Dewasakah HMI Diusia 73 Tahun ?

0
107
views

“Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”, Begitulah kata-kata motivasi yang sering dilontarkan atau disuarakan senior saat masuk pengurus BADKO HMI SULSELBAR, kala itu. Tentu pesan tersiratnya iyalah “hendak menekankankan pada kita bahwa usia yang panjang atau bahkan usia senja tak selamanya identik dengan kedewasaan.

Banyaknya umur seseorang bukan ukuran dari seberapa dewasa orang tersebut, sebab dewasa adalah hal yang terpisah dari persoalan manusia, begitupulah dengan kedewasaan sebuah lembaga tempat berhimpunnya para intelektual.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan sebuah Organisasi tertua dan terbesar di Negara kita ini Indonesia, dalam perjalanan lembaga ini sejak berdirinya pada Tahun 1947 telah menorehkan banyak sejarah dan mengambil peran yang sangat besar bagi kemajuan peradaban keummatan dan kebangsaan.

Sejarah membuktikan Organisasi ini telah menghasilkan kader-kader yang berkualitas dibuktikan dari banyaknya kader-kader dari rumah ini yang berhasil mengisi jabatan-jabatan strategis pada tubuh pemerintahan, baik pemerintahan daerah sampai pada tingakatan pemerintahan pusat.

Sebagi kader dari rumah ini sudah selayaknya dan sepatutnya berkontribusi terhadapnya, rumah ini telah cukup tua dan diusianya yang tak muda lagi rentan terkena kerusakan, dan tentunya sebagai kader yang lahir dari rahim intelektual rumah ini tak ingin melihat kerusakan itu terjadi.

Dalam usianya yang ke-73 Tahun Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tentu tak bisa lagi disebut sebagai organisasi yang masi mudah dan belajar, HMI telah menjadi lorong yang panjang dengan masa-masa sulit yang dilintasinya.

Didalam Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI “Insan kamil” mencakup identitas kemanusian yang tidak hanya terletak pada aspek psikologisnya.

Hanya Insan kamil saja yang mampu mengejawantahkan lima kualitas insan cita yang termaktub didalam tujuan HMI, yakni,” Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil-makmur yang diridhai allah SWT”.

Namun Faktanya hari ini HMI seakan-akan menginyakan bahwa siklus manusia jika berumur tua akan kembali seperti pola dan tingkahlaku seperti anak-anak yang berebutan kue.

Faktanya memasuki umur yang ke-73 Tahun, HMI mempertontongkan suatu dinamika yang tak pantas dikomsumsi para kadernya dan masyarakat pada umumnya.

Melihat tubuh ditataran Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) hari ini mempertontongkan dua kubuh yang saling berebutan kue, ya…hari ini dualisme kepemimpinan pengurus pusat HMI tak kunjung usai.

Alhasil akibat daripada masing-masing ego dari kedua kubu tersebut berdampak negatif terhadap prosesi perkaderan di beberapa daerah dan tentunya mencederai konsitusi lembaga ini.

Jika kedua kubuh hari ini yang saling memainkan egonya, maka tidak bisa dipungkiri diusinya yang tak muda lagi HMI akan terus mengalami kemunduran atau bahkan sampai pada fase eliminasi.

Jika kedua kubuh hari ini yang mengakibatkan adanya dualisme dan merasa cinta akan lembaga ini harusnya meredam egonya masing-masing dan mulai mengikhtiarkan sebuah rekonsiliasi untuk bagaimana kemudian dapat kembali kepada khita perjuangan dan nawaitu berdirinya himpunan ini.

Kita harus ingat pesan sastrawan jerman, Geothe yang bersabdah “kita dibentuk dan tituntut oleh apa yang kita cintai”. Artinya, bila kita mencintai HMI kita mesti siap untuk menerima konsekuensi dan tanggung jawab apapun demi kebaikan organisasi HMI.

“Sejarah diri akan membekas dan tak mampu terbawa mati selama dunia masi atas lindungan sang Ilahi”.

Yakinkan dengan iman, usahakan dengan ilmu dan sampaikan dengan amal.
Yakin usaha sampai !

Penulis : Albar (Pengurus HMI BADKO SULSELBAR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here