menurut Wakil Ketua IPHI Sulsel ini, kurang sepakat rasanya, bila ada sebagian orang yang melarang untuk membicarakan urusan politik di masjid. Okelah, kalau urusan kampanye memang jangan di masjid. Itu tidak etis. Masalahnya soal politik itu luas, bukan sekadar kampanye, pemilihan anggota legislatif atau pemilihan kepala negara. Politik sejatinya adalah seni mengurusi kepentingan umat. Masa membicarakan itu dianggap tabu? Tema-tema ceramah di masjid pun harus di-update. Jangan yang itu-itu saja. Bukan hal yang tabu kalau membahas tentang konstalasi perpolitikan Indonesia di atas mimbar masjid. Justru materi-materi seperti itu yang dibutuhkan umat sekarang.

Bagi Abubakar, umat sudah lama dibutakan dengan urusan politik. Katanya politik itu kotor. Benar, politik itu kotor kalau tidak dikelola berdasarkan syariat Islam. Saatnya masjid menjadi pusat edukasi politik. Tentu bukan politik praktis, tapi politik Islam. Inilah gagasan saya, agar pendidikan politik Islam harus masuk ke masjid-masjid. Bahaslah politik secara islami dan secara ilmiah. Terutama anak muda muslim. Mereka harus paham tentang politik Islam. Merekalah kelak yang akan melanjutkan estafet perjuangan. Bisa bahaya nanti generasi Islam, kalau generasi pelanjutnya tidak dipersiapkan sejak dini.

Karena itu, Abu selalu mengajak umat Islam untuk memperjungkan dan membesarkan partai politik yang benar-benar memperjuangkan Islam. Meskipun melakukan ajakan ini tidak mudah. Di mata umat, partai Islam, partai sekuler, partai nasionalis, sama semua warnanya. Kasus korupsi misalnya, ternyata menyebar merata di seluruh partai politik. Tidak terkecuali partai Islam. Jadi sebenarnya, tugas terbesar ada pada para aktivis partai. Membuktikan kalau partainya memang adalah partai yang islami. “Tampakkan pada umat, bahwa partainya adalah partai yang konsisten dan lantang memperjuangkan Islam,” tegas Abubakar yang saat ini merampungkan buku biografi perjalanan dakwah dan politiknya yang berjudul” Abubakar Wasahua, Menebar Cinta di Jalan Dakwah”.

Jadikanlah masjid sebagai madrasah untuk belajar tentang politik Islam. Kajian ini memang sekarang belum terlalu popular. Nah ini menjadi tantangan untuk para pengurus masjid. Jangan hanya membuat kajian yang sifatnya perbaikan individu saja. Atau ceramah-ceramah yang lebih dominan unsur humornya daripada ilmu keislamannya. Meskipun model-model ceramah seperti itu yang digandrungi kebanyakan masyarakat. Prinsip pengurus masjid harus diubah. Jangan membuat kajian yang disukai umat, tapi buatlah kajian yang dibutuhkan umat. Mungkin pembahasan politik Islam masih belum disukai umat. Tapi yakinlah, umat membutuhkan itu.

Abubakar Wasahua, Menebar Cinta di Jalan Dakwah adalah sebuah catatat historis yang menguraikan sketsa hidup tokoh aktivis dakwah dan politik Sulsel ini. Menurut Bachtiar Adnan Kusuma, sang penulis biografi Abubakar Wasahua, menguraikan sekilas singkat cerita Abubakar dalam bukunya, kalau selepas salat, saya merebahkan badan. Mengistirahatkan raga, untuk sementara waktu. Dakwah memang melelahkan. Karena ini adalah perjuangan. Namanya perjuangan pasti melelahkan. Tidak ada perjuangan yang santai.

Dakwah ini tak kenal istirahat. Karena istirahatnya dakwah adalah nanti di surga kelak. Kalau ada sedikit rehat di dalam dakwah, itu adalah waktu untuk mengambil kembali energy, untuk selanjutnya berjuang lagi dan lagi. Rehat sejenak di dunia itu bukanlah istirahat sesungguhnya. Sekadar titik mengumpulkan tenang. Dakwah ini misi mulia. Hanya diemban oleh nabi dan rasul. Maka berbahagialah saat Allah telah menjatuhkan pilihannya kepada kita sebagai pengemban dakwah. Sebarkan dakwah. Buat karya yang bisa berdampak pada umat dan dunia.

Mata ini semakin terasa berat. Hendak tertutup sejenak. Dan inginku, meskipun mata ini nanti tertutup, isi tidurku, isi mimpiku juga tentang dakwah. Biarkan aku rehat sejenak, ya sebentar saja, untuk memimpikan umat yang aku cinta. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here