Rusaknya Sistem Keuangan Global Akibat Kapitalisme

0
27
views

apakabarkampus.com – OPINI – Ada kalimat yang begitu Masyhur di masyarakat kita, “Uang adalah raja dunia.”

Kalimat itu Mungkin dianggap biasa oleh kebanyakan orang. tetapi bagi kaum muslimin, kalimat tersebut adalah produk pikiran sesat, yang merupakan doktrin sistem kufur kapitalisme-sekuler.

Padahal Allah-lah yang Maha menghidupkan dan mematikan, Dia pula yang memelihara manusia, alam dan kehidupan, pemilik kerajaan langit dan di bumi, bukan “uang”.

Faktanya, uang tidak memberikan kesehatan dan menjaga kita dari unsur-unsur penyakit yang menyerang tubuh kita dan tidak mendidik kita. bahkan tidak semua dapat dimiliki dengan modal uang. Misal; menghirup oksigen, menikmati keindahan alam, memperkaya jiwa dan menentramkan hati.

Jika ditanya mana yang lebih bernilai antara uang dan oksigen? Uang dan kesadaran? Atapun antara uang dan kesehatan? Tentu kita tidak akan memilih uang.

Menurut sejarahnya, uang dibuat sebagai alat transaksi perdagangan barang dan jasa dalam rangka mempermudah aktivitas ekonomi manusia. Oleh karena itu, uang harus benar-benar memiliki nilai atas dirinya, tentu saja nilai yang sepadan dengan barang dan jasa yang akan diperdagangkan oleh manusia.

Nilai tersebut dinamakan nilai intrinsik (nilai benda yang melekat pada uang), maksudnya pada benda itu menyimpan nilai kekayaan rill. Selain itu, ada pula nilai nominal (angka), fungsinya sebagai pembeda atas ukuran atau jumlah kekayaan yang terkandung dalam uang tersebut.

Dengan demikian, nilai nominal dan intrinsik pada uang, mutlak harus ada. Menghilangkan satu di antara keduanya akan merusak hakekat uang itu sendiri. Begitu pula fungsi uang, ia tidak boleh dijadikan sebagai komoditas yang diperjualbelikan, apalagi sebagai alat penjajahan atas manusia.

Adalah As (Amerika Serikat) dan para kapitalis yang rakus itu, merekalah pihak yang paling bertanggung jawab atas rusaknya sistem finansial global saat ini. Mereka menghilangkan nilai intrinsik uang, dengan mencabut backing-an emas terhadap uang kertas.

Tidak hanya itu, mereka juga merusak fungsi uang dengan menjadikan uang sebagai ‘komoditas’ lewat lembaga perbankan dan lembaga keuangan lainnya. Juga menjadikan uang sebagai komoditas dalam proses pemberian kredit. Instrumen yang digunakan adalah bunga (interest).

Uang yang memakai instrumen bunga telah menjadi lahan spekulasi empuk bagi banyak orang di muka bumi ini. Kesalahan konsepsi itu berakibat fatal terhadap krisis hebat dalam perekonomian sepanjang sejarah, khususnya sejak awal abad-20 sampai sekarang.

Tanpa rasa malu mereka menjadikan dolar sebagai standar mata uang dunia, padahal, Dolar-AS (uang fiat–tanpa dasar emas/perak). Akibatnya, hampir seluruh mata uang negara dunia sangat bergantung kepada dollar yang sejatinya tak punya kekayaan apa-apa terhadap fisiknya.

Dengan otoritas itu, As dan para kapitalis besar bisa menghegemoni ekonomi dan mendikte negara-negara di dunia. Efeknya, mencuat kemiskinan massal di seluruh negara-negara korban kapitalisme dan penipuan mata uang dolar.

Kejahatan dan kekacauan sosial, kerusakan akhlaq dan kematian di banyak Negara. Semua itu dipicu oleh masalah distribusi harta yang tidak merata alias telah terjadi apa yang disebut akumulasi harta dan kekayaan pada segelintir orang “kapitalis”.

Berawal, saat Presiden Richard Nixon, kebijakanya yang radikal dengan tidak lagi memberlakukan standar emas bagi Dolar Amerika serikat pada tahun 1971, lalu diikuti oleh negara” dunia. pada saat yang sama, mata uang dunia dipaksa tunduk pada dolar, maka pemerintah dan bank dunia yang menciptakan uang itu tidak lagi mem-backing-nya dengan benda yang benar-benar bernilai.

Kesepakatan bahwa dolar sebagai standar mata uang dunia. Memberikan legitimasi terhadap As dan kapitalis di belakangnya, untuk memegang kendali atas keuangan dunia. Dengan itu As dan kapitalis adalah penguasa tunggal atas ekonomi dunia.

Ibarat “malaikat penyabut nyawa” As dan para kapitalis tidak hanya mampu memiskinkan namun juga mampu mematikan perekonomian negara dan menghancurkan negara.

Konvensi global itu menetapkan “Banyaknya Jumlah dolar di suatu negara akan berdampak pada menguatnya nilai kurs mata uang di negara tersebut. Sebaliknya jika jumlah dolar sedikit, maka nilai mata uang negara tersebut akan jatuh. Atas dasar ini, mayoritas negara-negara dunia harus melakukan penyesuaian atas seluruh kebijakan politik ekonominya terhadap dolar demi menjaga stabilitas keuangan negaranya. Lewat skema ini, hegemoni ekonomi benar-benar akan dilakukan dan kini terbukti jika kedaulatan suatu negara ada di tangan As dan para kapitalis global.

Para rezim berkewajiban menggenjot jumlah dolar dalam negri dengan berbagai macam skema. Umumnya, dolar akan masuk melalui pintu perdagangan investasi modal asing. Di titik ini kita akhirnya paham, mengapa setiap rezim sangat ketergantungan terhadap model kebijakan investasi asing.

Dengan kertas dolar, para kapitalis raksasa yang rakus itu akan mengambil seluruh benda-benda yang benar-benar berharga seperti hasil alam, tenaga, tanah dan gagasan kita, serta produk-produk yang dihasilkan dari padanya.

Sampai di sini, negara tersebut akan dihisap hingga bangkrut. Masyarakatnya dijadikan pekerja ataupun pasar bagi korporasi-korporasi besar milik kapitalis serakah itu.

Untuk meredam kemarahan rakyat, pemerintah dan LSM akan bekerja untuk menghibur masyarakat dengan menyediakan berbagai program jaminan sosial, bantuan pendidikan, kesehatan, pertanian, perikanan dll. Termasuk membangun berbagai wahana hiburan dan rekreasi.

Dalam hal ini, pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna memperoleh keuntungan bersama, tetapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untuk kepentingan-kepentingan pribadi.

Sayangnya, masyarakat awam hanya memahami kalau kepentingan dan kegunaan uang kertas hanya sekadar alat tukar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sejenak teringat ungkapan satu dosen saat mengantarkan materi “perbandingan ekonomi” , beliau sempat bertutur. “Tidak semua orang memahami kejahatan dari uang kertas yang digunakan sistem kufur kapitalisme buatan barat itu, kecuali mereka yang memiliki pengindraan tajam.”

Jika diamati, masih sangat banyak dari masyarakat dunia termasuk Indonesia yang belum paham dengan model penjajahan ini. Akhirnya mereka justru terjebak dan memberikan satu kepentingan yang hampir bersifat mistik kepada uang kertas itu.

Akibatnya, sebagian besar menganggap kalau tumpukan uang kertas sebagai satu bentuk energi dan tempat penyimpanan kekayaan, lalu mereka berlomba untuk mencari dan menumpuk uang tersebut dengan segala daya upaya, tanpa peduli standar halal haram, tanpa berpikir uang yang ditumpuk itu benar-benar memiliki nilai yang berharga pada bendanya atau tidak?

Sehingga layak untuk ditukarkan dengan benda berharga dan tenaga yang mereka miliki. Bahkan, mereka menghabiskan waktu dari pagi hingga petang untuk menumpuk uang kertas tanpa pernah peduli kondisi ekonomi masyarakat luas.

“Mereka seperti orang buta yang merindu siang, padahal siang tak kunjung datang.” Padahal uang kertas itu benar-benar tidak memiliki nilai atas dirinya, melainkan cetakan angka dan print out gambar-gambar “citra” agar seolah-olah dianggap bernilai.

Sejatinya, uang harus memiliki nilai intrinsik dan nilai nominal pada bendanya. Selain itu, fungsi utama uang adalah sebagai alat transaksi ekonomi yang digunakan untuk membeli barang dan kebutuhan yang berguna bagi kebutuhan manusia.

Selain untuk menjaga stabilitas harga. Uang bukan sebagai komoditas apalagi sebagai alat penjajahan. Oleh karenanya, nilai dan fungsi uang itu mesti dikembalikan sebagaimana mestinya.

Kembali Kepada Dinar Dirham
Sejak 14-abad lalu, Allah SWT., lewat Rasulullah Saw mensyariatkan mata uang Dinar dan Dirham (emas, perak) yang memiliki kekayaan rill atas bendanya (baca; Dinar dan dirham). Dan Setelah wafatnya Rasulullah, para Khalifah, sultan dan amir semua mengikuti sunnah tersebut sampai runtuhnya Negara Khilafah pada tanggal, 3 Maret 1924.

Bahkan Sebelumnya, Peradaban kafir kuno Romawi dan Persia juga menggunakan mata uang tersebut walau dengan ukuran dan corak yang berbeda.”

“Emas adalah uangnya para raja, perak adalah uangnya para terhormat, barter adalah uangnya para petani–tapi utang adalah uangnya para budak.” (Norm Franz, Money and Wealth in the New Millennium).

Islam memandang uang hanya sebagai alat tukar, bukan sebagai barang dagangan (komoditas) yang diperjualbelikan apalagi sebagai alat penjajahan seperti yang dianut kapitalisme.

Ketentuan ini telah banyak dibahas para ulama seperi Ibnu Taymiyah, Al-Ghazali, Al-Maqrizi, Ibnu Khaldun dan lain-lain. Hal ini pun dipertegas lagi oleh Choudhury dalam bukunya “Money in Islam: a Study in Islamic Political Economy”, bahwa konsep uang tidak diperkenankan untuk diaplikasikan pada komoditi, sebab dapat merusak kestabilan moneter sebuah negara.

Bernard Shaw di 1928 menulis: “Hal paling penting tentang uang adalah menjaga kestabilannya. Kamu harus memilih antara mempercayai kestabilan alami emas dan kejujuran dan intelijensi para anggota pemerintah. Dengan tetap menghormati para bapak yang terhormat itu, aku menasihatimu, selama sistem kapitalis masih bisa hidup, pilihlah emas.”

Oleh karena itu, Sebagai seorang muslim kita dituntut untuk menerapkan seluruh syariat yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw., termasuk dalam penggunaan mata uang Dinar-Dirham.

Lebih dari itu, uapaya mengembalikan mata uang Dinar-Dirham merupakan kebutuhan umat manusia. Namun demikian menerapkan Syariat Islam secara kaffah termasuk dalam penggunaan mata uang Dinar-Dirham hanya akan terwujud dengan adanya institusi Negara Khilafah.

Maka memperjuangkan tegaknya Khilafah bukan saja sebagai kewajiban bagi Umat Islam, namu juga kebutuhan bagi umat manusia.

“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” [Terjemah Makna Qur’an Surah (59) Al-Hasyr : 7].(*)

Penulis : Syahid Ade (Aktivis Gema Pembebasan)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here