Peran Polri Selama Pandemi Covid-19

0
18
views

Oleh : Rusdin Tompo *

Apakabarkampus.com — Jajaran Kepolisian Republik Indonesia (Polri), boleh dikata, paling konkret –dalam makna harfiah– melawan pandemi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19). Mulai dari kedudukan Polri dalam Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 hingga maklumat yang dikeluarkan Kapolri, Jenderal Pol. Idham Azis, agar persebaran virus yang bermula dari Wuhan, Tiongkok, itu tak meluas dan mengganggu kamtibmas. Dalam kaitan ini, Polri berpedoman pada asas keselamatan rakyat harus menjadi hukum tertinggi atau salus populi suprema lex esto. Karena itu, maklumat bernomor Mak/2/III/2020 ini dibuat demi dan untuk keselamatan dan kebaikan rakyat.

Tak ayal apabila kepolisian, dan juga TNI serta para medis, berada di garda terdepan dalam melakukan upaya-upaya pencegahan. Kepolisian bahkan tak cuma melakukan langkah-langkah preventif dan preemtive, tapi juga represif sesuai kewenangannya. Sikap tegas dengan memberikan sanksi atau hukuman diperlukan agar warga tak melakukan dan mengulang pelanggaran. Efek jera ini diharapkan akan menjadi contoh bagi yang lain agar mereka patuh. Langkah edukasi juga dilakukan Polri dengan menggerakkan masyarakat melalui program pemberdayaan “Kampung Tangguh” yang dikembangkan bersama stakeholder terkait sebagai wujud koordinasi dan kerja sama lintas sektor.

Kekompakan Polri-TNI

Sebagai institusi negara, Polri memiliki doktrin yang sejatinya melekat kuat di hati aparatnya, yakni Tribrata Polri. Tribrata merupakan tiga asas kewajiban yang menjadi nilai dasar, pedoman moral dan panduan nurani bagi setiap anggota Polri. Salah satu poinnya adalah senantiasa melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat dengan keikhlasan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban. Tentu ini merupakan teks yang disusun secara cermat dengan visi yang melampaui zamannya.

Teks Tribrata ini begitu nyata ketika diterjemahkan sesuai konteks peristiwa pandemi Covid-19, yang mulai merebak di Tanah Air sejak awal Maret 2020. Dalam berbagai pemberitaan, foto-foto dan video-video yang beredar luas di media sosial, kita bisa melihat bagaimana anggota Polri, terutama Bhabinkantibmas, melakukan kunjungan door to door, membagikan brosur atau menempelkan stiker di rumah-rumah warga dan tempat umum. Melalui media KIE (komunikasi, informasi, edukasi) itu mereka turun langsung ke masyarakat untuk mengingatkan bahaya virus sembari melakukan penyemprotan disinfektan di berbagai area dan kawasan. Ikhtiar memang harus terus dilakukan karena, per 1 Juli 2020, terkonfirmasi positif Corona mencapai 56.385 kasus, dengan korban meninggal sebanyak 2.876 orang, dan sembuh tercatat sebanyak 24.806 orang.

Dalam sejumlah pemberitaan, anggota Polri dan TNI, tanpa kenal lelah menyambangi kompleks perumahan, kampung-kampung, hingga pelosok-pelosok desa di seluruh Indonesia. Anggota Bhabinkantibmas bersama Babinsa tak jarang membawa sendiri pelantang suara akibat keterbatasan sarana. Ada yang malah berboncengan sambil memikul pengeras suara, sebagaimana dilakukan Bhabinkantibmas Kelurahan Larangan, Polsek Seltim, Polres Cirebon Kota, Aiptu Sumardiyono, dan Babinsa Koramil 1402 Harjamukti, Serda Feri Suswanto. Potret kekompakan Polri-TNI sangat tampak dalam melawan Covid-19.

Kampung Tangguh Polda Sulsel

Pendekatan humanis yang dilakukan Polri, termasuk TNI, bahkan kerap kali membuat kita trenyuh. Bagaimana tidak, akibat kebijakan pembatasan sosial, sehingga orang-orang dirumahkan, telah memukul sendi perekonomian masyarakat. Dalam kondisi begini, Polri dan TNI bergerak cepat menyalurkan bantuan sembako tak hanya di kota tapi juga ke wilayah-wilayah dengan kondisi alam penuh tantangan. Mereka juga membuka dapur umum untuk mendukung kebutuhan makanan pekerja medis dan masyarakat yang terdampak Covid-19.

Selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Polri terlihat sangat dinamis memainkan diskresi kewenangannya di lapangan. Kadang mereka persuasif-edukatif ketika menemukan ada warga yang tidak mengenakan masker dengan memberikan peringatan sekaligus membagikan masker bagi yang belum punya. Tapi Polri juga tak segan-segan menindak para pelanggar, sebagai langkah preventif maupun represif. Misalnya, ketika ada kerumunan yang ditengarai melanggar social distancing dan physical distancing, dengan tegas dibubarkan.

Tindakan tegas juga dilakukan terhadap mereka yang mengadang mobil ambulance ketika tengah membawa jenazah ke lokasi pemakaman. Termasuk terhadap orang-orang yang mengambil atau menjemput paksa jenazah keluarganya di rumah sakit, tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Apalagi para penyebar hoaks, yang bermaksud menimbulkan kepanikan di masyarakat, sudah pasti akan menjalani proses hukum karena jelas berdampak terhadap keamanan dan ketertiban, yang menjadi tupoksi Polri. Sekadar informasi, sebaran berita menyesatkan terkait hoaks hingga awal Mei 2020 saja, tercatat di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia, sebanyak lebih dari 1.400 konten. Kasus-kasus yang bertalian dengan penolakan rapid test massal, bisa dipastikan punya hubungan dengan hoaks yang berseliweran di medsos.

Kini, setelah pelonggaran dilakukan dan sebagai bentuk adaptasi new normal (kenormalan baru), Polri melakukan inovasi dengan menggerakkan masyarakat secara partisipatif. Polri mengembangkan Kampung Tangguh di setiap Polres hingga Polsek dalam upaya pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat. Di jajaran Polda Sulsel, Kampung Tangguh ini menggunakan idiom lokal “rewako” dan “ewako” sebagai pendekatan budaya agar lebih dekat dan selaras dengan jiwa masyarakat Sulawesi Selatan.

Semangat “melawan” ini semacam energi positif yang hendak ditularkan Polda Sulsel agar masyarakat mampu mengelola dan mengonversi potensi yang dimiliki menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Pendirian posko Kampung Tangguh (“Kampung Rewako” atau “Balla Ewako”) ini mengusung semangat komunal dan kegotongroyongan yang sudah hidup lama dalam masyarakat Indonesia. Di kampung-kampung tangguh itu dikembangkan beragam aktivitas ekonomi mulai dari pengadaan kolam ikan, kebun sayur, beternak ayam, dan lain sebagainya, yang bisa membantu kebutuhan sehari-hari masyarakat. Momentun kehadiran Kampung Tangguh ini sejalan dengan tema Hari Bhayangkara ke-74: Kamtibmas Kondusif, Masyarakat Semakin Produktif”.(*)

*penulis : Rusdin Tompo (Penulis/Editor Buku)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here