Sekolah Ramah Anak Harus Jadi Budaya

0
9
views

Apakabarkampus.com — Sekolah Ramah Anak (SRA) harus jadi budaya, bukan hanya dalam rangka lomba. Itu simpulan dari pertemuan antara Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, Komite Sekolah Kompleks Borong, Kepala sekolah dan guru-guru SD Inpres Borong dan SDN Borong serta perwakilan orang tua siswa, pada Senin (4/11/2019). Pertemuan ini diadakan sebagai persiapan Lomba Peningkatan Peran Keluarga Menuju Ketahanan dan Kesejahteraan (P2K3) Tingkat Provinsi Sulsel.

Kepala SD Inpres Borong, Muslih S.Pd, M.Pd berharap sekolahnya bisa jadi bagian dari SRA. Untuk itu, Muslih berkomitmen untuk memenuhi ketentuan yang jadi indikator SRA. Sementara Ketua Komite SD Kompleks Borong, Drs H. Marzuki mengapresia pertemuan yang dilakukan, apalagi menghadirkan sejumlah orang tua dari kedua sekolah.

“Hadirnya orang tua supaya kita semua paham apa itu SRA,” kata Marzuki saat membuka pertemuan.

Hj Faridah, Kasubid Pengarusutamaan Anak DP3A Kota Makassar, mengingatkan bahwa untuk membangun komitmen SRA harus dimulai dari deklarasi yang dilakukan bersama oleh semua pemangku kepentingan.

Baso Temmanengnga, yang hadir sebagai pemateri SRA dari DP3A, menjelaskan bahwa dalam mewujudkan SRA, ada banyak aspek yang mesti diperhatikan. Antara lain, perlu ada komitmen tertulis yang dibuat oleh pimpinan sekolah. Perlu juga program-program yang mendukung SRA. Misalnya, proses belajar mengajar yang ramah.

“Jangan atas nama disipilin lalu dilakukan kekerasan terhadap anak,” demikian Baso mengingatkan.

Selanjutnya, perlu juga pendidik dan tenaga kependidikan yang terlatih dan paham Konvensi Hak Anak (KHA) dan Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA). Dengan begitu, mereka mampu menangangi persoalan anak di sekolah. Karena anak berhak mendapat perlindungan selama berada di lingkungan sekolah, dan di masyarakat pada umumnya. Disampaikan, perlu ada kebijakan khusus dalam penanganan persoalan anak, di mana hal itu tidak merugikan anak.

Ditambahkan untuk bisa menjadi SRA, perlu ada sarana dan prasarana yang mendukung. Ruangan perlu disetting tersendiri. Bila perlu anak-anak yang mengatur sendiri bagaimana penataan ruang belajarnya. Misalnya, kalau anak-anak lebih nyaman dengan model lesehan dan menggunakan karpet, bisa saja dilakukan sepanjang itu menurut kesepakatan dan aspirasi anak.

Toilet juga perlu diperhatikan. Jangan dibedakan antara guru dan siswa tapi berdasarkan jenis kelamin. Ini sesuai prinsip non-diskriminatif. Perlu ada panggung kreasi untuk pengembangan bakat dan minat anak. Perhatian juga perlu diberikan pada colokan listrik agar memperhatikan keamanan dan keselamatan anak.

“Intinya, sekolah harus bersih, aman, nyaman dan indah, serta harus inklusi. Suasana nyaman itu sudah bisa terlihat sejak murid masuk ke sekolah,” tambahnya.

Baso Temmanengnga, menyarankan perlunya kesepakatan bersama oleh kedua kepala sekolah bahwa kawasan SD Kompleks Borong merupakan SRA. Setelah itu dibentuk gugus tugas dan pembuatan papan informasi yang menunjukkan bahwa sekolah yang berada di Kecamatan Manggala, Makassar itu sebagai SRA.

Muhammad Hatta, Kasi Ketahanan dan Kualitas Keluarga DP3A, sekaligus Koordinator Lomba P2K3 Kota Makassar menambahkan bahwa tahun ini Kelurahan Borong ditunjuk mewakili Makassar untuk Lomba P2K3 Tingkat Provinsi Sulsel. Salah satu indikator dalam penilaian adalah sekolah yang sudah harus SRA.

Rusdin Tompo, aktivis anak yang hadir dalam pertemuan mengatakan mewujudkan SRA itu bukan sekadar di atas kertas dan pembangunan fisik saja. Lebih dari itu adalah soal mindset dan perubahan perilaku. Paling tidak, menurutnya, deklarasi dan penandatangan sudah menunjukkan kemauan untuk jadi SRA.

Terpisah, Kepsek SDN Borong, Dra Hj Hendriati Sabir, M.Pd, menyatakan kesiapan sekolahnya mengadakan kegiatan Outdoor Classroom Day (OCDay) pada tanggal 7 November 2019 ini. Pihak sekolah akan menggandeng beberapa pihak dalam kegiatan, seperti pegiat literasi, Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan Radio Republik Indonesia (RRI).

“SRA itu butuh pendekatan multi-stakeholder,” katanya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here