Rindu Pemimpin yang Cinta Rakyat

0
20
views

Oleh: Ma’arif Amiruddin
Founder Pajokka Event

Pada tanggal 3 Maret 1924 terjadi sebuah peristiwa besar yang memilukan, yakni runtuhnya Khilafah Islamiyah yang saat itu berpusat di Turki. Adalah Mustafa Kemal at-Taturk laknatuLlah yang merupakan antek penjajah Inggris dan juga keturunan Yahudi yang menjadi biang keladi runtuhnya perisai ummat Islam tersebut.

Ya, Khilafah adalah sebuah perisai bagi umat Islam sebagaimama yang disabdakan oleh Rasulullah saw. dalam hadits riwayat Muttafaqun ‘alaih, “Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada ALLAH ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.”

Kehadiran Khilafah merupakan hal yang sangat penting bagi umat Islam, Khilafah merupakan kewajiban yang sangat mendesak. Sebagaimana kesepakatan para Sahabat yang lebih mendahulukan mencari penggati Rasulullah setelah wafatnya ketimbang mengurusi jenazah beliau saw.

Kewajiban mendirikan Khilafah juga dipertegas oleh Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, beliau menyatakan dengan tegas, “Mereka (para ulama) telah bersepakat bahwa wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang khalifah (menegakkan Khilafah, red.). Kewajiban ini berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal.”

Saking pentingnya kehadiran Khilafah sampai-sampai Imam Ibnu al-Mubarak rahimahulLah mengatakan bahwa jalanan tidak akan aman tanpa kehadirannya (Khilafah).

“Kalau bukan karena Khilafah, niscaya tak aman jalanan bagi kita, dan orang-orang lemah di antara kita dalam cengkeraman orang-orang kuat.” (‘Ashim an-Namri al-Qurthubi, Bahjah al-Majalis, 1/71).

Fakta saat ini menunjukkan betapa rapuhnya umat Islam tanpa Khilafah, lihatlah masyarakat muslim yang ada di Palestina, Myanmar, China dan lain sebagainya yang kian hari kian memprihatinkan, mereka dibantai dengan sangat brutal. Para penjajah tidak lagi melihat apakah itu wanita, anak-anak ataukah orang tua, semua dihabisi tanpa belas kasih.

Belum lagi persoalan corona yang kian menjalar ditengah-tengah masyarakat, hingga saat ini (8/7) kasus yang terkonfirmasi mencapai 66.226 dan total yang meninggal dunia sebanyak 3.309 orang.

Hal ini menunjukkan kegagalan sistem kapitalis dunia dalam menanggulangi wabah. Lantas, masihkah kita menaruh harapan pada sistem ini?

Berbeda saat sistem Islam yang memimpin dunia, kegemilangan dan tinta emas kerap ditorehkan dalam perjalanannya, sumbangsih dan kontribusi positif menjamur dimana-mana, hingga dinikmati oleh makhluk-makhluk yang hidup di atas permukaan dunia.

Will Durant, dalam The Story of Civilization, vol. XIII, hal 151 menyampaikan: “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas, dimana fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.”

Jika kita melihat Khalifah terdahulu, tentu banyak pelajaran yang dapat diambil, seperti dalam pidato Khalifah pertama umat Islam yakni Abu Bakar as-Shiddiq ra.

“Hai saudara-saudara! Kalian telah membaiat saya sebagai khalifah (kepala negara). Sesungguhnya saya tidaklah lebih baik dari pada kalian. Oleh karenanya, apabila saya berbuat baik, maka tolong dan bantulah saya dalam kebaikan itu; tetapi apabila saya berbuat kesalahan, maka nasihatilah saya. Taatlah kalian kepada saya selama saya taat kepada ALLAH Swt dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian mentaati saya, apabila saya berbuat maksiat pada ALLAH Swt dan Rasul-Nya.” (lihat Abdul Aziz Al Badri, Al Islam bainal Ulama wal Hukkam).

Pidato tersebut menunjukkan tidak adanya kesombongan pada diri Khalifat pertama tersebut, padahal dia adalah pemimpin kaum muslimin seluruh dunia. Beliau bahkan melarang orang-orang untuk taat kepadanya jika ia melanggar atau bermaksiat kepada ALLAH swt.

Sosok pemimpin seperti inilah yang kita rindukan, pemimpin yang memuliakan hukum-hukum ALLAH, pemimpin yang menempatkan ALLAH diatas segalanya. Pemimpin yang cinta kepada rakyatnya dan rakyat pun cinta kepadanya. Bukan malah pemimpin yang mencekik rakyat di tengah wabah, menyetrum rakyat di tengah krisis dan memperkosa hak rakyat akan layanan kesehatan gratis di tengah banjir PHK.

Semoga ALLAH menyelamatkan kita dari pemimpin-pemimpin buruk lagi dzalim, dan semoga ALLAH menyegerakan hadirnya kembali Khalifah yang mencintai rakyatnya serta berhukum hanya berdasar apa yang dibawa oleh Rasulullah saw.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here