Krisis Pangan Boleh, Krisis Motivasi Jangan (Konstruksi Sosiologis ditengah Pandemi Covid-19)

0
287
views

Oleh : Widya Thamrin*

Apakabarkampus.com — Melihat kondisi yang begitu pelik yang di alami negara Indonesia termasuk beberapa negara di dunia saat ini, dimana corona virus telah menyerang sendi-sendi kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. Sangat miris dalam kondisi seperti ini setiap harinya masyarakat bukan mendapatkan berita baik justru terus menerus mendapatkan kabar buruk mengenai polemik pandemi covid-19 dan biasnya pada kelangsungan hidup.

Hal lain yang di alami masyarakat pada hari ini adalah krisis bahan pangan yang kita ketahui bahan pangan ini merupakan harapan bertahan hidup serta melangsungkan hidup masyarakat.

Sampai hari ini sebagian besar masyarakat sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan bertahan hidupnya karena himbauan dari pemerintah untuk tetap di rumah dengan bentuk kebijakan pembatasan sosial berskala kecil hingga berskala besar (PSBB) sebagai upaya pemutusan mata rantai penyebaran virus corona. Masyarakat tidak bisa memilih lagi untuk senang dan susah masing-masing kita mengalami hal yg sama yaitu krisis pangan dan aspek lainnya sebagai penopang keberlangsungan hidup manusia.

Ada satu hal lagi yang paling perlu ditengah masa sulit dan genting ini yaitu langkah saling menguatkan atau motivasi baik sesama masyarakat maupun pemerintah dengan masyarakat.

Kita pahami bersama bahwa motivasi itu sangat perlu dalam setiap sendi kehidupan manusia, karena tanpa motivasi manusia tidak akan mampu membangun dan merangsang semangatnya untuk bangkit atau mencapai sesuatu yang diinginkannya.

Studi-studi tentang motivasi sebenarnya telah lama dikumandangkan dari para pemikir-pemikir Eropa. Dimana Sejarah pengembangan motivasi ini sebenarnya bisa di telusuri jauh lewat tulisan para filsuf Yunani Kuno. Pada tataran pengetahuan mereka menyumbangkan suatu pemikiran hedonisme sebagai suatu usaha untuk menjelaskan motivasi. Konsep hedonisme ini menyatakan bahwa seseorang itu mempunyai kecenderungan mencari keenakan dan kesenangan, menghindari ketidakenakan dan kesusahan.

Di tengah pandemi Corona atau Covid-19, Indonesia diprediksi bakal menghadapi tantangan dalam memenuhi pasokan pangan. Pasalnya, produksi kebutuhan pangan di dalam negeri bakal turun dan tidak mencapai target. Salah satunya pemerintah diminta waspada karena produksi beras pada masa tanam kuartal I yang panen di April 2020 nanti bakal turun. Dengan demikian, berpotensi mengganggu cadangan beras. Menurut pantauan lapangan PTPN VIII, produksi padi petani turun dari rata-rata sekitar 5-6 ton per hektare menjadi 3-3,5 ton per hektare. Ini baru pantauan untuk beras, lalu apa kabar bahan pangan lainnya?

Untuk mencegah hal ini ada berbagai upaya yang menjadi pilihan pemerintah dan rakyat. Diantaranya upaya yang dilakukan oleh Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) dengan menjadi pusat pengumpulan beras kaum tani untuk disebar ditengah masa sulit pandemi covid-19.

Upaya lain yang penulis nilai sebagai upaya yang sangat efektif adalah langkah barter beras dan ikan dari masyarakat tani dengan nelayan. Hal-hal ini adalah langkah penguatan (motivasi) dengan gerakan meskipun disisi lain motivasi dengan kata juga itu perlu.

Untuk mempertahankan semangat masyarakat agar tetap bertahan hidup maka kita memerlukan motivasi. Motivasi berperan penting dikondisi saat ini, karena seperti kita ketahui isi dari setiap tindakan adalah bersumber pada motivasi. Motivasi melekat pada tindakan (aktor), maka dari itu tindakan sangat dekat dengan motivasi. Kita juga dapat melihat sampai hari ini banyak organisasi yang bergerak untuk membantu rakyat, Istilah yang tak asing lagi kita dengar adalah “RAKYAT MEMBANTU RAKYAT”. Disisi lain Ada juga dari para pemerintah dalam bentuk blt dan sembako, namun masih banyak rakyat yang tak mendapatkan haknya.

Ketika ditelisik lebih dalam kondisi saat ini menyerang seluruh masyarakat terutama pada bidang ekonomi, tetapi pada faktanya bantuan yang disalurkan bersumber dari data yang tidak akurat, hanya melalui penafsiran yang berujung pada ketidaksesuain spirit bantuan dengan implementasinya.

Gerak yang dilakukan setiap organisasi atas nama rakyat ini bertujuan bagaimana untuk membuat masyarakat merasakan kondisi berkecukupan dalam kebutuhan sehari-harinya ditengah pandemi, sebagai manusia yang belajar bagaimana mengubah penderitaan menjadi harapan untuk kemudian hari. Mungkin, kondisi sekarang adalah titik kehancuran. Jadi sebagian masyarakat membuat langkah taktis dan solutif, salah satunya gerak kemanusiaan dengan mengumpulkan bantuan (donasi) lalu disalurkan kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan.

Gerak yang dilakukan ini memliki motivasi yang kuat atau dorongan bagaimana seseorang atau kelompok berprilaku. Kebutuhan ini (motivasi) tentunya di miliki oleh setiap masyarakat. Setiap individu atau kelompok memiliki varian motivasi. Gerak-gerak kemanusiaan yang di lakukan ini tentunya tidak mengharapkan balasan, karena melihat masyarakat bangkit merupakan mimpi kita sebagai manusia yang hidup dalam struktur masyarakat majemuk.

Sebagai masyarakat kita harus yakin bahwa covid-19 ini akan segera berakhir. Serta berharap kondisi ini memiliki banyak pelajaran serta makna. Kekuatan kita adalah ketika masyarakat tidak panik dalam kesulitan-kesulitan seperti ini. Labelisasi kehidupan berkelompok adalah kekuatan untuk saling tolong menolong (Al maidah : 2). Tegasnya kita tidak akan mati karena kekurangan bahan pangan diatas implementasi nilai-nilai kemanusiaan. Harapannya adalah kuatkan iman, imun, dan jaga kebersihan. Saya yakin semua akan kembali normal, semua akan pulih kembali dan kondisi ini akan berakhir. (*)

*Penulis : Widya Thamrin
(Mahasiswi Sosiologi FIS UNM Angk 19)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here