Ekonomi Masyarakat Di Tengah Covid-19

0
36
views

Apakabarkampus.com – Bangsa hari ini tengah disibukkan dengan penanganan covid-19.

Pandemi corona ini awalnya berasal dari China dan masuk ke Indonesia.

Pemerintah pertama kali mengumumkan pada tanggal 2 Mei 2020. Bahwa sudah ada korban di Indonesia akibat virus ini.

Virus ini sungguh mengakibatkan begitu banyak korban yang meninggal, kehilangan pekerjaan, pemasukan yang tidak lagi cukup untuk menghidupi keluarga.

Saya (penulis) hari ini dihubungi tetangga di kampung di Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan via telepon. Namanya DG Siraj. Bapak beranak dua ini menyampaikan keluh kesahnya akibat Covid-19 (Corona virus Desember 2019).

Tetangga saya ini sangat sedih dan bingung harus menghidupi keluarganya dengan apa. Sebab selama ini, Bapak ini hanya bergantung dari hasil kebun jagungnya saja, tapi hasil taninya kali ini tidak ada yang mau membelinya.

Adapun alasan kenapa para pedangang tidak membeli jagunya, karena perusahaan-perusahaan jagung di kota-kota besar tutup semua.

Akibatnya, jagung-jagung yang sudah dipanen berakhir dengan keadaan rusak tak berguna. Sebab sebagian besar biji jagung itu mulai tumbuh dan berkecambah di tongkolnya. Sementara yang lainnya semakin hari semakin hitam dan terus rusak penampakannya.

“Le’ba’mi kusappe ba’dokku ndi’ attimbomi pole ka sallomi ammanttang lampa tenapa ambilli i, ia ngaseng pata baddo kinne mae singkammaji,” terang DG Siraj, lewat telepon menggunakan bahasa Bantaeng yang kurang lebih sama dengan bahasa Makassar.

Arti bahasa dalam Indonesia: (Jagung saya sudah kami panen dik, tapi jagung-jagung itu sekarang malah tumbuh di tempat penyimpanannya karena sudah terlalu lama disimpan, sementara tidak ada yang mau datang membelinya. Para petani jagung di sini, semua bernasib sama).

Jagung-jagung yang terus rusak dipengeringan

Penulis sempat berpikir, bagaimanalah mereka para petani jagung yang punya anak banyak, apalagi kalau ada yang sedang dikuliahkan. Bagaimna para petani ini bisa membiayai sekolah anaknya sedangkan hasil taninya tidak terbeli.

Bahkan untuk menjaga kompor agar tetap menyala saja sudah susah, apalagi kalau harus membayar uang kuliah anaknya dan membelikan anaknya kuota internet, karena sekarang siswa(i) dan mahasiswa(i) semuanya belajar via online.

Entah di mana peran pemerintah dalam hal ini untuk para petani kecil yang ada di daerah.

Semoga pemerintah bisa tetap mempedulikan ekonomi masyarakat agar tidak ada lagi yang meninggal karena kelaparan seperti pemberitaan di media, tempo hari bahwa ada ibu-ibu yang meninggal karna kelaparan.

Bahkan di Jeneponto ada seorang ibu paruh baya yang tak segan menenggak racun karena kaget dengan kekacauan ekonomi akibat corona. (Buruhtinta.com)

Ibu itu takut mati kelaparan karena tak mampu membiayai anak-anaknya, sehingga tanpa pikir panjang dia relakan nyawanya sebagai garansi pahitnya hidup.(*)

Penulis : Sukrianto (Ketua BEM FEB Unismuh Makassar)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here