Buku Dan Perempuan

0
74
views

Apakabarkampus.com – Telah diperingati Hari buku Sedunia, namun di tulisan saya kali ini tidak akan banyak mengulas persoalan buku secara umum. Sebab sudah banyak yang mengulas terkait itu.

Ringkasnya sesuai judul, yang penulis akan tekankan pada tulisan ini ialah hubungan perempuan dengan buku.

Apa pentingnya perempuan membaca buku?

Seyogianya, aktivitas membaca buku tidaklah membatasi jenis kelamin. Perempuan ataupun laki-laki penting merutinkan diri membaca buku.

Hanya perlu kembali menekankan, kalimat lazim yang biasa kita dengar, “perempuan adalah madrasah pertama bagi keluarga.”

Berarti, untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak, perempuan memiliki tanggungjawab yang lebih besar dalam hal kecerdasan anak yang diketahui cenderung merupakan turunan dari ibu.

Tentu, perempuan yang akan menyandang predikat sebagai ibu haruslah cerdas lebih dulu. Tanpa membaca buku, kecerdasan seseorang tidak mungkin ada apalagi berkembang. Meskipun ada kecerdasan bawaan sejak lahir, lingkungan sangatlah berpengaruh.

Itulah mengapa perempuan dituntut untuk mengelola, melatih dan mengembangkan akal sehatnya dengan rutin membaca buku. Dengan membaca, seorang perempuan akan berwawasan luas, mampu menganalisa baik-baik permasalahan sehingga lebih mudah untuk memecahkannya, bersikap lebih bijaksana menghadapi masalah sosial, penguasaan kosakata akan lebih banyak dan gaya tutur bahasa akan lebih teratur, sehingga perempuan yang membaca akan lebih bisa menjaga silat lidahnya serta mengelola emosionalnya.

Sementara, realita yang terjadi hari ini, mayoritas perempuan menganggap remeh temeh pentingnya memiliki buku dan aktivitas membaca buku itu sendiri.

Di era sekarang, anggapan bahwa tidak penting memiliki buku semakin nampak nyata. Toh bagi perempuan kekinian, buku tidak akan mampu mempercantik wajah. Bisa dipastikan, tidak jarang isi tas perempuan hanyalah handphone dan alat make-up. Buku dianggapnya berat untuk dibawa bahkan sengaja memakai tas yang untuk memuat satu buku pun tidak bisa.

Barangkali sudah diadopsi menjadi kebiasaan, bahwa lebih baik memiliki perangkat make-up dan lebih meng-eup to date-kan pakaian dibanding harus membeli buku-buku.

Baginya pula, tempat buku hanyalah di perpustakaan, di toko buku atau di ruang perkuliahan saja. Jangan heran jika perempuan yang membawa-bawa buku saat bepergian mendapat pandangan yang miris, dianggap hal yang kurang lazim bahkan ditakar macam-macam.

Alih-alih sebagian dari kita telah memiliki setumpuk buku, tetapi untuk menamatkan satu buku saja sangatlah berat sebelah dibanding berlama-lama membaca status di media sosial. Oleh sebab itu, kerapkali buku-buku di raknya luput dari perhatian, hanya tinggal berdebu dan dimakan rayap.

Semestinya kita berkaca pada tokoh-tokoh besar yang sangat menghargai keberadaan buku, bahkan memperlakukan buku layaknya emas. Seperti BJ Habibie yang memiliki perpustakaan megah.

Karena bagi BJ Habibie, buku sudah menjadi cinta pertamanya. Awalnya hanya lewat bacaan buku fiksi yang bercerita tentang petualangan naik balon udara hingga menjadikan seorang Habibie bercita-cita membuat pesawat terbang sendiri.

Selain itu dikenal pula R.A Kartini, sosok perempuan yang juga menggilai buku. Masa pingitannya ia habiskan dengan membaca buku-buku kiriman saudara laki-lakinya dan pemberian ayahnya. Berkat kelihaiannya mengkaji buku demi buku, ia mampu menuliskan gagasan berbobotnya.

Masihkah kita mau menyangkal atau pura-pura tidak sadar? Barangkali memang hanya setengah sadar. Berapa banyak buku yang kamu beli selama 3 bulan terakhir ini, dibanding membeli skincare tiap bulan yang harganya tiga kali lipat lebih mahal dari buku-buku.

Berapa banyak koleksi pakaian modernis yang kamu miliki dibanding koleksi genre buku di rak-rak bukumu? Berapa lama waktumu kau salurkan untuk membaca buku dalam sehari dibanding aktivitas dunia mayamu di sosialmedia?

Cobalah kita merenung sebentar saja, tidak ada kata terlambat bila kita hendak berbenah setelah merenungkan pertanyaan-pertanyan penulis. Seperti yang dikatakan Najwa Shihab, “… Hanya perlu satu buku untuk jatuh cinta pada buku.”

Dengan demikian, untuk pembaca pemula supaya tidak menganggap aktivitas membaca adalah hal yang membosankan, perlulah mencari bacaan buku yang ringan diterima nalar seperti novel dan cerpen, atau paling tidak komik. Intinya membaca saja dulu, buku apapun yang membuatmu tertarik.

Bagi pembaca yang masih sulit memahami buku genre favoritnya, sebaiknya bisa lebih mensistematiskan bacaan sehingga kerangka berpikir lebih teratur dan penguasaan setelah membaca buku semakin meningkat.

Selanjutnya, bagi pembaca buku yang sudah mumpuni di bidangnya, diharapkan sudi menkorelasikan buku-buku yang telah dibacanya lalu menuliskannya mewujud karya buku. Sehingga menambah kontribusi atau stok buku di tanah air dan akan lebih beragam lagi.

Dan yang tak kalah penting, bagi perempuan disarankan agar menyeimbangkan kecantikan fisik dan akalnya. Satu-satunya cara terbaik mempercantik akal ialah rutin membaca buku.

Penulis : Susi Susanti (Mahasiswa PPKn FIS UNM, perempuan yang memiliki harapan bisa mengabadi lewat tulisan-tulisannya dan bisa segera membukukan karya.)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here