Kesadaran Serah Simpan Karya Cetak Karya Rekam Masih Relatif Rendah

1
42
views

Apakabarkampus.com — Kesadaran para penulis, penerbit dan institusi, termasuk Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dalam menyerahkan Karya Cetak Karya Rekam (KCKR) masih relatif rendah. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Perpustakaan Kota Makassar Drs Andi Siswanta Attas, pada kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Karya Cetak Karya Rekam (KCKR) yang diadakan di Hotel Continent Centre Poin, Jln Adhiyaksa No. 15 Makassar, Senin, 9 Maret 2020.

Sebagai gambaran, sepanjang tahun 2019, yang melakukan serah simpan KCKR masih di bawah 100 judul.

“Bahkan OPD lingkup Kota Makassar masih perlu didorong untuk menyerahkan karya cetak dan karya rekam yang mereka produksi,” ungkap Siswanta yang mewakili Walikota Makassar memberikan sambutan dan arahan.

Siswanta menjelaskan, memang menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2018 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, kewajiban serah simpan itu kepada Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Wilayah. Namun Perpustakaan Kota/Kabupaten, juga punya fungsi deposit, yakni fungsi pelestarian. Sehingga, harapannya setiap orang dan lembaga memiliki kesadaran untuk menyerahkan karya cetak dan karya rekam mereka ke Dinas Perpustakaan Kota Makassar, yang tak hanya menyimpan tapi juga mengelolanya supaya lebih dapat dimanfaatkan bagi banyak orang.

Menurut Dr Iskandar, S.Sos, MM, Kepala Unit Pengolahan Koleksi Pustakawan Madya Universitas Hasanuddin, yang tampil sebagai narasumber, posisi perpustakaan sangat strategis. Bisa dilihat dari survei tentang dari mana sumber informasi koleksi KCKR yang diperoleh, ternyata perpustakaan yang tertinggi yakni 41,67%, disusul media sosial 23,15%, website penerbit 18,52% dan informasi lain 16,67%.

Dalam pertemuan ini ditekankan bahwa perpustakaan bukan hanya menyimpan tapi juga menghimpun dan mengelola KCKR, baik pada lingkup OPD, penulis dan penerbit maupun lembaga non pemerintah. Dinas Perpustakaan Kota Makassar, termasuk OPD di Kota Makassar yang aktif dan memiliki beberapa inovasi yang diakui secara nasional.

Pada kesempatan itu juga diserahkan buku-buku dari penulis, antara lain Prof. Ahmad M. Sewang, Prof. Hamdan Arrayia,

Kegiatan ini dihadiri oleh Drs Muhyiddin, MM Sekertaris Dinas Perpustakaan Kota Makassar, Indra Hartati, SE. MM, Kabid Pengembangan Koleksi dan Pemeliharaan Pustaka, Amran Kuddus, Kabid Pengembangan Perpustakaan, dan M Fadli, Kabid Layanan.

Peserta FGD berjumlah sekira 100an orang. Sejumlah penulis hadir di antaranya Yusdhitira Sukatanya, Bahar Merdu, Aslan Abidin, Alfian Dippahatang, Rusdin Tompo, Madia Gaddafi, Nasrul Djakariah, Dr Asniar Khumas dan Dr Fadli Andi Natsif. Para penulis ini berasal dari berbagai lembaga dan komunitas seperti Forum Lingkar Pena ( FLP), Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) dan Komunitas Puisi (KoPi) Makassar.(*)

1 KOMENTAR

  1. Penulis lokal Sulawesi Selatan sebenarnya banyak dan juga semakin kreatif dalam membuat sebuah karya begitu pula karya rekam. Perkembangan tentu didukung oleh kemajuan teknologi saat ini. Namun yang jadi masalah adalah wadah untuk menyimpan karya tersebut yang masih kurang dipahami. Sangat bersyukur ketika dilalukan kegiatan seperti ini setidaknya bisa menjadi penyambung informasi kepada penulis lainnya yang tak berkesemptan untuk mengikutinya. Mungkin kegiatan seperti ini perlu dilaksanakan lagi pada komunitas penulis dan penerbit. Agar kita lebih paham lagi dalam menghasilkan sebuah karya tulis dengan mengetahui aturan penerbita, dan menjadi masukan dalam membuat karya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here