RUU HIP, Angin Segar Bagi PKI?

0
21
views

Oleh: Ma’arif Amiruddin

Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila atau disingkat RUU HIP yang diusulkan oleh fraksi PDIP menuai kontroversi ditengah-tengah masyarakat. RUU ini dianggap dapat membuka jalan mulus bagi kebangkitan ideologi terlarang di Indonesia, juga berpotensi mengobok-obok pancasila yang merupakan nilai-nilai dasar negara Indonesia.

Hal pertama yang menjanggal adalah dalam RUU tersebut tidak mencantumkan TAP MPRS No. XXV tahun 1966 tentang pelarangan Partai Komunis Indonesia dan ajaran Komunisme, Marxisme, Leninisme. Padahal, dalam pembuatan UU yang terkait ideologi seharusnya dicantumkan konsideran tentang ideologi yang terlarang.

Menurut anggota DPR dari Fraksi PKS, Aboe Bakar Alhabsy ketiadaan TAP MPRS soal larangan komunisme sebagai salah satu konsideran RUU HIP menimbulkan pertanyaan.

“Masyarakat kemudian akan melihat, seolah ada upaya pengaburan sejarah bahwa komunisme merupakan musuh dari ideologi Pancasila,” kata dia. (kompas.com).

Sebagaimana yang kita ketahui, komunisme adalah ajaran terlarang di Indonesia, sejarah telah mencatat bahwa ideologi komunis ini pernah melakukan tindak kekerasan hingga pembunuhan dan pembantaian demi merebut kekuasaan.

Dasar ideologi ini diletakkan oleh dua anak muda, Karl Marx (30) dan Friedrich Engels (28), dalam buku Manifesto Komunis (1848). Tujuan ideologinya, “Merebut kekuasaan dengan kekerasan, menggulingkan seluruh kekuatan sosial yang ada.” Tujuan ideologi yang digariskan pada abad 19 itu tetap berlaku, tidak pernah diralat sampai abad 21 ini. (republika.co.id).

Ideologi komunis menganggap bahwa manusia dan alam semesta berasal dari benturan materi yang berevolusi dan menafikkan eksistensi adanya Pencipta Alam Semesta, dengan kata lain ideologi ini tidak mempercayai adanya Tuhan. Tentu ini sangat bertentangan dengan apa yang dipercayai oleh umat Islam, kita meyakini bahwa ALLAH swt. adalah Pencipta Alam Semesta berserta segala isinya, Dia-lah yang mengatur kehidupan manusia dan manusia kelak akan dikembalikan kepada-Nya.

Kembali ke pembahasan awal, dalam RUU HIP ini juga ada upaya memeras Pancasila menjadi Trisila dan Ekasila. Hal ini menuai kritik keras dari majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Konsep yang mereka usung dalam RUU ini sudah jelas sangat-sangat sekuler dan ateistik serta benar-benar sudah sangat jauh menyimpang dari kesepakatan yang pernah dibuat oleh para The Founding Fathers kita dahulu ketika mereka membentuk dan mendirikan bangsa dan negara ini,” kata Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas melalui keterangan tertulis yang kami kutip dari Kompas.com.

Konsep trisila dinilai Sekjen MUI ini sebagai degradasi konsep ketuhanan yang harus tunduk kepada manusia. Sebab, konsep Ketuhanan Yang Maha Esa yang dicantumkan dalam RUU HIP adalah konsep ketuhanan yang berkebudayaan. Padahal, makhluk yang berkebudayaan itu adalah hanya manusia.(kompas.com).

Oleh sebab itu, MUI dengan tegas menolak RUU HIP dibahas apalagi sampai disetujui. Tidak hanya MUI, berbagai kelompok dari kalangan umat Islam juga ikut menyamakan suara menolak RUU HIP.

Haluan Masyarakat

Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sebenarnya telah memiliki pedoman dan konsep yang baku dalam menjalankan aktivitas kesehariannya. Baik untuk urusan masuk kamar mandi, hingga urusan perpolitikan yang mengatur hajat hidup orang banyak, juga dalam hal politik luar negri, Islam telah memiliki parameter langkah-langkah yang harus dilakukan. Jadi, tinggal dijalankan saja.

ALLAH swt. telah menyempurnakan agama Islam, sehingga seharusnya masyarakat disibukkan menjalani perkara-perkara yang berada dalam lingkaran garis ketetapan, tidak sibuk keluar dari garis untuk mencari-cari dan merumuskan hal-hal yang sebenarnya telah dirumuskan.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagi kalian dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian (TQS al-Maidah [5]: 3).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini; “Ini merupakan nikmat ALLAH yang paling besar kepada umat ini karena ALLAH telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka. Mereka tidak memerlukan lagi agama yang lain.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/22).

So, kembalilah kepadan Islam, patuh dan tunduk hanya kepada Pencipta. Maka hidup Anda akan bahagia, insya ALLAH.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here